Tampilkan postingan dengan label kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kehidupan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Mei 2014

Kamis, 01 Mei 2014

Otak Kreatif Anak (Manusia) tidak datang tiba-tiba


Dari akun @anakjugamanusia. Yani Widianto mengumpulkan kicauan dengan #otakkreatif

Ada beberapa hal yg seringkali ditanyakan oleh, rekan2 dari Dunia Usaha, Pendidik, Guru & Ortu. Seperti “Kenapa ya kok Karyawanku ini sulit diajak Kreatif ya?”
“kenapa ya, sulit sekali mencari karyawan yg kreatif?”
“kenapa ya, memberikan Bonus, Tunjangan / tambahan Penghasilan seringkali tdk membuat orang mjd Kreatif?”
“Kenapa ya, kok banyak anak-anak Muda kalo diajak berpikir, memilih menghindar?”,
“knp ya byk lulusan PT yg nggak kreatif?”
“Kenapa ya, kok banyak Orang cenderung Emosional dalam menyelesaikan suatu Permasalahan?”
Biasanya kami jawab “Nggak tau tuh”, “loh gimana sih?” pada protes, ya Karena kami benar2 Tidak Tau, hehe

Kemudian, pertanyaan-pertanyaan tersebut mulai terjawab. Bahwa Semua ini dimulai dari Pendidikan saat masih anak-anak! kami pernah membaca bukunya “Ayah Edi”, yg mengatakan bahwa Otak Manusia memiliki 3 Kemampuan Dasar yaitu;
  • Kemampuan Berpikir/Nalar,
  • Kemampuan Kreatif, lalu
  • Kemampuan Menghafal

Nah ini menarik, Sayangnya saat Sekolah seringkali yg di asah pada anak-anak adalah Kemampuan Menghafalnya dari SD sampai kuliah, hampir semua Ujian / Test isinya adalah Hafalan yg semuanya ada di buku & Internet pdhl dlm Dunia Kerja & Selepas Sekolah, Kemampuan yg sering digunakan adalah Kemampuan Berpikir & Kemampuan Kreatif Bayangkan pertanyaan-pertanyaan; “Sebutkan nama2 Menteri?”, kenapa nggak sekalian “sebutkan nama2 istri menteri”, hehe lalu pertanyaan hafalan, “Apa yg terjadi antara 1825 – 1830?”, ya jelas-jelas jawabnya ada di buku “Perang Diponegoro"

Mengapa tidak Pertanyaan; “menurutmu Semangat Pangeran Diponegoro, bila diterapkan dalam se-hari2, akan seperti apa?” wah, itu Pertanyaan yg akan memacu Kemampuan Berpikir, juga anak belajar mengambil hikmah dari sebuah peristiwa pernah diberitahu oleh Rekan yg di luar negeri khususnya negara maju, bahwa PR anak-anak setara SD disana hanya sedikit Sekali kadang hanya 1 Pertanyaan seperti ini “Apakah Idemu untuk Merubah Dunia?” & jawabnya Lesan Pula di depan Kelas, wooww

Ini memacu Kemampuan Berpikir, Kreatif & Melatih Kemampuan mempresentasikan Pikiran & Imajinasi anak. Ya, sistem pendidikan kita memaksa anak-anak seringkali hanya diasah & dilatih Kemampuan Menghafalnya lalu tiba2 saat Kerja & Selepas Sekolah/Kuliah, anak-anak hrs Memiliki Kemampuan Berpikir & Kemampuan Kreatif?

Ini Menjadi PR besar Kita semua. Sulit sekali mengubah sistem yg sudah seperti ini, Namun kita selalu punya kesempatan kita bisa memulainya dalam keluarga kita, beri ruang bagi anak untuk berpikir & kreatif hargai setiap pendapat anak, hargai idenya, beri juga apresiasi pada karya-karya anak, apapun itu jangan justru kemampuan-kemampuan berpikir & kreatif anak yg sangat mereka butuhkan nantinya, kita mandulkan dgn sikap2 kita. Sikap sering meremehkan ide anak, pendapat & karya anak, akan membuat kemampuan-kemampuan tersebut malah tumpul kemampuan berpikir & kreatif anak mestinya harus kita tumbuhkan keatas, bukan kita tekan-tekan kebawah. Semakin tajam kemampuan berpikir&kreatif anak, semakin anak bisa menyelesaikan persoalan-persoalan yang kelak ia hadapi

disarikan dari yani.widianto.com

Senin, 21 April 2014

Biyungku Mamaku Ibuku



Setiap pagi sebelum matahari sempat muncul di langit, disiapkannya sepeda onta tua lusuh dan mulai berkarat. Diperiksanya kondisi ban dan rantai sepeda, setelah yakin siap pakai dituntunnya keluar dan disandarkan ke tembok samping rumah. Lalu kembali masuk mengangkat keranjang bambu yang dianyam rapat. Dua keranjang diletakkan satu persatu di boncengan sepeda lalu berpamitan kepada keluarga.

Dikayuhnya sepeda pelan-pelan menelurusi gang masjid, jalan pedukuhan, kemudian berujung di pertigaan jalan Karanganyar-Kaleng berbelok ke kanan menuju pasar karanganyar. Sampai di pasar berbelanja secepat dia bisa, tanpa perlu menawar cukup memilih dan menimbang pada pedagang-pedagang yang telah menjadi langganannya. Sambil tersenyum berbagi kebahagiaan dia berpindah-pindah dari pedagang yang satu ke pedagang yang lain. Hampir 2 jam dia berbelanja, sambil menata barang dagangan yang telah dibelinya, dia mengecek apa yang kurang hari itu. 

