BABI
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sebagai lembaga pendidikan, pesantren percaya bahwa manusia akan meningkatkan martabatnya seiring dengan penguatan nilai-nilai di dalam dirinya. Penanaman atau penumbuhan nilai-nilai dalam pribadi dan masyarakat membutuhkan waktu penyemaian yang tidak bisa disebut sebentar. Gambarannya sering mengambil perumpamaan dari bayi, remaja, dewasa awal dan tua. Senagai lembaga keilmuan, pesantren percaya bahwa nilai-nilai kebenaran tidaklah terbangun secara serta mera karena untuk memahami keseluruhan dalil dan kesaksian harus disertai pula dengan pembuktian dan klarifikasi. Sebagai lembaga pelatihan, pesantren percaya bahwa tidak ada cara instan untuk memampukan peserta didik secepat memprogram perangkat komputasi.
Kekritisan pesantren terbangun oleh wataknya yang merekam banyak hal sekaligus bahkan dalam rentang pewarisan yang anjang. Perubahan-perubahan sosial dan juga pasang surut penghidupan warga masyarakat tidak luput dari perhatiannya karena memang pesantren peka akan tanda-tanda zaman sebagai buah dari keterkaitan dengan denyut dinamika masyarakat itu.
Kehadiran pesantren dengan kiai di dalamnya mungkin tidak bisa mengelakkan hambatan-hambatan psikososial serupa itu, apalgi pesantren selalu dirancang untuk dapat terselenggara dalam rentang waktu panjang, bila mungkin menembus batas-batas generasi. Jika ada yang berhasil melewati rintangan-rintangan psikososial itu, amka layak disebut berhasil. Padahal rintangan yang ada tidak hanya faktor-faktor psikososial, melainkan juga struktural, kultural dan bahkan kadang-kadang politik. Keberhasilan itulah yang hendak digali dari pengalaman pesantren selama ini.
B. Rumusan Masalah
Dalam pembahasan makalan ini kami membatasi perumusan masalah yaitu:
1. Bagaimana prioritas kajian di pesantren?
2. Bagaimana kurikulum yang memberdayakan di pesantern?
C. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini diantaranya yaitu:
1. Untuk memaparkan sedikit tentang praktis penyelenggaraan efektif pesantren di Indonesia.
2. Untuk memenuhi tugas terstruktur mata kuliah Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia.
BAB II
PRAKTIS PENYELENGGARAAN EFEKTIF PESANTREN
A. Melakukan Persiapan Sosial
Pesantren-pesantren pada umumnya dirintis melalui dialog dengan lingkugan tempat didirikan. Dalam ungkapan lain, persiapan sosial sebelum pesantren didirikan merupakan proses yang dilalui hampir semua pesantren, baik pesantren kecil maupun besar. Pada awalnya, persiapan sosial ini tentu harus dipahami dalam bentuknya yang sederhana. Ada hubungan erat antara pendirian pesantren di satu pihak dan kebutuhan masyarakat di pihak lain. Kebutuhan-kebutuhan itu perlu dipahami dalam pengertiannya yang luas. Persiapan sosial biasanya merupakan upaya hidup bersama masyarakat. Kebersamaan itu bermanfaat bagi para perintis pesantren untuk menyelami kebutuhan masyarakat sehingga kontekstualisasi ajaran Islam dengan realitas kehidupan masyarakat dapat dirancang untuk diperankan oleh pesantren di situ. Pendiri pesantren di masa-masa awal yang dinisbatkan kepada Walisongo dalam penyebaran islam, dan pendirian pesantren secara khuss selalu menggunakan pendekatan yang sesuai dengan lingkungan masyarakat. Dengan demikian penolakan masyarakat, lambat atau cepat berubah menjadi sikap makhlum, penerimaan atau bahkan dukungan dari dukungan yang setengah hai kemudian berubah menjadi dukungan total. Hal itu dapat menjadi suatu kekuatan besra untuk menegakkan nilai-nilai ajaran Islam dan membebaskan masyaakat dari ketertindasan sosial dan budaya. Perihal ketertindasan itu bisa diuraikan sebagai berikut. Untuk mengejar pertumbuhan ekonomi biasanya industri dan pusta perdagangan dipilih sebagai modus. Sebagaimana yang terjadi di desa Cukir tempat pesantren Tebuireng. Dalam tataran ini, keberadaan pesantren Tebuireng sejak awal didirikannya telah dihadapkan pada kemajuan teknologi Barat dan secara lamngsung mempengaruhi pola pikir dna tingkah laku santri Tebuireng.
Persiapan sosial yang lain adalah pembentukan dan pengembangan kapasitas keilmuan yang dilakukan melalui penimbaan ilmu yang berkelanjutan dari para calon pendiri epsantren. Sebelum mendirikan pesantren, mereka hampir dipastikan nyantri terlebih dahulu di suatu pesantren atau beberapa pesantren yang dianggap cukup terkenal. Setelah kepulangan dari nyantri, mereka membangun relais sosial. Pada umumnya, para santri ini, merupakan musafir pencari ilmu yang berkelana dari satu pesantren ke pesantren yang lain.
Pesantren selalu membutuhkan persiapan sosial melebihi lembaga pendidika lainnya, dikarenakan:
1. Keterkaitan dengan komunitas
Keterkaitan pesantren dengan komunitas dapat dilihat dari kenyataan bahwa para snatri, guru dan penyelenggara berkegiatan tidak secara terpisah-pisah. Dalam pola ini terbangun komuniyas. Hubungan seperti itu membangun jenis keanggotaan yang terbina secara berangsur-angsur.
2. Sosok pembelajarannya dibangun dalam kearifan lokal
Semua pesantren mengajarkan ilmu agama Islam yang mendasarkan pada sumber-sumber buku hasil pengembangan para ulama dalam rentang berabad-abad lamanya. Pembelajarannya dibangun dalam kearifan lokal tempa pesantren itu dirintis dan berkembang.
3. Pemeliharaan tapal batas
Kebanyakan pesantren memiliki hubungan yang cair dengan masyarakatnya. Meskipun begitu, untuk meyemaikan isi kurikulumnya pesantren membutuhkan ruang sosial dan intelektual tersebndiri sebagai sebulah lembaga pendidikan yang jelas batas-batasnya.
4. Tipe ideal pesantren adalah sebagai simpul panutan
Pengalaman warga pesantren lebih intensif dan ekstensif daripada masyarakat sekitarnya dan mandat pesantren yang diterima dari masyarakat pendukungnya memang memungkinkan untuk itu. Warga epsantren lebih bersungguh-sungguh mempelajari dan menjalankan ajaran agama.
5. Terselenggara sebagai lembaga yang mandiri
Kedekata dengan komunitas, sosok pembelajaran yang dibangun dalam kearifan lokal, kejelasan tapal batas dan lingkungan dalam relasi yang cair dan sosok pesantren sebagai simbol pantutan menjadikannya sebagai lembaga yang mandiri.
