Tampilkan postingan dengan label Karanggayam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karanggayam. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Maret 2014

Pelangi Sore di Logandu



Kemarin sore (Rabu, 26 Maret 2014) berkisar pukul 15.30 hujan mengguyur bumi Logandu, dengan cukup deras. Tak terlalu lama memang hujan menyiram tanah yang mengundang aroma segar namun cukup untuk mendinginkan bumi yang tadinya terasa gerah. Bersamaan dengan hujan yang turun matahari yang mulai mendingin masih terpancar dengan cerah di sebelah barat. Tak lama muncul baris lengkungan indah penuh warna di langit sebelah utara desa.

Semburat merah, jingga, kuning, hijau biru, lembayung, dan ungu memayungi langit dengan keceriaan. Satu per satu orang keluar rumah menyaksikan lukisan alam diiringi hujan yang menyisakan titik-titik air kecil. Sembari tersenyum orang-orang bercerita tentang kenangan masing-masing tentang pelangi. Mereka bersama mengagumi keindahan dengan cara mereka masing-masing.

Baris-baris warna yang berbeda-beda menghasilkan sebuah keindahan dan kesejukan di pandang. Begitupun kita, di desa memiliki sejarah, latar belakang, pekerjaan, dan pemahaman yang berbeda. Kita tidak pernah diciptakan sama, karena kita harus saling melengkapi untuk membangun desa kita.

Pada masa kecil saya membaca sebuah cerpen yang hingga kini masih terkesan bahwa ada harta di kaki pelangi. Harta itu tidak terlihat hanya bisa dirasakan, dan harta itu bernama perbedaan. Kita bisa menjadikan semua indah jika memadukan perbedaan.

Semoga pelangi sore membawa kita menyadari keberadaan kita di desa Logandu, dan memaksimalkan kemampuan kita untuk mengembangkan desa kita tercinta.

keep respect n unity

Selasa, 25 Maret 2014

MTs Kepadangan Clapar (bagian 3)



Jarang sekali ada nama MTs yang menggunakan bahasa jawa salah satunya MTs Kepadangan kalau diartikan dalam bahasa arab disebut al munawarah atau pada bahasa Indonesia diartikan yang bercahaya. Hal ini seolah-olah menjadi sebuah pengingat bahwa MTs Kepadangan tidak boleh meninggalkan tradisi dan budaya yang mengakar di lingkungan sekitar. MTs harus bisa manjing, ajur, ajer dengan lingkungan sekitar, karena pendiri-pendiri yakin jika ingin maju maka harus bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ada di sekitarnya.

Selain itu Madrasah juga harus bisa menjadi pencerah bagi lingkungan dan orang-orang yang ada di dalamnya. Madrasah bukan hanya sebuah institusi menimba ilmu tapi lebih kepada pengajaran dan pelatihan sebagai bekal kehidupan bermasyarakat kelak. Di Madrasah hendaklah memperbanyak melatih kecerdasan emosional hal ini juga pernah disampaikan oleh kepala madrasah dalam sebuah rapat pleno di madrasah bahwa visi dan misi Madrasah adalah "generasi mandiri, berprestasi, dan berkepribadian Islami". Bahwa sesosok manusia bisa dikatakan mandiri jika bisa melayani diri sendiri sesuai dengan kemampuannya. Kemandirian akan mudah membentuk siswa yang berprestasi karena kemandirian akan selalu berusaha mengalahkan hambatan yang ada dengan kemampuannya. Nilai-nilai Islami juga jelas menjadi visi yang tidak boleh tergoyahkan karena menjadi bekal kehidupan dan kematian. Dengan nilai-nilai islami siswa akan memiliki kepribadian dan perilaku yang akan memudahkan dirinya hidup dimanapun.

Penghormatan kepada sejarah dilakukan oleh pendiri MTs Kepadangan Clapar yang menggunakan nama Kepadangan di Madrasah. Berprinsip bahwa dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung juga mengingatkan bahwa kita adalah milik umat bukan milik personal, setiap keluarga berperan serta menjunjung tinggi dan mengembangkan Madrasah kita ini.