Dia kembali mengayuh sepedanya menuju pedukuhannya, beban keranjang yang berat tampak sekali berpengaruh pada kecepatan laju sepedanya. Keranjang yang sudah mulai berlubang di bagian yang terkena as roda, tampak miring mengimbangi berat muatan yang ada di dalamnya. Berderit-derit gesekan besi penyangga keranjang dengan besi boncengan sepeda. Ketika memasuki pedukuhan, dia berteriak keras-keras "Sayur bu!!! Sayuuur!" memanggil orang-orang untuk keluar rumah berbelanja dagangannya. Dengan ramah dan sabar dia melayani pembeli yang rata-rata ibu rumah tangga yang juga tetangganya.

Kira-kira pukul 9 lebih dia sudah sampai rumah kembali, untuk beristirahat  sebentar, makan pagi dan menunaikan sholat dhuha dua rakaat. Kemudian kembali bersepeda berkeliling pedukuhan dan desa di sekitar dukuhnya. Setiap hari ditempuhnya perjalanan 7 sampai 10 kilometer untuk berkeliling menjajakan sayuran dan makanan kecil. Pukul 5 baru sampai rumah kembali, lalu menyiapkan makan malam untuk keluarga. Dia berkeliling dengan penuh semangat dan penuh cinta kasih. Dia berkeliling untuk mewujudkan cita-citanya sendiri, membantu suami untuk menyekolahkan anak-anaknya setinggi kemauan sang anak. Dengan penuh cinta dan sayang dia menanamkan sebuah tauladan kerja keras, dengan ikhlas dia membimbing anak-anaknya berbagi, dan dengan kelembutan melayani suami. Ini adalah cerita 26 tahun yang lalu. Namun hingga hari ini masih setia dengan sepeda tua dan keranjang usangnya.

Dia bagian hidup yang selalu menginspirasi, selalu memotivasi, selalu memberikan arti. Dia mamakku.... Terima kasih mamak, terima kasih atas semua hal yang telah diberikan untuk semua anakmu. Kami akan selalu menyayangimu. 

Sabtu, 19 April 2014

Baca tulis dan hitung dilarang untuk anak usia PAUD

 Dr. Hj Erma Pawitasari, M.Ed 
dari http://www.suara-islam.com

Perkembangan pengajaran calistung disertai dengan tes-tes bagi anak-anak Playgroup dan TK sudah pada level mengkhawatirkan. Bila dulu, anak-anak cukup membeli buku persiapan UMPTN (masuk perguruan tinggi), diikuti dengan buku persiapan Ebtanas (setara Ujian Nasional), sekarang sudah banyak terbit buku-buku untuk persiapan tes masuk SD, seperti “Aku Siap Masuk SD” dan sejenisnya. Lebih jauh lagi, anak bayi pun sekarang sudah harus giat belajar menghadapi persaingan masuk TK sehingga banyak terbit buku-buku persiapan masuk TK, seperti “Sukses Masuk TK”, “99,99% Diterima Masuk TK Favorit”, dan “Lolos Tes Masuk TK.”

Bola liar calistung ini membuat Mendikbud, Dr. Muhammad Nuh, membuat pernyataan publik pada acara Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan (RNPK) di Depok, 11 Januari yang lalu. Beliau menegaskan bahwa mengajarkan calistung adalah kewajiban SD, bukan PAUD. Anak yang akan masuk sekolah tidak boleh dituntut sudah menguasai calistung [Situs resmi PAUD Kemdikbud RI].

Pernyataan Mendikbud ini sesuai dengan aturan hukum yang diatur dalam Permendiknas RI No. 58 TAHUN 2009 tentang Standar Pendidikan Anak Usia Dini. Ada 4 tingkat pencapaian terkait dengan kemampuan calistung bagi anak usia 4-6 tahun, yaitu:

1. Pura-pura membaca cerita bergambar dalam buku dengan kata-kata sendiri.

2. Berkomunikasi secara lisan, memiliki perbendaharaan kata, serta mengenal simbol-simbol untuk persiapan membaca, menulis dan berhitung.

3. Membaca nama sendiri.

4. Menuliskan nama sendiri.

Berdasarkan Permendiknas ini, kemampuan tertinggi yang diharapkan dari lulusan TK adalah membaca dan menulis namanya sendiri. Inipun cukup nama pendek, sekedar mengenali namanya dan memberi nama lembar kerjanya.

Untuk mendukung aturan ini, Dirjen Dasmen mengeluarkan Surat Edaran Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar Dan Menengah Nomor 1839/C.C2/TU/2009 Perihal : Penyelenggaraan Pendidikan Taman Kanak-Kanak dan Penerimaan Siswa Baru Sekolah Dasar. Ada 3 hal yang ditekankan dalam surat edaran ini, yaitu:

1. Pendidikan di TK tidak diperkenankan mengajarkan materi calistung secara langsung.

2. Pendidikan di TK tidak diperkenankan memberikan pekerjaan rumah (PR) kepada anak didik dalam bentuk apapun.

3. Setiap sekolah dasar (SD) wajib menerima peserta didik tanpa melalui tes masuk.

Menurut aturan pemerintah, Sekolah PAUD yang mengajarkan materi calistung secara langsung dan SD yang mengadakan tes penerimaan murid justru telah melakukan pelanggaran. Hal ini harus disosialisasikan ke seluruh PAUD dan orang tua murid sehingga bersama-sama mematuhi aturan dan tidak memaksa anaknya menguasai calistung pada usia dini.

Mengapa pemerintah melarang pengajaran calistung secara langsung? Apa ruginya anak belajar calistung? Bukankah hal ini membantunya menguasai pelajaran SD? Bukankah makin terpakai otak, makin meningkat kecerdasannya?

Secara ringkas, pertanyaan-pertanyaan di atas telah dijawab oleh Direktur PAUD Kemdikbud, Sudjarwo Singowijoyo. Beliau mengatakan:

 Memaksa anak usia di bawah lima tahun (balita) menguasai calistung dapat menyebabkan si anak terkena 'Mental Hectic’, yaitu anak menjadi pemberontak.