Persiapan sosial perlu dilakukan secara berkala untuk mengukuhkan manfaat kehadiran pesantern dalam amsyarakat yang terus-menerus mengalami perubahan ketokohan, jejaring dan pranata. Persiapan itu berkaitan dengan hal-hal sebgai berikut:
1. Pembacaan realitas sosial, yaitu meliputi menentukan posisi, mengumpulkan dan menyusun data, melakukan telaah, baik telaah historis, telaah struktur, telaah nilai, telaah respons dan telaah masa depan serta penarikan kesimpulan.
2. Perumusan masalah, meliputi masalah keagaam secara khusus, masalah sosial, masalah kewarganegaraan, masalah ekonomi, masalah budaya, masalah ilmu pengetahuan dan teknologi, maslaah lingkungan hdiu dan masalah perkotaan.
B. Perencanaan
Setidaknya rencana itu mempunyai suatu tujuan yang dirumuskan secara jelas, mencerminkan rangkaian kegiatan yang dipilih dengan sikap yang jelas dan logis, menetapkan tanggung jawab dan tugas bagi pelaku atau kelompok pelaku serta menggabungkan kegiatan, tugas-tugas dan tanggung jawab untuk memungkinkan tujuan atau serangkaian tujuan yang dapat dicapai.
1. Empat pertimbangan
Rencana selalu mempertimbangkan empar prinsip yaitu kejelasan kegiatan, para perencana, partisipais dalam proses dan status rencana. Kegiatan apa saja yang akan dilaksanakan hendakna jelas baik tujuannya untuk memecahkan amsalah yang sedang dihadapi, mewujudkan skala prioritas, merumuskan cara pelaksanaan, menetapkan orang atau kelompok yang dimaksud untuk memperoleh manfaat, menunjuk penanggung jawab pelaksanaan dan memperhitungkan biaya.
2. Daur program
Dilihat dari sisi dinamika perencanaan maka terlihat bekerjanya dua kekuatan yang berhadapan . kekuatan pertama mendorong perubahan dan yang kedua menghambatnya. Kekuatan yang mendorong perubahan adalah tekana kuat dari pemegang kekuasaan , prospek program, dukungan dari pemasok sumber daya, meningkatnya kapasitas pengelola, lahirnya gagasan pembaharuan, tuntutan masyarak yang menaruh kepercayaan dan adanya ancaman sanksi hukum. Kekuatan-kekuatan yang menghambat perubahan adalah ketidakpercayaan antar pelaksana dan pemimpin, kelelahan untuk berubah, kegagalan mengelola konflik, gagap teknologi, perlawanan kelompok dominan, kekurangan saluran komunikasi dan keterbatasan sumber daya.
3. Alat Perencanaan
Salah satu alat perencanaan adalah sebuah paket yang terdiri atas pohon masalah, telaah tujuan, matrisk rangking, matriks pemecahan masalah dan matrik rencana kerja. Pohon masalah membantu menelaah hubungan sebab akibat dari faktor-faktor pengaruh, masalah utama, penyebab pokok, inti masalah dan dampak faktor-faktor pengaruh, masalah utama, penyebab pokok, inti masalah dan dampak buruk. Disebut pohon masalah karena memang kita pelajari dari sebuah pohon.
4. Masa lalu dan masa depan
Perencanaan adalah ikhtiar untuk menghubungkan masa lalu, kini dan emndatang. Apa saja yang baik dan buruk di setiap amsa itu berguna dalam perencanaan. Masa lalu yang psoitif memberikan ajaran dan teladan. Pesantren selalu bergairah mndalami ajaran-ajaran agama Islam melalui berbagai mata pelajaran dan diragakan ke dalam praktik hidup sehari-hari di pesantren berdasarkan teladan. Masa lalu yang negatif berisikan kegagalan dan setumpuk persoalan yang belum selesai. Di banyak pesantren persoalan itu didaftar sebagai persoalan generasional. Jika semua itu digali secara sadar kita memperoleh pelajaran.
5. Perumusan perencanaan
Muara daris emua persiapan adalah rumusan perencanaan. Untuk keperluan ini terdapat dua sgei yang perlu diperhatikan yaitu proses dan isi perencanaan.
a. Proses Perencanaan
1) Melibatkan wakil masyarakat dan pemangku kepentingan
2) Memperhatikan pertimbangan-pertimbangan normatif perencanaan pesantren
b. Isi Perencanaan
1) Kegiatan apa yang akan dilakukan dan bagaimana kaitan kegiatan dengan misi pesantren.
2) Tujuan apa yang akan dijangkau melalui kegiatan itu.
3) Sasaran, siapa yang akan menerima manfaat dari kegiatan itu.
4) Pelaku, siapa yang akan menjadi pelaku (narasumber, pelatih atau lainnya), siapa yang bertangung jawab.
5) Biaya, berapa jumlah biaya yang dibutuhkan.
6) Tempat, dimanakah kegiatan itu akan dilaksanakan
7) Sumber daya pendukung, sumber daya pendukung apa sajakah yang dibutuhkan untuk kegiatan tersebut.
8) Panduan pelaksanaan, apakan peran-peran pelaku kegiatan sudah diatur, bagaimana rumusan standar mutu pelaksanaan kegiatan tersebut.
9) Evaluasi, bukti-bukti apa yang digunakan sebagai bahanevaluasi, bagaimana, kapan dan dimana akan diadakan evaluasi.
C. Desain Lembaga
Desain kelembagaan perlu mempertimbangkan kompleksitas, formalisasi, sentralisasi dan kepemilikan.
1. Kompleksitas
Berhubungan dengan pembedaan-pembedaan dalam pesantren baik secara vertikal, horizontal maupun kewilayahan.
2. Formalisasi
Berkaitan dengan pmbakuan aturan-aturan dan prosedur organisasi pesantren. Pembakuan itu berkaitan dengan standarisasi dan peluang untuk fleksibilitasnya.
3. Sentralisasi
Berhubungan dengan kewenangan membuat keputusan. Pada beberapa pesantren pembuatan keputusan dilakukan sangat sentralistik.
4. Kepemilikan
Berhubungan dengan kepemilikan dan pengelolaan aset pesantern terdapat lima tumpuan yaitu keluarga pendiri, komunitas setempat, yayasan pendidikan, badan wakaf dan organisasi kemasyarakata.
D. Menggalang Dukungan
1. Motivasi di balik dukungan
a. Orang yang mendukung karena kebutuhannya terpenuhi
1) Kebutuhan yang terkait dengan proses pendidikan yang menjadi harapan agar pesantren
2) Kebutuhan yang terkait dengan hasil didikan
b. Orang mendukung karena dukungannya berarti
1) Keberartian manajerial artinya dukungan yang diberikan berguna untuk mendukung pengelolan manajerial pesantren.