Bapak Drs. Daryono selaku kepala Mardrasah MTs Kepadangan Clapar berpesan bahwa seluruh guru, siswa, orang tua, komite, dan alumni adalah sebuah keluarga besar yang senantiasa membutuhkan satu sama lain. Tidak akan ada kekuatan dan perkembangan jika salah satu tidak pro aktif memajukan sekolah. Beliau menambahkan bahwa setiap keluarga harus ada yang kokoh dan keras untuk dijadikan pondasi, ada yang rela dipanaskan menjadi genteng, ada yang bersiap menjadi tembok, dan ada yang menyatukan menjadi semen dan air. Semua hal dibutuhkan dan tak tergantikan, agar ketika dipoles menggunakan cat bisa terlihat indah dan menyenangkan.


Ketika Bapak Kiai Nursalim, S.Pd.I menerima estafet kepemimpinan beliau menekankan bahwa keikhlasan menjadi modal pokok setiap elemen madrasah untuk berkembang. Beliau meyakini bahwa tak ada yang sanggup mengganti dan menilai keikhlasan semua keluarga madrasah kecuali dari Allah yang akan memberikan penilaian dan hadiah yang tak akan pernah disangka-sangka. Beliau menggambarkan keikhlasan adalah salah satu bentuk ketaqwaan dan ketaqwaan akan senantiasa dijamin oleh Allah dengan rizqi yang tidak disangka-sangka. Dikatakan pula oleh pria kelahiran 28 Agustus 1961 ini bahwa ada hal yang harus senantiasa kita perbaiki adalah iman, islam dan ihsan. Perbaikan akan hal tersebut akan membawa semangat jihad dan perjuangan yang tidak akan pernah putus.

(diambil dari rangkuman rapat di madrasah)

Makalah Peran Pesatren di Indonesia

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Filosofi pendidikan pesantren didasarkan atas hubungan yang bermakna antara manusia, ciptaan atau makhluk dan Alloh SWT. Hubungan itu baru bermakna jika bermuatan atau menghasilkan keindahan dan keagungan. Manusia bisa dilihat dalam dua tataran yaitu basyar dan insan. Basyar menunjuk pada segi yang tampak pada manusia baik, pertumbuhan maupun kedewasaannya. Sementara dalam konsep insan terlihat totalitasnya meliputi jiwa dan raga.  Potensi manusia adalah jasad, akal, nafsu, ruh dan kalbu. Kemampuan mengatur dan mengarahkan kelima potensi itu memungkinkan manusia tersapa oleh firman-Nya.
Selain aspek ruh manusiawi pelakunya sebagai seorang hamba Alloh SWT dan khalifah-Nya, maka secara kelembagaan ruh pesantren yang serba ibadah itu dijabarkan menurut sifat agama Islam yaitu agama wahyu, agama keilmuan, agama kemanusiaan dan agama kemajuan.  Dengan ruh itu mudah dipahami pembelajaran pesantren dan pergumulannya yang selalu terkait dengan kitab-kitab klasik keagamaan, keterbukaan pada masuknya aspek-aspek keilmuan melalui kehadiran madrasah / sekolah dan perguruan tinggi, pemihakan kepada hak-hak asasi manusia warga negara dan kepeloporannya dalam berpikir kritis untuk kemajuan.

B.    Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang di atas dapat dirumuskan permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini yaitu:
1.    Bagaimana peran pesantren di Indonesia?

C.    Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan ini adalah:
1.    Untuk memenuhi tugas terstruktur mata kuliah Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia pada semester jurusan S1 PAI di STAINU Kebumen
2.    Untuk memberikan sedikit gambaran tentang kondisi pesantren di Indonesia.
3.    Menambah khasanah budaya bangsa dalam bidang pendidikan.