 Penyakit itu akan merasuki anak di saat kelas 2 atau 3 Sekolah Dasar (SD).

Memaksakan anak menguasai calistung pada usia dini justru akan merusak kecerdasan mentalnya. Ia mungkin tampak jenius secara kognitif, namun fungsi otak lainnya akan terganggu. Otak manusia tidak hanya berfungsi untuk mengolah informasi kognitif, namun juga nalar dan karakter (akhlaq). Apabila kemampuan nalar dan akhlaq rendah, maka kemanusiaan akan jatuh pada titik nadir.

Apakah anak usia dini sama sekali dilarang belajar calistung? Belajar calistung secara tidak langsung diperbolehkan. Contohnya adalah:

- melihat ibunya menghitung gelas untuk menjamu tamu
- melihat kakaknya menikmati membaca buku
- menghitung jumlah anggota dalam sebuah permainan kelompok
- dsb.

Sebagai penutup, mari kita renungkan hadits Nabi SAW, “Perintahkanlah anakmu untuk sholat pada usia 7 tahun.” Sholat adalah urusan yang paling penting. Sholat adalah tiang agama. Untuk urusan terpenting saja, Nabi menyuruh kita menunda hingga anak mencapai usia 7 tahun. Padahal, apa salahnya menyuruh anak sholat sejak usia dini?

Keimanan kita kepada Allah dan Rasul membuat kita yakin bahwa apa-apa yang diperintahkan/dilarang adalah yang terbaik. Bila menyuruh anak sholat sejak usia dini memiliki efek positif, tentu Nabi akan mewasiatkan untuk mengajak anak-anak sholat sejak usia dini. Namun, Nabi justru membiarkan cucu-cucunya bermain di punggung beliau saat beliau mengimami sholat berjamaah di masjid. Demikian pula dalam hal belajar bidang-bidang lainnya. Pelajaran secara formal/langsung, baru boleh dilakukan ketika anak berusia 7 tahun. Sebelum usia itu, biarkan kanak-kanak menikmati canda tawanya, tanpa beban yang akan merusak akhlaknya.

Jumat, 18 April 2014

Sebuah Cerita dari Logandu



Kupikirkan maka kudapatkan

Sebuah keinginan yang kuat adalah awal dari pencapaian kita hari ini. Kita berpikir dan bertindak secara tidak sadar akan terprogram dan berorientasi pada keinginan tersebut. Keinginan itu akan berusaha mendekatkan usaha kita menuju keinginan yang tertanam di alam bawah sadar.

Saya rasa semua pasti sudah pernah mengalami hal tersebut, hanya saja tidak semua sadar dan tahu akan keinginan dan tindakannya itu. Ada sebuah kisah dari sebuah keinginan masa kecil (meskipun sederhana dan bagi sebagian orang hal ini sepele) yang menjadi kenyataan.

Aku punya seorang paman, dia sangat menyukai pertunjukan wayang kulit. Masa kecilnya dia sering melihat pertunjukan wayang di desa maupun sekitar desanya. Wayang tak bisa dilepaskan dari kesehariaannya, rumput dan dedaunanpun menjadi karakter wayang yang cukup menarik dan menyenangkan. Meskipun dengan kehidupan yang sederhana dia berkeinginan menjadi dalang wayang kulit.

Karena hobi itu pulalah dia sangat senang membaca segala sesuatu yang berkaitan dengan wayang kulit. Pada masa kecilnya (sekitar tahun 80-an), majalah dan surat kabar yang memuat tentang wayang kulit sangat sedikit, maka segala tulisan yang ada dan memuat wayang akan dicarinya meskipun hanya potongan koran bekas. Hingga suatu saat dia menemukan sebuah majalah krucil (majalah dengan ukuran booklet/separuh buku tulis biasa) yang memuat tentang seorang anak dari Karangsambung yang mahir membuat wayang. Anak kecil itu mendapat pujian dari dalang ki Manteb Sudarsono atas karyanya. Karena kedekatan geografis pamanku sangat ingin mengenal anak itu lebih dekat. Meskipun pada masanya banyak anak yang bersekolah di Karangsambung dia tidak mendapat kesempatan yang sama. Dia hanya memendam keinginan untuk mengenal anak tersebut.

Menjelang dewasa dia ngenger atau mengabdi kepada salah satu dalang yang cukup terkenal di daerah Cilacap dan sekitarnya yang bernama panggung Ki Sikin Hadi Warsono. Disana pamanku tidak hanya berlatih wayang namun juga sebagai pembantu yang menyiapkan keperluan ki dalang. Baik keperluan panggung maupun keperluan sehari-hari keluarga ki dalang. Bagi pamanku, memiliki kesempatan berlatih wayang dan seluk beluk serta penyiapan di belakang panggung adalah sebuah anugerah yang luar biasa, meskipun harus ditebus dengan sebuah pengabdian.

Karena sebuah tuntutan pamanku tidak melanjutkan pengabdian di tempat ki Sikin Hadi Warsono, kemudian beliau merantau di tanah pasundan. Pamanku menuliskan episode kehidupannya di ibukota parahyangan, kota paris van java, Bandung. Di sana beliau memulai usaha dengan ikut berjualan bakso pada tetangga satu desa. Setiap hari beliau berjalan berkeliling mendorong gerobak bakso dari rumah ke rumah. Setiap pagi jauh dari saat menjelang subuh harus bangun lalu ke pasar menyiapkan bahan untuk berjualan hari itu. Hari-harinya yang penuh kesibukan tak melunturkan kecintaannya pada wayang kulit. Ketika ada pagelaran wayang kulit, dia menyempatkan diri berlibur untuk menyaksikannya.