2) Keberartian keagamaan maksudnya dukungan itu berguna bagi pemberi untuk memenuhi panggilan keagamaan.
3) Keberartian sosial yaitu meningkatkan mutu hubungan antara pemberi dukungan dengan pesantren dan komunitasnya.
c. Orang mendukung karena jelas bentuk dukungan yang dapat diberikan
1) Kejelasan bentuk dukungan, aakah dukungan berupa sumbangan pemikiran, pencitraan, dan, tenaga atau lainnya
2) Kejelasan skala dukungan berkaitan dengan kesesuaian antara dukungan yang diharapkan dengan kemampuan warga.
2. Dukungan keilmuan
Untuk melestarikan pesantren dan pendidikannya, para pendiri berusaha untuk selalu menjaga dan mengembangkan kualitas keilmuan. Dalam pandangan pesantren, aspek kualitas keilmuan ini merupakan harga yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Untuk itu pesantren tidak henti-hentinya mencai dan mengalang dukungan keilmuan.
3. Dukungan keuangan
Hampir semua pesantren terutama yang besar dan menyejarah tumbuh dan berkembang atas hasil tangan dingin sang pengasuh. Yayasan-yayaan yang didirikan oleh pesantren biasanya dirancang untuk mengelola dan memilah kekayaan pesantren dan kiai beserta keluarganya sehingga menjadi jelas bagian yang berasal dari milik masyarakat dan milik kiai beserta keluarganya. Sebagian endisir pesantren mewakafkan tanahnya untuk menjamin kelangsungan dalam jangka panjang.
BAB III
KESIMPULAN
Dari luar umumnya pesantren tampak sederhana. Organisasi dan manejemennpun tidak tampak canggih. Tapi yang tampak sebenarnya bukanlah yang sesungguhnya dialami oleh pesantren sepanjang perjalannanya. Sederhana apaun pesantren itu disertai pertimbangan masak-masak dari para eprintisnya. Langkah demi langkah terhayati dan memuat pelajaran yang berharga. Untuk melihat praktis penyelenggaraan pesantren yang efektif, kita dapat melacaknya dari persiapan sosial, pengembangan pendidikannya serta penemuan da penentuan format kurikulumnya. Aspek yang lain juga dapat dibaca dari upaya penggalangan dukungan keilmuan, pendanaan pesantren dan pola perekrutan santri dan upaya menjaga pengakuan dari berbagai pihak, terutama dari masyaakat. Selain itu juga didiskusikan upaya pesantren dalam pengelolaan fungsi mediatif dan pengelolan simbol.
DAFTAR PUSTAKA
Handoko Soetomo. Struktur Desain Organisasi : Suatu Pendekatan Kerangka Kerja Organisasi”. 1990.
Marwan Saridjo, et all. Sejarah Pondok Pesantren di Indonesia, Jakarta : Dharma Bhakti, 1982.
M Dian Nafi’ et all. Praktis Pembelajaran Pesantren.Yogyakarta : ITD, 2007.
Penyelenggaraan Pendidikan di Pesantren. (http://wordpress.com, diakses tanggap 11 Juni 2011.
Sulthon,M dan M Khusnuridlo. Manajemen Pondok Pesantren dalam Perspektif Global. Yogyakarta : Laksbang Pressindo. 2006.
Zamakhsyari Dhofier. Tradisi Pesantren : Studi Tentang Pandangan Hidup Kiai. Cetakan Pertama, Jakarta : LP3ES,1982.
Tampilkan postingan dengan label makalah peran pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label makalah peran pesantren. Tampilkan semua postingan
Rabu, 02 April 2014
Selasa, 25 Maret 2014
Makalah Peran Pesatren di Indonesia
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Filosofi pendidikan pesantren didasarkan atas hubungan yang bermakna antara manusia, ciptaan atau makhluk dan Alloh SWT. Hubungan itu baru bermakna jika bermuatan atau menghasilkan keindahan dan keagungan. Manusia bisa dilihat dalam dua tataran yaitu basyar dan insan. Basyar menunjuk pada segi yang tampak pada manusia baik, pertumbuhan maupun kedewasaannya. Sementara dalam konsep insan terlihat totalitasnya meliputi jiwa dan raga. Potensi manusia adalah jasad, akal, nafsu, ruh dan kalbu. Kemampuan mengatur dan mengarahkan kelima potensi itu memungkinkan manusia tersapa oleh firman-Nya.
Selain aspek ruh manusiawi pelakunya sebagai seorang hamba Alloh SWT dan khalifah-Nya, maka secara kelembagaan ruh pesantren yang serba ibadah itu dijabarkan menurut sifat agama Islam yaitu agama wahyu, agama keilmuan, agama kemanusiaan dan agama kemajuan. Dengan ruh itu mudah dipahami pembelajaran pesantren dan pergumulannya yang selalu terkait dengan kitab-kitab klasik keagamaan, keterbukaan pada masuknya aspek-aspek keilmuan melalui kehadiran madrasah / sekolah dan perguruan tinggi, pemihakan kepada hak-hak asasi manusia warga negara dan kepeloporannya dalam berpikir kritis untuk kemajuan.
B. Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang di atas dapat dirumuskan permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini yaitu:
1. Bagaimana peran pesantren di Indonesia?
C. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan ini adalah:
1. Untuk memenuhi tugas terstruktur mata kuliah Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia pada semester jurusan S1 PAI di STAINU Kebumen
2. Untuk memberikan sedikit gambaran tentang kondisi pesantren di Indonesia.
3. Menambah khasanah budaya bangsa dalam bidang pendidikan.
BAB II
PERAN PESANTREN
Pesantren mengembangkan beberapa peran, utamanya sebagai lembaga pendidikan. Jika ada lembaga pendidikan Islam yang sekaligus juga memainkan peran sebagai lembaga bimbingan, keilmuan, kepelatihan, pengembangan masyarakat, maka itu adalah pondok pesantren. Pesantren dalam kehidupan di Indonesia mempunyai peran, diantaranya sebagai :
A. Lembaga Pendidikan
Tidak semua pesantren menyelenggarakan madrasah, sekolah dan kursus seperti yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan di luarnya. Keteraturan pendidikan di dalamnya terbentuk karena pengajian yang bahannya diatur sesuai urutan penjenjangan kitab. Penjenjangan itu diterapkan secara turun temurun membentuk tradisi kurikuler yang terlihat dari segi standar isi kualifikasi pengajar dan santri lulusannya.
Pesantren-pesantren dalam rumpun pondok modern Darussalam, Gontor, Ponorogo, memiliki paket dan jenjang yang khas. Penguasaan kebahasaan dan metodologi menjadi ciri khas rumpun pesantren modern. Sekarang rumpun pesantren Gontor telah beranggotakan 179 pesantren di tanah air. Perkembangan program akan berjalan secara berangsur-angsur seiring banyaknya santri yang telah selesai dari suatu jenjang dan melanjutkan pelajaran ke jenjang selanjutnya. Santri yang lebih senior akan segera mendapatkan tugas membimbing sejawatnya yang lebih yunior. Demikianlah setahap demi setahap tersedia komunitas pembelajar yang dapat menyelenggarakan satuan pendidikan yang utuh dan lengkap.
