Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 November 2010

Sempurna

Manusia hidup diciptakan sempurna dalam ketaksempurnaan. Ada di antara ketiadaan. Terkadang mereka tak sadar bahwa mereka sempurna. Mereka tak mau menyadari apa yang diberikan kepada mereka adalah sesuatu yang terbaik. Yang diberikan kepada mereka adalah keistimewaan yang tiada dimiliki orang lain. Yang dimiliki adalah anugrah dan keistimewaan yang tak tergantikan. Perlukah sebuah kejadian yang luar biasa agar mereka sadar bahwa mereka merasa sempurna. Bukankah kejadian yang biasa adalah sesuatu yang luar biasa yang sudah cukup menjadi bukti kesempurnaan bagi mereka. Bukankah setiap kejadian pada keseharian akan membawa potongan-potongan yang membawa kesempurnaan.

Selalu saja kesempurnaan itu menjadi sesuatu yang dicari dan diperebutkan dengan berbagai cara. Mengaku bahwa tak sempurna adalah cara yang mereka tunjukkan mencari kesempurnaan. Mereka berlomba mengaku tak sempurna dengan berbagai cara. Menggadaikan kesempurnaan mereka dengan mengaku belum sempurna dengan sempurna. Mereka disetujui dan didanai dengan sempurna. Wah sebuah cara yang sempurna untuk menjadikan ketaksempurnaan adalah tujuan hidup yang sempurna.

Dan mereka mengaku tak sempurna untuk menghindar dari sebuah tanggung jawab dari kesempurnnaan. Melarikan diri dari sebuah kewajiban yang harus diemban. Bahwa setiap makhluk hidup adalah bermanfaat bagi yang lain. Karena sesungguhnya “sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain” dan memberikan kebaikan sebanyak-banyaknya bukan menerima kebaikan sebanyak-banyaknya.

Aku bertanya pada diriku sendiri.. kemana kesempurnaanmu diriku??


(Mahdi Fathurrahman)

Mati Untuk Hidup

Mati untuk Hidup
Hidup adalah sebuah jalan yang entah sampai kapan akan berakhir.
Kita selalu dekat sebuah kematian.
Tak perlu dipanggil dia akan datang, tak perlu dijemput dia mendekat, dan tak perlu dicari karena dia akan ditemukan.

Banyak sekali jalan yang ditempuh kehidupan.
Hidup bisa memilih jalan yang lurus, berkelok, berbatu, rusak, ataupun jalan yang mulus.
Hidup-pun bisa menentukan cara yang digunakan untuk menempuh jalan yang dipilih itu.
Banyak hidup yang memilih jalan yang lurus dengan tongkat yang berat dan rusak, ada yang memilih jalan berkelok dengan lurus, tak sedikit pula memilih jalan yang mulus dengan hati yang tak tulus.
Entah bagaimana cara memilih jalan yang benar.
Terkadang di jalan yang tepat namun gunakan cara yang sesat.

Banyak hidup yang tak tahu kenapa dia ada.
Banyak yang mengabaikan kewajiban akan kehidupannya.
Ada yang menikmati hidup seolah selamanya.
Tak kurang hidup yang mengakhiri tanpa tahu untuk apa dengan kematiannya.

Bukan pada hidup yang indah
Bukan pada awal yang bahagia
Bukan pada asal kehidupan
Bukan pula pada jenis kehidupan
Tapi pada sebuah kehidupan
Hidup setelah kematian
Datang dan menjemput
Yang ditemukan tanpa dicari
Mendekat dengan cepat, tepat, dan akurat
Hingga semua tahu bahwa hidup adalah awal sebuah kematian untuk hidup selamanya.


(Mahdi Fathurrahman)