Ketika pamanku menikah dia memutuskan untuk pentas pentas di hadapan orang-orang desanya. Pentas itu yang pertama kali di khalayak ramai. Pamanku dengan kemampuan yang dimilikinya berusaha menampilkan yang terbaik. Satu keinginan kuat yang menjadi kenyataan. Semua orang menyemangati dia dan memberikan ucapan selamat atas kenekatannya menggelar pertunjukan wayang hari itu. Meskipun sampai saat ini belum pernah pentas kembali, namun dia membuktikan keterbatasan bisa ditebus dengan kerja keras.

Rupanya takdir yang berkaitan dengan kecintaannya pada wayang kulit belum berhenti sampai di situ. Suatu saat ketika ada pertunjukan wayang kulit ki Manteb Sudarsono di Bandung beliau menyempatkan hadir di gedung RRI Bandung untuk melihat. Di sana ki Manteb menemui seseorang yang membawa sebuah wayang karakter Buta (raksasa). Ketika ki Manteb menyebut nama pembuat wayang itu, pamanku terkejut dan segera menghampiri pembuat wayang itu. Mereka berdua berkenalan ternyata pembuat wayang itu adalah anak Karangsambung yang pernah dibacanya di Majalah krucil waktu dia masih kecil. Akhirnya dia akrab dengan anak yang dikenalnya hanya dari majalah.

Dua hal itu, membuktikan bahwa sebuah keinginan kuat sangat mempengaruhi apa yang akan kita dapatkan. Kita bisa meraih berbagai macam hal yang mungkin hanya kita bayangkan dan atau kita bayangkan tidak mungkin.

Seperti juga cerita ini Cita-citaku tukang traktor

Senin, 14 April 2014

Cita-citaku tukang traktor



Aku punya teman masa kecil, namanya Rahmanto akrab dipanggil Manto. Ketika kecil hampir setiap hari kami bermain dan menghabiskan waktu bersama. Masih teringat jelas saat TK kami membolos dengan alasan ke belakang (kamar mandi) kemudian tidak kembali ke kelas namun segera meluncur ke rumah dengan sepatu ditenteng atau dikalungkan leher. Ketika kami kelas 3 atau 4 kami ditanya cita-cita satu per satu, aku dengan bangga menjawab akan jadi Jenderal tak sepertiku, Manto menjawab ingin jadi tukang traktor sawah, hampir semua teman-teman menertawakan pilihan jawabannya.

Hari ini memori itu sudah lebih dari 20 tahun berlalu, dan aku mendapati dia sedang menjalankan traktornya di sawah. Rupanya dia telah berhasil mewujudkan cita-cita masa kecilnya, dengan ulet dia belajar dan belajar kemudian mengumpulkan sedikit demi sedikit apa yang telah diperolehnya. Mungkin tidak ada teman-teman yang dulu menertawakan mengingat bahwa mereka pernah menertawakan Manto waktu kecil dulu, namun manto telah membuktikan bahwa sebuah cita-cita harus diperjuangkan.

Aku kemudian bertanya pada diriku sendiri mengapa cita-citaku masa kecil dulu jauh berubah dari aku hari ini? Sebuah takdirkah? Atau perjuangan yang tidak jelas yang aku kerjakan? entahlah aku sampai sekarang masih belum bisa menjawab pertanyaan itu.

Aku belajar dari sahabatku sendiri, bahwa sebuah kesederhanaan adalah kunci untuk membuka pintu kehidupan, sesuatu yang sederhana tidak boleh dipandang sebelah mata, hal yang sederhana adalah bagian mendapatkan hal yang lebih besar. Hal yang sederhana adalah keharusan, tak bisa lepas dari keberhasilan, dan selalu dibutuhkan dalam keseharian

terima kasih sobat, telah mengajarkanku tentang nilai kesederhanaan, telah memberikan warna dalam hidupku, membimbing tanpa menggurui, memberi potongan episode kehidupanku.

Selasa, 01 April 2014

Memaksimalkan Potensi diri

 Mindset: How you can fulfill your potential 
 
Banyak orangtua akan memberikan sanjungan ketika anaknya berprestasi, misalnya ketika anak meraih nilai ujian yang bagus.“Wow Kakak dapat nilai bagus, pintarnya anak mama.” Sanjungan seperti ini diharapkan akan memotivasi anak tersebut agar mendapatkan nilai-nilai ujian yang baik lagi di masa depan. Tapi ternyata, sanjungan seperti ini akan merusak pola pikir anak tersebut.

Pada penelitian yang dilakukan oleh Carol Dweck kepada anak-anak Sekolah Dasar (SD). Penelitian ini dimulai dengan memberikan tes teka-teki yang cukup mudah kepada semua anak. Setelah tes dilakukan, peneliti memberitahu semua anak tentang nilai mereka. Sebagian anak disanjung karena kepintarannya (“Kamu pintar di bidang ini, nilai kamu bagus.”), dan sebagian yang lain disanjung karena usahanya (“Kamu mengerjakannya dengan sungguh-sungguh, nilai kamu bagus.”).

Ternyata anak-anak yang disanjung kepintarannya akan membuat mereka senang pada saat diberikan sanjungan, tetapi mereka mendapatkan beberapa efek negatif. Sebaliknya, anak-anak yang disanjung atas usahanya mendapatkan beberapa efek positif.


Efek pertama, ketika anak-anak disanjung kepintarannya, mereka menjadi sangat ingin terlihat pintar yang akibatnya membuat mereka enggan mengerjakan soal yang agak susah. Kebanyakan dari mereka lebih memilih soal yang mudah daripada soal yang agak susah, walaupun pada soal yang agak susah tersebut mereka bisa belajar sesuatu. Sebaliknya, anak-anak yang disanjung karena usahanya, 90 persen dari mereka ingin mengerjakan soal yang agak susah.