B. Lembaga Keilmuan
Pesantren dapat juga sebagai lembaga keilmuan. Kitab-kitab produk para guru pesantren dipakai juga di pesantren lainnya. Luas sempitnya atas kitab-kitab itu bisa dilihat dari banyaknya yang ikut mempergunakannya. Bimbingan menulis menjadi kebutuhan di pesantren sejak lama. Kebiasaan mencatat menjelaskan fakta tentang banyaknya buku kajian keagamaan dan sosial yang melimpah dalam dua dasawarsa terakhir ini di tanah air. Buku merupakan bagian dari tradisi kosmopolitan. Dialog keilmuan yang terjadi melalui buku-buku itu telah berkembang sejak ratusan tahun yang lalu dan menjadi penanda kosmopolitan pesantren yang justru dibangun dari tradisi kitab kuning. Dengan pengembangan karya ilmiah itu terjadi pembaharuan metodologi kajian Islam di kalangan pesantren apalagi setelah akses untuk belajar di universitas Timur Tengah dan belahan dunia lainnya meningkat sejak akhir abad ke 19. Dalam rentang waktu yang panjang umat islam telah merekam berbagai perkembangan sosial, ekonomi, politik, sosial, budaya dan keilmuan yang mendorong pembaharuan alamiahnya.
C. Lembaga Pelatihan
Pelatihan awal yang dijalani para santri adalah mengelola kebutuhan diri santri sendiri sejak makan, minum, pengelolaan barang-barang pribadi sampai pada jadwal belajar. Pada tahap ini kegiatan pembelajaran masih dibimbing oleh santri yang lebih senior. Jika tahapan ini dikuasai dengan baik, maka santri akan menjalani pelatihan berikutnya untuk dapat menjadi anggota komunitas yang aktif dalam rombongan belajarnya. Disitu santri belajar bermusyawarah, menyampaikan pidato, mengelola tugas organisasi santri, mengelola urusan operasional di pondok dan mengelola tugas membimbing santri yuniornya.
Pelatihan atau kursus bisa saja berkembang menjadi lembaga pendidikan ketrampilan yang diakreditasi oleh kantor dinas pemerintah, memperoleh pengakuan luas dan menjangkau peserta dari luar pesantren. Pelatihan bisa juga berlanjut jika santri menyediakan waktu di pesantren setamat dari jenjang sekolah atau madrasah tertinggi yang diikutinya. Di sini santri dilatih untuk dapat mengelola lembaga yang diselenggarakan oleh pesantren. Kualifikasi dan tanggung jawab santri akan meningkat sejalan dengan tahap penguasaannya atas standar kompetensi yang diterapkan di lembaga pesantren.
D. Lembaga Pemberdayaan Masyarakat
Dalam melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat, pesantren pada umumnya benar-benar mandiri dan telah selektif pada lembaga-lembaga penyandang dana dari luar masyarakatnya sendiri. Jenis pengembangan masyarakat yang lebih menjadikan masyarakat pesantren sebagai pasar bagi produk asing menjadi sorotan tajam. Konsep pengembangan masyarakat pun diganti dengan pemberdayaan masyarakat yaitu yang dapat memperbaiki tata usaha, tata kelola dan tata guna sumber daya yang ada pada masyarakat pesantren. Di dalam pemberdayaan masyarakat itu pesantren berteguh pada lima asas yaitu:
a. Menempatkan masyarakat sebagai pelaku aktif bukan sasaran pasif
b. Penguatan potensi lokal baik yang berupa karakteristik, tokoh, pranata dan jejaring
c. Peran serta warga masyarakat sejak perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pemantauan, refleksi dan evaluasi.
d. Terjadinya peningkatan kesadaran, dari kesadaran semu dan kesadaran naif, ke kesadaran kritis
e. Kesinambungan setelah program berakhir
Sebagai lembaga pendidikan, pesantren percaya bahwa manusia akan meningkat martabatnya seiring dengan pengetahuan nilai-nilai did alam dirinya. Penanaman atau penumbuhan nilai-nilai dalam pribadi dan masyarakat membutuhkan waktu penyemaian yang tidak sebentar. Menurut Ahmad Mahmudi ada 15 prinsip untuk diperhatikan dalam setiap pemberdayaan masyarakat, yaitu:
1. Pendekatan untuk meningkatkan kehidupan sosial dengan cara mengubahnya
2. Keseluruhan bentuk partisipasi dalam arti yang murni
3. Kerjasama untuk perubahan
4. Membangun mekanisme kritik dari komunitas
5. Proses membangun pemahaman situasi dan kondisi sosial secara kritis
6. Melibatkan sebanyak mungkin orang dalam teoritisasi kehidupan sosial mereka
7. Menempatkan pengalaman, gagasan, pandangan dan asumsi sosial individu maupun kelompok untuk diuji
8. Semua orang dimudahkan untuk menjadikan pengalamannya sebagai objek riset
9. Tindakan warga dirancang sebagai proses politik alam arti luas
10. Program mensyaratkan adanya analisis relasi sosial kritis
11. Memulai isu kecil dan mengaitkannya dengan relasi-relasi yang lebih luas
12. Memulai dengan siklus proses yang kecil
13. Memulai dengan kelompok sosial yang kecil untuk berkolaborasi dan secara lebih luas dengan kekuatan-kekuatan kritis lain
14. Mensyaratkan semua orang mencermati dan membuat rekaman proses
15. Mensyaratkan semua orang memberikan alasan rasional yang mendasari kerja sosial mereka
Dengan perspektif itu, maka pemberdayaan masyarakat yang dilakukan pesantren tidak menggurui, melainkan menemani masyarakat untuk bertindak menentukan, menemani masyarakat untuk memaknai tindakannya dan menemani masyarakat untuk merangkai makna-makna itu menjadi pengetahuan bersama. Pengetahuan ini akan menjadi bahan bagi masyarakat dan pesantren untuk membenahi diri.
E. Lembaga Bimbingan Keagamaan
Pesantren ditempatkan sebagai bagian dari lembaga bimbingan keagamaan oleh masyarakat pendukungnya. Setidaknya pesantren menjadi tempat bertanya masyarakat dalam hal keagamaan. Mandat pesantren dalam hal ini tampak sama kuatnya dengan mandat pesantren sebagai lembaga pendidikan. Di bebeberapa daerah, identifikasi lulusan pesantren pertama kali adalah kemampuannya menjadi pendamping masyarakat untuk urusan ritual keagamaan sebelum mandat lain yang berkaitan dengan keilmuan, kepelatihan dan pemberdayaan masyarakat.
Faktor yang mendukung pesantren sebagai lembaga bimbingan keagamaan adalah kualifikasi kiai dan jaringan kiai yang memiliki kesamaan panduan keagamaan terutama di bidang fiqih dan kesamaan pendekatan dalam merespon masalah-masalah yang berkembang di masyarakat.
Semua itu menjadi pertimbangan bagi sejumlah pesantren untuk menata ulang pembelajaran dengan lebih menekankan dua hal yaitu relevansi akademik dan relevansi sosial kurikulum pesantren. Relevansi akademik menunjuk pada kesesuaian isi kurikulum dengan perkembangan ilmu pengetahuan di masyarakat dan relevansi sosial menunjuk pada kesesuaian isi kurikulum dengan permasalahan hidup masyarakat.
Untuk menjawab persoalan itu banyak lulusan pesantren mendirikan madrasah, sekolah unggulan, terpadu atau program khusus di perkotaan. Cita-cita kekotaan sengaja ditonjolkan dalam rancangan kurikulum, sarana prasarana, sistem pengorganisasian sumber daya, bahasa pengantar dan pengelolaan simbol, Sebagai lulusan pesantren juga membentuk kelompok-kelompok pengajian yang diorganisasikan lebih rapi di berbagai kota. Dalam kelompok pengajian itu mereka memperoleh kelanjutan kehangatan komunitas tradisional dan pelajaran kepesantrenan yang mereka tinggalkan karena tuntutan pekerjaan mengharuskan mereka meninggalkan daerah asal dan berkediaman di kota-kota.
F. Simpul Budaya
Pesantren dan simpul budaya itu sudah seperti dua sisi dari mata uang yang sama. Bidang garapannya yang berada di tataran pandangan hidup dan penguatan nilai-nilai luhur menempatkannya ke dalam peran itu, baik yang berada di daerah pengaruh kerajaan islam maupun di luarnya. Pesantren berwatak tidak larut atau menentang budaya di sekitarnya dan selalu kritis sekaligus membangun relasi harmonis dngan kehidupan di sekelilingnya. Pesantren hadir sebagai sebuah sub-kultur, budaya sandingan yang biasa selaras dengan budaya setempat sekaligus tegas menyuarakan prinsip syari’at. Di situlah pesantren melaksanakan tugas dan memperoleh tempat.
Ukuran baik buruk dan beragam rujukan seni yang berkembang di masyarakat bisa dikenali hubungannya dengan dikembangkan oleh pesantren. Dalam status itu kiai bertindak sebagia salah satu pengatur arus dari masyarakat pesantren dan luarnya atau sebaliknya. Peran itu menempatkan pada keharusan berposisi tengah, menerima lebih banyak informasi memiliki tingkat keterhubungan individual yang lebih tinggi daripada warga lainnya, merekam lebih banyak opsi yang diajukan dalam berbagai pertemuan serta memudahkan masyarakat untuk membangun kembali pengetahuan mereka dalam menjawab persoalan-persoalan yang kadangkala belum ada contoh pemecahannya.
Kemampuan para kiai dalam menggali manfaat dari kemudian lalu lintas barang dan informasi internasional kini dilipatgandakan oleh temuan perangkat elektronik yang menyediakan sumber belajar digital yang segera menjadi perpustakaan raksasa dan bisa tersedia dalam lemari dan meja para santri dalam kemasan perangkat komputer yang semakin kecil bentuknya dan mudah dipindah-pindahkan. Pembelajaran agama tida bisa dilepaskan dari keteladanan guru dalam peragaan dalil-dalilnya berikut bimbingan yang memampukan peserta didik menemukan dan menghayati nilai-nilai agama ke dalam praktik hidup sehari-hari. Pengajaran dan pembimbingan ini memperkuat hubungan antara guru dengan murid yang menjadi cikap bakal terbangunnya komunitas pembelajar. Komunitas pembelajar lebih sesuai sebagai basis bangunan umat dala pandangan pesantren. Kehadiran peantren semakin diperlukan seiring dengan kemudahan-kemudahan yang sebagian telah menimbulkan ketergantungan dan pelemahan kedaulatan masyarakat lokal atas nilai-nilai, pengetahuan, komunitas dan sumber daya mereka. Refleksi atas pengalaman pendampingan untuk mediasi di berbagai daerah konflik memberikan pelajaran bahwa pesantren diharapkan dapat mengembangkan panduan hidup nirkekerasan dalam penyelesaian masalah-masalah konfliktual. Panduan hidup itu tidak menyarankan pilihan sika untuk menghindar dari konflik yang terjadi. Kecakapan untuk berunding, memulihkan hubungan, mediasi, arbitrasi, penyelesaian masalah melalui peradilan dan mengawal masalah sampai ke tingkat legislasi di parlemen kiranya sudah mendesak dimasukkan ke dalam muatan kurikulum pesantren.
BAB III
KESIMPULAN
Pesantren dalam kehidupan di Indonesia mempunyai peran, diantaranya sebagai Lembaga Pendidikan, tidak semua pesantren menyelenggarakan madrasah, sekolah dan kursus seperti yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan di luarnya. Lembaga Keilmuan, Pesantren dapat juga sebagai lembaga keilmuan. Kitab-kitab produk para guru pesantren dipakai juga di pesantren lainnya. Luas sempitnya atas kitab-kitab itu bisa dilihat dari banyaknya yang ikut mempergunakannya. Bimbingan menulis menjadi kebutuhan di pesantren sejak lama. Kebiasaan mencatat menjelaskan fakta tentang banyaknya buku kajian keagamaan dan sosial yang melimpah dalam dua dasawarsa terakhir ini di tanah air. Lembaga Pelatihan, pelatihan awal yang dijalani para santri adalah mengelola kebutuhan diri santri sendiri sejak makan, minum, pengelolaan barang-barang pribadi sampai pada jadwal belajar. Pada tahap ini kegiatan pembelajaran masih dibimbing oleh santri yang lebih senior. Lembaga Pemberdayaan Masyarakat, dalam melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat, pesantren pada umumnya benar-benar mandiri dan telah selektif pada lembaga-lembaga penyandang dana dari luar masyarakatnya sendiri. Lembaga Bimbingan Keagamaan, pesantren ditempatkan sebagai bagian dari lembaga bimbingan keagamaan oleh masyarakat pendukungnya. Setidaknya pesantren menjadi tempat bertanya masyarakat dalam hal keagamaan. Mandat pesantren dalam hal ini tampak sama kuatnya dengan mandat pesantren sebagai lembaga pendidikan. Di bebeberapa daerah, identifikasi lulusan pesantren pertama kali adalah kemampuannya menjadi pendamping masyarakat untuk urusan ritual keagamaan sebelum mandat lain yang berkaitan dengan keilmuan, kepelatihan dan pemberdayaan masyarakat. Simpul Budaya, Pesantren dan simpul budaya itu sudah seperti dua sisi dari mata uang yang sama. Bidang garapannya yang berada di tataran pandangan hidup dan penguatan nilai-nilai luhur menempatkannya ke dalam peran itu, baik yang berada di daerah pengaruh kerajaan islam maupun di luarnya. Pesantren berwatak tidak larut atau menentang budaya di sekitarnya dan selalu kritis sekaligus membangun relasi harmonis dngan kehidupan di sekelilingnya. Pesantren hadir sebagai sebuah sub-kultur, budaya sandingan yang biasa selaras dengan budaya setempat sekaligus tegas menyuarakan prinsip syari’at. Di situlah pesantren melaksanakan tugas dan memperoleh tempat.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Mahmudi. Prinsip-Prinsip Kerja Participatory Action Research (PAR). Yogyakarta : Insist.