Efek ke-2, pada tes ke-2 semua anak diberi soal yang sangat susah, yang membuat hampir semua anak tidak bisa mengerjakan. Anak-anak yang disanjung kepintarannya merasa menjadi anak bodoh. Karena sanjungan “Kamu pintar di bidang ini, nilai kamu bagus.” Memiliki arti tersirat, bahwa kamu akan akan dibilang pintar jika bisa mengerjakan soal ini, jika kamu tidak bisa berarti kamu bodoh. Kepercayaan diri anak-anak yang disanjung kepintarannya sangat rapuh, karena kepercayaan diri mereka tergantung hasil yang mereka dapat.

Sebaliknya, anak-anak yang disanjung karena usahanya memiliki pemikiran bahwa kegagalan mereka mengerjakan soal bukan berarti mereka bodoh, tetapi merupakan pertanda bahwa diperlukan ketekunan yang lebih, karena mereka memiliki pemikiran bahwa soal yang lebih susah memerlukan ketekunan yang lebih lagi. pola pikir mereka ini terbentuk karena sanjungan yang diberikan: “Kamu mengerjakannya dengan sungguh-sungguh, nilai kamu bagus.” Sanjungan ini memiliki arti tersirat bahwa ketekunan adalah kunci untuk mendapatkan nilai yang bagus.

Efek ke-3, anak-anak yang disanjung karena kepintarannya berkata bahwa mereka tidak lagi suka mengerjakan soal yang susah tersebut, dan tidak ingin menyelesaikan soal yang susah tersebut di rumah. Kegagalan mereka mengerjakan soal yang sangat susah membuat mereka tidak ingin lagi berlatih mengerjakan soal tersebut. Berbeda dengan anak-anak yang disanjung karena usahanya. Mereka menikmati mengerjakan soal yang susah tersebut dan ingin menyelesaikan soal tersebut di rumah.

Efek ke-4, pada tes ke-3 anak-anak diberikan soal yang memiliki tingkat kesusahan sama dengan soal pertama. Nilai anak-anak yang disanjung karena kepintarannya menurun sebesar 20 persen dibandingkan hasil tes pertama mereka. Sedangkan nilai anak-anak yang disanjung atas usahanya meningkat sebesar 30 persen dibandingkan hasil tes pertama mereka.

Efek ke-5, ketika semua anak diminta untuk menuliskan hasil tes mereka untuk diperlihatkan kepada anak lain yang tidak mereka kenal. 40 persen anak-anak yang disanjung kepintarannya berbohong tentang nilai mereka, Mereka menaikkan nilai mereka. Tetapi hanya sebagian kecil anak-anak yang disanjung karena usahanya berbohong tentang hasil mereka. Ini memiliki arti bahwa anak-anak yang disanjung karena kepintarannya menjadi sangat peduli dengan hasil, sehingga malu jika mereka gagal atau mendapatkan nilai yang kurang bagus. Mereka menjadi tidak dapat memberitahukan nilai asli mereka bahkan kepada anak lain yang mereka tidak kenal.


Mengapa 5 efek ini terjadi? Ketika kita memberikan sanjungan kita membentuk pola pikir seorang anak. Sanjungan untuk kepintarannya membentuk pola pikir Fixed-mindset. Sanjungan yang membentuk pola pikir Fixed-mindset memiliki pesan tersirat: “Kamu memiliki kemampuan yang merupakan bawaan dari lahir, dan saya akan menilai kemampuan tersebut.” Anak-anak yang pola pikirnya Fixed-mindset memiliki keyakinan bahwa kemampuan/inteligensi seseorang itu adalah bawaan dari lahir, jadi tidak bisa diubah. Pola pikir Fixed-mindset akan membuat seorang anak menghakimi dirinya sendiri: “Ini artinya saya bodoh”, ”Ini artinya saya pintar”, “Ini artinya saya lebih baik dari dia” dll

Sedangkan sanjungan atas usahanya membentuk pola pikir Growth-mindset. Sanjungan yang membentuk pola pikir Growth-mindset memiliki pesan tersirat: “Kamu seseorang yang sedang berkembang, dan saya tertarik dengan perkembanganmu.” Anak-anak yang pola pikirnya Growth-mindset memiliki keyakinan bahwa kemampuan/inteligensi seseorang itu bisa dikembangkan dengan ketekunan.


Inilah yang membuat anak-anak yang disanjung kepintarannya merasa takut untuk mengerjakan soal yang agak susah dan tidak bisa menerima kegagalan (soal yang agak susah beresiko kegagalan, dan kegagalan artinya saya bodoh). Sedangkan anak-anak yang disanjung karena usahanya, membentuk mereka menjadi anak yang suka belajar, ingin mengerjakan soal yang agak susah karena ada yang bisa dipelajari untuk berkembang, dan bisa menerima kegagalan karena kegagalan memiliki arti bahwa diperlukan usaha lebih untuk menyelesaikannya.


Contoh sanjungan yang membentuk pola pikir Fixed-mindset:
  • Sanjungan: "Kamu belajar cepat sekali! Kamu sangat pintar!"
  • Pesan tersirat: “jika kamu lambat belajar sesuatu, kamu anak yang bodoh. Dan saya akan menilai inteligensi kamu.”

  • Sanjungan: "Kamu sangat jenius, tanpa belajar kamu mendapatkan nilai A!
  • Pesan tersirat: “Seorang jenius adalah seseorang yang tanpa belajar bisa mendapatkan nilai A. Jika saya ingin disebut jenius, maka ketika ujian saya harus dapat A tanpa belajar”


Contoh sanjungan yang membentuk pola pikir Growth-mindset:
  • Sanjungan: "Maaf, sepertinya soal ini terlalu mudah untukmu. Mari kita cari soal yang agak susah agar kamu belajar sesuatu.
  • Pesan tersirat: “Yang terpenting adalah ada sesuatu yang bisa kamu pelajari ketika menyelesaikan suatu soal. Dan soal yang terlalu mudah untukmu tidak membuat kamu belajar sesuatu darinya”

  • Sanjungan: "Wow karya yang bagus, kamu pasti bekerja keras membuatnya
  • Pesan tersirat: “Bahwa diperlukan usaha lebih untuk menghasilkan karya yang bagus"


Jadi sanjungan yang baik untuk anak-anak adalah sanjungan pada prosesnya belajarnya (usahanya, strateginya, idenya, perkembangannya), bukan kepintarannya (kemampuannya, keahliannya, talentanya, hasilnya, orangnya).