Gerakan Sempalan di Kalanga Umat Islam Indonesia latar Belakang Sosial-Budaya. (Jakarta : Ulumul Qur’an Vol.III No.1, 1992)
http://wordpress.com. Peran Pesantren di Indonesia, diakses tanggal 2 Juni 2011.
KH Abdullah Syukr Zarkasyi,MA. Gontor dan Pembaharuan Pendidikan Pesantren. (Jakarta : Rajagrafindo Persada, 2005).
M Dian Nafi,dkk. Praktis Pembelajaran Pesantren. (Yogyakarta : LKis {elangi Aksara, 2007).
M Quraish Shihab. Wawasan Al Qur’an : Tafsir Maudlu’I atas Perbagai Persoalan Umat, (Jakarta : Mizan, 1996).
Muhsin ‘Abd Al Hamid. At Tarbiyah as Sulukiyah dalam Adib Ibrahim ad Dabbagh, et al, opcit, hlm 75.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Filosofi pendidikan pesantren didasarkan atas hubungan yang bermakna antara manusia, ciptaan atau makhluk dan Alloh SWT. Hubungan itu baru bermakna jika bermuatan atau menghasilkan keindahan dan keagungan. Manusia bisa dilihat dalam dua tataran yaitu basyar dan insan. Basyar menunjuk pada segi yang tampak pada manusia baik, pertumbuhan maupun kedewasaannya. Sementara dalam konsep insan terlihat totalitasnya meliputi jiwa dan raga. Potensi manusia adalah jasad, akal, nafsu, ruh dan kalbu. Kemampuan mengatur dan mengarahkan kelima potensi itu memungkinkan manusia tersapa oleh firman-Nya.
Selain aspek ruh manusiawi pelakunya sebagai seorang hamba Alloh SWT dan khalifah-Nya, maka secara kelembagaan ruh pesantren yang serba ibadah itu dijabarkan menurut sifat agama Islam yaitu agama wahyu, agama keilmuan, agama kemanusiaan dan agama kemajuan. Dengan ruh itu mudah dipahami pembelajaran pesantren dan pergumulannya yang selalu terkait dengan kitab-kitab klasik keagamaan, keterbukaan pada masuknya aspek-aspek keilmuan melalui kehadiran madrasah / sekolah dan perguruan tinggi, pemihakan kepada hak-hak asasi manusia warga negara dan kepeloporannya dalam berpikir kritis untuk kemajuan.
B. Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang di atas dapat dirumuskan permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini yaitu:
1. Bagaimana peran pesantren di Indonesia?
C. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan ini adalah:
1. Untuk memenuhi tugas terstruktur mata kuliah Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia pada semester jurusan S1 PAI di STAINU Kebumen
2. Untuk memberikan sedikit gambaran tentang kondisi pesantren di Indonesia.
3. Menambah khasanah budaya bangsa dalam bidang pendidikan.
BAB II
PERAN PESANTREN
Pesantren mengembangkan beberapa peran, utamanya sebagai lembaga pendidikan. Jika ada lembaga pendidikan Islam yang sekaligus juga memainkan peran sebagai lembaga bimbingan, keilmuan, kepelatihan, pengembangan masyarakat, maka itu adalah pondok pesantren. Pesantren dalam kehidupan di Indonesia mempunyai peran, diantaranya sebagai :
A. Lembaga Pendidikan
Tidak semua pesantren menyelenggarakan madrasah, sekolah dan kursus seperti yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan di luarnya. Keteraturan pendidikan di dalamnya terbentuk karena pengajian yang bahannya diatur sesuai urutan penjenjangan kitab. Penjenjangan itu diterapkan secara turun temurun membentuk tradisi kurikuler yang terlihat dari segi standar isi kualifikasi pengajar dan santri lulusannya.
Pesantren-pesantren dalam rumpun pondok modern Darussalam, Gontor, Ponorogo, memiliki paket dan jenjang yang khas. Penguasaan kebahasaan dan metodologi menjadi ciri khas rumpun pesantren modern. Sekarang rumpun pesantren Gontor telah beranggotakan 179 pesantren di tanah air. Perkembangan program akan berjalan secara berangsur-angsur seiring banyaknya santri yang telah selesai dari suatu jenjang dan melanjutkan pelajaran ke jenjang selanjutnya. Santri yang lebih senior akan segera mendapatkan tugas membimbing sejawatnya yang lebih yunior. Demikianlah setahap demi setahap tersedia komunitas pembelajar yang dapat menyelenggarakan satuan pendidikan yang utuh dan lengkap.
B. Lembaga Keilmuan
Pesantren dapat juga sebagai lembaga keilmuan. Kitab-kitab produk para guru pesantren dipakai juga di pesantren lainnya. Luas sempitnya atas kitab-kitab itu bisa dilihat dari banyaknya yang ikut mempergunakannya. Bimbingan menulis menjadi kebutuhan di pesantren sejak lama. Kebiasaan mencatat menjelaskan fakta tentang banyaknya buku kajian keagamaan dan sosial yang melimpah dalam dua dasawarsa terakhir ini di tanah air. Buku merupakan bagian dari tradisi kosmopolitan. Dialog keilmuan yang terjadi melalui buku-buku itu telah berkembang sejak ratusan tahun yang lalu dan menjadi penanda kosmopolitan pesantren yang justru dibangun dari tradisi kitab kuning. Dengan pengembangan karya ilmiah itu terjadi pembaharuan metodologi kajian Islam di kalangan pesantren apalagi setelah akses untuk belajar di universitas Timur Tengah dan belahan dunia lainnya meningkat sejak akhir abad ke 19. Dalam rentang waktu yang panjang umat islam telah merekam berbagai perkembangan sosial, ekonomi, politik, sosial, budaya dan keilmuan yang mendorong pembaharuan alamiahnya.