Sanjungan yang baik adalah sanjungan yang terdapat minimal salah satu dari dua hal ini:
  • Yang terdapat pesan tersirat bahwa kemampuan (baik itu inteligensi atau talenta) bisa dikembangkan.
  • Yang terdapat pesan tersirat bahwa diperlukan usaha lebih atau ketekunan untuk meningkatkan kemampuan (baik itu inteligensi atau talenta)


link download artikel yang menyatakan inteligensi dapat dikembangkan http://www.brainology.us/websitemedia/youcangrowyourintelligence.pdf
 
Artikel ini disalin dari  www.bukuzu.com

Minggu, 23 Maret 2014

Kali Gebang Logandu


di Logandu terdapat sungai yang merupakan salah satu muara sungai luk ulo, kami menamainya kali gebang. Anakku Haidar Azka Fathurrahman sangat menyukai bermain di sungai ini. Hanya saja perilaku masyarakat yang senang membuang sampah di sungai sangat mengganggu kebersihan kali yang melintasi beberapa desa. Mungkin ketika membuang sampah di sungai mereka berpikir bahwa "ah cuma satu keranjang tidak akan menimbulkan sungai tersumbat dan banjir." 

Tapi jika ada 100 keluarga di satu desa berkata dan melakukan hal itu setiap hari, maka ada 100 keranjang sampah yang masuk sungai setiap hari, bisa dibayangkan bukan jika 1 desa 100 keranjang, di sepanjang sungai sampai laut ada berapa desa?? bisa berkuintal-kuintal sampah setiap hari masuk sungai. Maka pantaslah jika di laut-laut dekat muara sampah sangat banyak bertebaran dan ketika kita ke laut berkata "kok lautnya kotor sekali sih?" padahal dari kita pula sampah-sampah tersebut.

Jadi mulailah memanfaatkan sampah yang masih mungkin kita gunakan atu kita daur ulang. Jika tidak memungkinkan digunakan dikeringkan dan dibakar bisa jadi solusi yang lebih baik untuk mengatasi sampah-sampah yang masuk ke sungai. Jangan biarkan keindahan sungai kita tercemar sampah, jadikan sungai tempat yang nyaman untuk bermain-main bagi kita dan keluarga kita.

Ayo dho adus kali...

Sabtu, 22 Maret 2014

Imposible is nothing

salah satu momen terbaik yang pernah saya lihat adalah momen final liga champions eropa tahun 2005. Dimana Liverpool mengalahkan milan setelah tertinggal 3 gol. Mereka melawan ketidakmungkinan dengan kerja keras dan semangat juang yang tinggi.


ini review highligtnya

 

atau ingin lebih lengkap semua bisa lihat ini :


 

Inspirasi bisa datang dari mana saja, jadikan inspirasimu sebagai sebuah hal yang membuatmu menjadi lebih baik.


MTs Kepadangan Clapar (Bagian 2)



Sejarah MTs Kepadangan Clapar (bagian 2)


Berawal dari 8 siswa yang berhasil lulus pada generasi pertama, siswa di Madrasah senantiasa mengalami perkembangan dengan tidak lepas dari fluktuasi di setiap tahunnya. Berawal dari sebuah keinginan untuk senantiasa berkembang almaghfurlah H. Suranto berinisiatif untuk mencari alternatif untuk bisa menunjang keberlangsungan Madrasah, beliau mengusahakan sebuah mobil untuk antar jemput siswa terutama dari daerah Kebakalan dan Logandu karena mayoritas siswa MTs berasal dari desa tersebut. Setelah bernegoisasi dengan paguyuban angkot akhirnya disepakati ada 1 mobil yang khusus diperuntukkan antar jemput siswa MTs. AA 1392 D adalah plat nomor yang digunakan mobil yang dengan setia jemput dan antar siswa setiap pagi dan sore. Driver supermobile pertama kali adalah Sumadi yang ketika itu masih berstatus lajang. Perkembangan selanjutnya driver supermobile bergantian dengan Mahdi. Supermobile MTs adalah Mobil suzuki Futura 1.3 tahun 1995 yang telah dicat kuning dan biru metalik, mobil ini salah satu Giant hope yang bisa menjadi tumpuan perkembangan MTs Kepadangan.

Semangat untuk terus melanjutkan perjuangan pendiri Madrasah senantiasa ditanamkan pada setiap kesempatan pertemuan komite, wali murid, maupun intern guru dan staf MTs Kepadangan. Sebuah harapan yang telah ditanamkan oleh pendiri-pendiri MTs adalah bagaimana MTs Kepadangan bisa menjadi pioneer dan sentra perkembangan keagamaan di Clapar maupun lebih luasnya pada cakupan Karanggayam yang terkenal sebagai daerah garis merah secara keagamaan. Lambat, dan tak begitu terlihat namun dengan pasti Madrasah yang mendapat julukan al Munawarah mulai menunjukkan kemampuan dan prestasi baik di bidang akademik maupun non-akademik. Beberapa kali hasil Ujian Nasional di MTs Kepadangan Clapar ada anak yang hampir mencapai nilai sempurna 10. Juga ada anak yang mampu berprestasi di tingkat Kabupaten Kebumen pada cabang olahraga lari.

Beberapa saat yang lalu semangat guru dan karyawan sempat mengalami drop. Penyebabnya adalah salah satu pendiri dan pejuang serta wakif Madrasah meninggal. al Maghfurlah H. Suranto, menghadap Illahi pada 8 Juni 2011. Seluruh keluarga besar madrasah merasa sangat kehilangan dan sempat mengalami shock berkepanjangan. Beruntung pendiri-pendiri lain berkumpul dan menyemangati teman-teman yang masih mengelola langsung di Madrasah untuk bangkit dari keterpurukan. Menyadari bahwa semua adalah anugrah Allah SWT, dan Allah tak akan pernah memberikan cobaan melampaui kemampuan hambanya, dipimpin Mardiadi selaku kamad, beliau mulai menata kembali manajemen dan mengeksplorasi potensi-potensi yang masih mungkin dikembangkan di Madrasah.

Pada tahun 2013 bulan september hari ke 19 Madrasah mengakuisisi mobil angkutan menjadi mobil inventaris madrasah setelah menerima wakaf dari berbagai pihak dan tentu saja dari keluarga almarhum H. Suranto melalui istri beliau Eko Yuni Setyaningsih. Sebuah lompatan besar yang seperti dibahas di atas bahwa AA 1392 D adalah giant hope yang menjadi kenyataan. melihat hal tersebut Kepala Madrasah membentuk tim kecil yang bertugas menginventarisir hal apa saja yang akan dikembangkan dalam beberapa tahun ke depan, tim tersebut juga bertanggung jawab atas master plan Madrasah ke depan baik secara, fisik, akademik, maupun sisi non akademik, juga termasuk bagaimana menjalin komunikasi dengan masyarakat sekitar dan pihak-pihak lain yang bisa membantu perkembangan MTs Kepadangan Clapar Karanggayam.

Sebuah hal yang menjadi catatan adalah perjuangan tidak akan pernah berhenti dan habis. Karena setiap saat adalah perjuangan yang bisa bernilai ibadah. Dan sebuah pesan dari almarhum H. Suranto adalah bagaimana kita menghidupkan agama, agar Allah senantiasa menghidupi kita dengan kemuliaan. Harapan bahwa kita semua menjadi pioneer dan sentra perkembangan syi'ar Islam di Karanggayam bisa terealisasi dengan cepat, tepat, berrmanfaat, dan bermartabat.

Semoga Allah senantiasa membimbing kita dalam jalan yang lurus, memberi kita kekuatan untuk memajukan Madrasah tercinta ini, karena hanya kepada Allah kita Beribadah dan hanya kepada Allah pula kita meminta pertongan.

Senin, 21 Mei 2012

Sejarah Jingklak

 sumber gambar : Wikimapia

Jingklak adalah sebuah dukuh di Kelurahan Karanganyar Kecamatan Karanganyar Kabupaten Kebumen Jawa Tengah. Dengan koordinat Koordinat: 7°38'2"S   109°34'14"E. Dukuh ini terdiri dari 5 RT dan terlingkup dalam satu RW.

Dari Sesepuh dukuh Jingklak, Jingklak berasal dari bahasa jawa yaitu "jingklak/jingkrak" yang berarti melompat. Bapak Harso Hadi Prayitno yang merupakan narasumber menyebutkan bahwa pada zaman dahulu Jingklak adalah daerah yang sangat aman. Bahkan saat peperangan zaman Belanda Jingklak tidak mengalami serangan dari Belanda, tidak seperti daerah di sekitarnya seperti desa Candi, Kemit, dan Karanggayam. Sebagai ekspresi rasa senang masyarakat mereka melompat-lompat (jawa: Jingklak-jingklak) karenanya dinamakanlah daerah tersebut JINGKLAK.

berhubung data masih minim bersambung ya...

Kamis, 11 November 2010

Sempurna

Manusia hidup diciptakan sempurna dalam ketaksempurnaan. Ada di antara ketiadaan. Terkadang mereka tak sadar bahwa mereka sempurna. Mereka tak mau menyadari apa yang diberikan kepada mereka adalah sesuatu yang terbaik. Yang diberikan kepada mereka adalah keistimewaan yang tiada dimiliki orang lain. Yang dimiliki adalah anugrah dan keistimewaan yang tak tergantikan. Perlukah sebuah kejadian yang luar biasa agar mereka sadar bahwa mereka merasa sempurna. Bukankah kejadian yang biasa adalah sesuatu yang luar biasa yang sudah cukup menjadi bukti kesempurnaan bagi mereka. Bukankah setiap kejadian pada keseharian akan membawa potongan-potongan yang membawa kesempurnaan.

Selalu saja kesempurnaan itu menjadi sesuatu yang dicari dan diperebutkan dengan berbagai cara. Mengaku bahwa tak sempurna adalah cara yang mereka tunjukkan mencari kesempurnaan. Mereka berlomba mengaku tak sempurna dengan berbagai cara. Menggadaikan kesempurnaan mereka dengan mengaku belum sempurna dengan sempurna. Mereka disetujui dan didanai dengan sempurna. Wah sebuah cara yang sempurna untuk menjadikan ketaksempurnaan adalah tujuan hidup yang sempurna.

Dan mereka mengaku tak sempurna untuk menghindar dari sebuah tanggung jawab dari kesempurnnaan. Melarikan diri dari sebuah kewajiban yang harus diemban. Bahwa setiap makhluk hidup adalah bermanfaat bagi yang lain. Karena sesungguhnya “sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain” dan memberikan kebaikan sebanyak-banyaknya bukan menerima kebaikan sebanyak-banyaknya.

Aku bertanya pada diriku sendiri.. kemana kesempurnaanmu diriku??


(Mahdi Fathurrahman)

Mati Untuk Hidup

Mati untuk Hidup
Hidup adalah sebuah jalan yang entah sampai kapan akan berakhir.
Kita selalu dekat sebuah kematian.
Tak perlu dipanggil dia akan datang, tak perlu dijemput dia mendekat, dan tak perlu dicari karena dia akan ditemukan.