C. Lembaga Pelatihan
Pelatihan awal yang dijalani para santri adalah mengelola kebutuhan diri santri sendiri sejak makan, minum, pengelolaan barang-barang pribadi sampai pada jadwal belajar. Pada tahap ini kegiatan pembelajaran masih dibimbing oleh santri yang lebih senior. Jika tahapan ini dikuasai dengan baik, maka santri akan menjalani pelatihan berikutnya untuk dapat menjadi anggota komunitas yang aktif dalam rombongan belajarnya. Disitu santri belajar bermusyawarah, menyampaikan pidato, mengelola tugas organisasi santri, mengelola urusan operasional di pondok dan mengelola tugas membimbing santri yuniornya.
Pelatihan atau kursus bisa saja berkembang menjadi lembaga pendidikan ketrampilan yang diakreditasi oleh kantor dinas pemerintah, memperoleh pengakuan luas dan menjangkau peserta dari luar pesantren. Pelatihan bisa juga berlanjut jika santri menyediakan waktu di pesantren setamat dari jenjang sekolah atau madrasah tertinggi yang diikutinya. Di sini santri dilatih untuk dapat mengelola lembaga yang diselenggarakan oleh pesantren. Kualifikasi dan tanggung jawab santri akan meningkat sejalan dengan tahap penguasaannya atas standar kompetensi yang diterapkan di lembaga pesantren.
D. Lembaga Pemberdayaan Masyarakat
Dalam melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat, pesantren pada umumnya benar-benar mandiri dan telah selektif pada lembaga-lembaga penyandang dana dari luar masyarakatnya sendiri. Jenis pengembangan masyarakat yang lebih menjadikan masyarakat pesantren sebagai pasar bagi produk asing menjadi sorotan tajam. Konsep pengembangan masyarakat pun diganti dengan pemberdayaan masyarakat yaitu yang dapat memperbaiki tata usaha, tata kelola dan tata guna sumber daya yang ada pada masyarakat pesantren. Di dalam pemberdayaan masyarakat itu pesantren berteguh pada lima asas yaitu:
a. Menempatkan masyarakat sebagai pelaku aktif bukan sasaran pasif
b. Penguatan potensi lokal baik yang berupa karakteristik, tokoh, pranata dan jejaring
c. Peran serta warga masyarakat sejak perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pemantauan, refleksi dan evaluasi.
d. Terjadinya peningkatan kesadaran, dari kesadaran semu dan kesadaran naif, ke kesadaran kritis
e. Kesinambungan setelah program berakhir
Sebagai lembaga pendidikan, pesantren percaya bahwa manusia akan meningkat martabatnya seiring dengan pengetahuan nilai-nilai did alam dirinya. Penanaman atau penumbuhan nilai-nilai dalam pribadi dan masyarakat membutuhkan waktu penyemaian yang tidak sebentar. Menurut Ahmad Mahmudi ada 15 prinsip untuk diperhatikan dalam setiap pemberdayaan masyarakat, yaitu:
1. Pendekatan untuk meningkatkan kehidupan sosial dengan cara mengubahnya
2. Keseluruhan bentuk partisipasi dalam arti yang murni
3. Kerjasama untuk perubahan
4. Membangun mekanisme kritik dari komunitas
5. Proses membangun pemahaman situasi dan kondisi sosial secara kritis
6. Melibatkan sebanyak mungkin orang dalam teoritisasi kehidupan sosial mereka
7. Menempatkan pengalaman, gagasan, pandangan dan asumsi sosial individu maupun kelompok untuk diuji
8. Semua orang dimudahkan untuk menjadikan pengalamannya sebagai objek riset
9. Tindakan warga dirancang sebagai proses politik alam arti luas
10. Program mensyaratkan adanya analisis relasi sosial kritis
11. Memulai isu kecil dan mengaitkannya dengan relasi-relasi yang lebih luas
12. Memulai dengan siklus proses yang kecil
13. Memulai dengan kelompok sosial yang kecil untuk berkolaborasi dan secara lebih luas dengan kekuatan-kekuatan kritis lain
14. Mensyaratkan semua orang mencermati dan membuat rekaman proses
15. Mensyaratkan semua orang memberikan alasan rasional yang mendasari kerja sosial mereka
Dengan perspektif itu, maka pemberdayaan masyarakat yang dilakukan pesantren tidak menggurui, melainkan menemani masyarakat untuk bertindak menentukan, menemani masyarakat untuk memaknai tindakannya dan menemani masyarakat untuk merangkai makna-makna itu menjadi pengetahuan bersama. Pengetahuan ini akan menjadi bahan bagi masyarakat dan pesantren untuk membenahi diri.
E. Lembaga Bimbingan Keagamaan
Pesantren ditempatkan sebagai bagian dari lembaga bimbingan keagamaan oleh masyarakat pendukungnya. Setidaknya pesantren menjadi tempat bertanya masyarakat dalam hal keagamaan. Mandat pesantren dalam hal ini tampak sama kuatnya dengan mandat pesantren sebagai lembaga pendidikan. Di bebeberapa daerah, identifikasi lulusan pesantren pertama kali adalah kemampuannya menjadi pendamping masyarakat untuk urusan ritual keagamaan sebelum mandat lain yang berkaitan dengan keilmuan, kepelatihan dan pemberdayaan masyarakat.
Faktor yang mendukung pesantren sebagai lembaga bimbingan keagamaan adalah kualifikasi kiai dan jaringan kiai yang memiliki kesamaan panduan keagamaan terutama di bidang fiqih dan kesamaan pendekatan dalam merespon masalah-masalah yang berkembang di masyarakat.
Semua itu menjadi pertimbangan bagi sejumlah pesantren untuk menata ulang pembelajaran dengan lebih menekankan dua hal yaitu relevansi akademik dan relevansi sosial kurikulum pesantren. Relevansi akademik menunjuk pada kesesuaian isi kurikulum dengan perkembangan ilmu pengetahuan di masyarakat dan relevansi sosial menunjuk pada kesesuaian isi kurikulum dengan permasalahan hidup masyarakat.
Untuk menjawab persoalan itu banyak lulusan pesantren mendirikan madrasah, sekolah unggulan, terpadu atau program khusus di perkotaan. Cita-cita kekotaan sengaja ditonjolkan dalam rancangan kurikulum, sarana prasarana, sistem pengorganisasian sumber daya, bahasa pengantar dan pengelolaan simbol, Sebagai lulusan pesantren juga membentuk kelompok-kelompok pengajian yang diorganisasikan lebih rapi di berbagai kota. Dalam kelompok pengajian itu mereka memperoleh kelanjutan kehangatan komunitas tradisional dan pelajaran kepesantrenan yang mereka tinggalkan karena tuntutan pekerjaan mengharuskan mereka meninggalkan daerah asal dan berkediaman di kota-kota.
F. Simpul Budaya
Pesantren dan simpul budaya itu sudah seperti dua sisi dari mata uang yang sama. Bidang garapannya yang berada di tataran pandangan hidup dan penguatan nilai-nilai luhur menempatkannya ke dalam peran itu, baik yang berada di daerah pengaruh kerajaan islam maupun di luarnya. Pesantren berwatak tidak larut atau menentang budaya di sekitarnya dan selalu kritis sekaligus membangun relasi harmonis dngan kehidupan di sekelilingnya. Pesantren hadir sebagai sebuah sub-kultur, budaya sandingan yang biasa selaras dengan budaya setempat sekaligus tegas menyuarakan prinsip syari’at. Di situlah pesantren melaksanakan tugas dan memperoleh tempat.
Ukuran baik buruk dan beragam rujukan seni yang berkembang di masyarakat bisa dikenali hubungannya dengan dikembangkan oleh pesantren. Dalam status itu kiai bertindak sebagia salah satu pengatur arus dari masyarakat pesantren dan luarnya atau sebaliknya. Peran itu menempatkan pada keharusan berposisi tengah, menerima lebih banyak informasi memiliki tingkat keterhubungan individual yang lebih tinggi daripada warga lainnya, merekam lebih banyak opsi yang diajukan dalam berbagai pertemuan serta memudahkan masyarakat untuk membangun kembali pengetahuan mereka dalam menjawab persoalan-persoalan yang kadangkala belum ada contoh pemecahannya.
Kemampuan para kiai dalam menggali manfaat dari kemudian lalu lintas barang dan informasi internasional kini dilipatgandakan oleh temuan perangkat elektronik yang menyediakan sumber belajar digital yang segera menjadi perpustakaan raksasa dan bisa tersedia dalam lemari dan meja para santri dalam kemasan perangkat komputer yang semakin kecil bentuknya dan mudah dipindah-pindahkan. Pembelajaran agama tida bisa dilepaskan dari keteladanan guru dalam peragaan dalil-dalilnya berikut bimbingan yang memampukan peserta didik menemukan dan menghayati nilai-nilai agama ke dalam praktik hidup sehari-hari. Pengajaran dan pembimbingan ini memperkuat hubungan antara guru dengan murid yang menjadi cikap bakal terbangunnya komunitas pembelajar. Komunitas pembelajar lebih sesuai sebagai basis bangunan umat dala pandangan pesantren. Kehadiran peantren semakin diperlukan seiring dengan kemudahan-kemudahan yang sebagian telah menimbulkan ketergantungan dan pelemahan kedaulatan masyarakat lokal atas nilai-nilai, pengetahuan, komunitas dan sumber daya mereka. Refleksi atas pengalaman pendampingan untuk mediasi di berbagai daerah konflik memberikan pelajaran bahwa pesantren diharapkan dapat mengembangkan panduan hidup nirkekerasan dalam penyelesaian masalah-masalah konfliktual. Panduan hidup itu tidak menyarankan pilihan sika untuk menghindar dari konflik yang terjadi. Kecakapan untuk berunding, memulihkan hubungan, mediasi, arbitrasi, penyelesaian masalah melalui peradilan dan mengawal masalah sampai ke tingkat legislasi di parlemen kiranya sudah mendesak dimasukkan ke dalam muatan kurikulum pesantren.
BAB III
KESIMPULAN
Pesantren dalam kehidupan di Indonesia mempunyai peran, diantaranya sebagai Lembaga Pendidikan, tidak semua pesantren menyelenggarakan madrasah, sekolah dan kursus seperti yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan di luarnya. Lembaga Keilmuan, Pesantren dapat juga sebagai lembaga keilmuan. Kitab-kitab produk para guru pesantren dipakai juga di pesantren lainnya. Luas sempitnya atas kitab-kitab itu bisa dilihat dari banyaknya yang ikut mempergunakannya. Bimbingan menulis menjadi kebutuhan di pesantren sejak lama. Kebiasaan mencatat menjelaskan fakta tentang banyaknya buku kajian keagamaan dan sosial yang melimpah dalam dua dasawarsa terakhir ini di tanah air. Lembaga Pelatihan, pelatihan awal yang dijalani para santri adalah mengelola kebutuhan diri santri sendiri sejak makan, minum, pengelolaan barang-barang pribadi sampai pada jadwal belajar. Pada tahap ini kegiatan pembelajaran masih dibimbing oleh santri yang lebih senior. Lembaga Pemberdayaan Masyarakat, dalam melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat, pesantren pada umumnya benar-benar mandiri dan telah selektif pada lembaga-lembaga penyandang dana dari luar masyarakatnya sendiri. Lembaga Bimbingan Keagamaan, pesantren ditempatkan sebagai bagian dari lembaga bimbingan keagamaan oleh masyarakat pendukungnya. Setidaknya pesantren menjadi tempat bertanya masyarakat dalam hal keagamaan. Mandat pesantren dalam hal ini tampak sama kuatnya dengan mandat pesantren sebagai lembaga pendidikan. Di bebeberapa daerah, identifikasi lulusan pesantren pertama kali adalah kemampuannya menjadi pendamping masyarakat untuk urusan ritual keagamaan sebelum mandat lain yang berkaitan dengan keilmuan, kepelatihan dan pemberdayaan masyarakat. Simpul Budaya, Pesantren dan simpul budaya itu sudah seperti dua sisi dari mata uang yang sama. Bidang garapannya yang berada di tataran pandangan hidup dan penguatan nilai-nilai luhur menempatkannya ke dalam peran itu, baik yang berada di daerah pengaruh kerajaan islam maupun di luarnya. Pesantren berwatak tidak larut atau menentang budaya di sekitarnya dan selalu kritis sekaligus membangun relasi harmonis dngan kehidupan di sekelilingnya. Pesantren hadir sebagai sebuah sub-kultur, budaya sandingan yang biasa selaras dengan budaya setempat sekaligus tegas menyuarakan prinsip syari’at. Di situlah pesantren melaksanakan tugas dan memperoleh tempat.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Mahmudi. Prinsip-Prinsip Kerja Participatory Action Research (PAR). Yogyakarta : Insist.
Gerakan Sempalan di Kalanga Umat Islam Indonesia latar Belakang Sosial-Budaya. (Jakarta : Ulumul Qur’an Vol.III No.1, 1992)
http://wordpress.com. Peran Pesantren di Indonesia, diakses tanggal 2 Juni 2011.
KH Abdullah Syukr Zarkasyi,MA. Gontor dan Pembaharuan Pendidikan Pesantren. (Jakarta : Rajagrafindo Persada, 2005).
M Dian Nafi,dkk. Praktis Pembelajaran Pesantren. (Yogyakarta : LKis {elangi Aksara, 2007).
M Quraish Shihab. Wawasan Al Qur’an : Tafsir Maudlu’I atas Perbagai Persoalan Umat, (Jakarta : Mizan, 1996).
Muhsin ‘Abd Al Hamid. At Tarbiyah as Sulukiyah dalam Adib Ibrahim ad Dabbagh, et al, opcit, hlm 75.
Langganan:
Postingan (Atom)