Banyak sekali jalan yang ditempuh kehidupan.
Hidup bisa memilih jalan yang lurus, berkelok, berbatu, rusak, ataupun jalan yang mulus.
Hidup-pun bisa menentukan cara yang digunakan untuk menempuh jalan yang dipilih itu.
Banyak hidup yang memilih jalan yang lurus dengan tongkat yang berat dan rusak, ada yang memilih jalan berkelok dengan lurus, tak sedikit pula memilih jalan yang mulus dengan hati yang tak tulus.
Entah bagaimana cara memilih jalan yang benar.
Terkadang di jalan yang tepat namun gunakan cara yang sesat.

Banyak hidup yang tak tahu kenapa dia ada.
Banyak yang mengabaikan kewajiban akan kehidupannya.
Ada yang menikmati hidup seolah selamanya.
Tak kurang hidup yang mengakhiri tanpa tahu untuk apa dengan kematiannya.

Bukan pada hidup yang indah
Bukan pada awal yang bahagia
Bukan pada asal kehidupan
Bukan pula pada jenis kehidupan
Tapi pada sebuah kehidupan
Hidup setelah kematian
Datang dan menjemput
Yang ditemukan tanpa dicari
Mendekat dengan cepat, tepat, dan akurat
Hingga semua tahu bahwa hidup adalah awal sebuah kematian untuk hidup selamanya.


(Mahdi Fathurrahman)

kunci bahagia

Selasa, 09 November 2010

Resep Mengatasi Kesedihan

RESEP UNTUK MENGATASI KESEDIHAN

Dalam sebuah kisah disebutkan ada seorang bijak yang terkena musibah. Ketika teman-temannya berkunjung untuk mengucapkan keprihatinan dia kemudian berkata :
“Aku tahu ada satu obat yang terbuat dari enam resep berbeda untuk sebuah kesedihan”
Teman-temannya bertanya “apa saja itu?”
1.    Percaya sepenuhnya kepada ALLAH SWT
2.    Kesadaranku bahwa semua yang ALLAH takdirkan akan terjadi
3.    Sabar yang merupakan senjata paling ampuh yang dipergunakan oleh orang-orang yang mendapat ujian.
4.    Jika tidak sabar berpikirlah apa yang bias dilakukan. Dan perasaan resah tidak akan membantu menyelesaikan masalah
5.    Mungkin suatu saat ada kondisi yang lebih buruk dari pada saat ini
6.    Dari waktu ke waktu jalan keluar akan selalu terbuka.

(Diambilkan dari La Tahzan karya Dr. ‘aidh al Qarni)

Harga hari Papa

HARGA HARI PAPA
Adi yang masih berumur 10 tahun bertanya pada papanya.
“Pa, sebulan gaji papa berapa sich?”
Sang papa menjawab dengan santai “3 juta”
Adi kembali bertanya “terus kalau sehari berapa Pa?”
“100 ribu lah kira-kira, memang kenapa?” Tanya papa mulai heran.
“Aku boleh minta 5 ribu nggak Pa?” Adi kembali bertanya tanpa menjawab pertanyaan papanya
“Boleh saja, buat apa di?” papanya semakin heran
“Aku punya tabungan 45 ribu, kalo minta dari papa 5 ribu kan jadi genap 50 ribu, terus kalo punya 50ribu papa mau kan ajak Adi mancing setengah hari, ntar uangnya buat papa semua!”

Terkadang kita lupa bahwa bermain bersama anak merupakan sesuatu yang diharapkan sekali oleh anak-anak kita. Kita selalu sibuk dengan urusan kantor, bisnis, masalah dengan tetangga, dan segala kegiatan yang menjadikan bahwa kita mempunyai titipan yang harus kita rawat dan kita didik. Amanah yang kelak harus kita pertanggungjawabkan di hadapan Pencipta yang menganugerahi kita buah hati.
Apakah perlu menunggu tabungan anak untuk kita dekat dengan anak?
Atau perlu anggaran yang besar untuk kita bermain dan menyempatkan bercengkrama atau sekedar menanyakan kegiatan buah hati kita??

Papan Kebahagiaan

PAPAN KEBAHAGIAAN

Dalam La tahzan karya 'Aidh al-Qarni diceritakan bahwa para 'Alim berkumpul. Mereka mendiskusikan kunci kebahagiaan dalam kehidupan. Setiap peserta yang hadir diharuskan membawa 3 papan yang berisi tulisan tentang kunci bahagia. Setelah itu papan dikumpulkan.
Setelah diskusi selesai mereka hanya membawa 3 buah papan:
  • Papan yang pertama bertuliskan "SEKARANG ADALAH HIDUPMU, SEKARANG ADALAH HIDUPMU". mereka sepakat bahwa seorang yang ingin bahagia harus melakukan yang terbaik hari ini. Karena sekaranglah manusia itu hidup. Dia tidak bisa kembali di masa lalu, diapun tidak bisa mendahului hidup ke masa depan. Masa lalu adalah history (sejarah), masa depan adalah mistery (misteri), dan hari ini adalah bless (anugerah)
  • Papan Kedua bertuliskan "PIKIRKANLAH dan BERSYUKURLAH". Kita diharuskan senantiasa berpikir hal-hal yang telah diberikan kepada kita dari ALLAH SWT. Hal ini supaya kita senantiasa bersyukur atas segala hal yang kita terima. Jika kita tidak bisa mensyukuri yang kecil, bagaimana kita mau mensyukuri yang besar??
  • Tertulis "JANGAN MARAH" pada papan terakhir. Sering kita tidak sadar bahwa kemarahan membawa kehilangan pada hal-hal yang positif, kehilangan hikmah dari sebuah peristiwa, bahkan kita tidak sadar bahwa kita telah dikendalikan oleh syetan.