BAB II
PERAN PESANTREN

Pesantren mengembangkan beberapa peran, utamanya sebagai lembaga pendidikan. Jika ada lembaga pendidikan Islam yang sekaligus juga memainkan peran sebagai lembaga bimbingan, keilmuan, kepelatihan, pengembangan masyarakat, maka itu adalah pondok pesantren. Pesantren dalam kehidupan di Indonesia mempunyai peran, diantaranya sebagai :
A.    Lembaga Pendidikan
Tidak semua pesantren menyelenggarakan madrasah, sekolah dan kursus seperti yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan di luarnya. Keteraturan pendidikan di dalamnya terbentuk karena pengajian yang bahannya diatur sesuai urutan penjenjangan kitab. Penjenjangan itu diterapkan secara turun temurun membentuk tradisi kurikuler yang terlihat dari segi standar isi kualifikasi pengajar dan santri lulusannya.
Pesantren-pesantren dalam rumpun pondok modern Darussalam, Gontor, Ponorogo, memiliki paket dan jenjang yang khas. Penguasaan kebahasaan dan metodologi menjadi ciri khas rumpun pesantren modern. Sekarang rumpun pesantren Gontor telah beranggotakan 179 pesantren di tanah air.  Perkembangan program akan berjalan secara berangsur-angsur seiring banyaknya santri yang telah selesai dari suatu jenjang dan melanjutkan pelajaran ke jenjang selanjutnya. Santri yang lebih senior akan segera mendapatkan tugas membimbing sejawatnya yang lebih yunior. Demikianlah setahap demi setahap tersedia komunitas pembelajar yang dapat menyelenggarakan satuan pendidikan yang utuh dan lengkap.

B.    Lembaga Keilmuan
Pesantren dapat juga sebagai lembaga keilmuan. Kitab-kitab produk para guru pesantren dipakai juga di pesantren lainnya. Luas sempitnya atas kitab-kitab itu bisa dilihat dari banyaknya yang ikut mempergunakannya. Bimbingan menulis menjadi kebutuhan di pesantren sejak lama. Kebiasaan mencatat menjelaskan fakta tentang banyaknya buku kajian keagamaan dan sosial yang melimpah dalam dua dasawarsa terakhir ini di tanah air. Buku merupakan bagian dari tradisi kosmopolitan. Dialog keilmuan yang terjadi melalui buku-buku itu telah berkembang sejak ratusan tahun yang lalu dan menjadi penanda kosmopolitan pesantren yang justru dibangun dari tradisi kitab kuning. Dengan pengembangan karya ilmiah itu terjadi pembaharuan metodologi kajian Islam di kalangan pesantren apalagi setelah akses untuk belajar di universitas Timur Tengah dan belahan dunia lainnya meningkat sejak akhir abad ke 19. Dalam rentang waktu yang panjang umat islam telah merekam berbagai perkembangan sosial, ekonomi, politik, sosial, budaya dan keilmuan yang mendorong pembaharuan alamiahnya.


C.    Lembaga Pelatihan
Pelatihan awal yang dijalani para santri adalah mengelola kebutuhan diri santri sendiri sejak makan, minum, pengelolaan barang-barang pribadi sampai pada jadwal belajar. Pada tahap ini kegiatan pembelajaran masih dibimbing oleh santri yang lebih senior. Jika tahapan ini dikuasai dengan baik, maka santri akan menjalani pelatihan berikutnya untuk dapat menjadi anggota komunitas yang aktif dalam rombongan belajarnya.  Disitu santri belajar bermusyawarah, menyampaikan pidato, mengelola tugas organisasi santri, mengelola urusan operasional di pondok dan mengelola tugas membimbing santri yuniornya.
Pelatihan atau kursus bisa saja berkembang menjadi lembaga pendidikan ketrampilan yang diakreditasi oleh kantor dinas pemerintah, memperoleh pengakuan luas dan menjangkau peserta dari luar pesantren. Pelatihan bisa juga berlanjut jika santri menyediakan waktu di pesantren setamat dari jenjang sekolah atau madrasah tertinggi yang diikutinya. Di sini santri dilatih untuk dapat mengelola lembaga yang diselenggarakan oleh pesantren. Kualifikasi dan tanggung jawab santri akan meningkat sejalan dengan tahap penguasaannya atas standar kompetensi yang diterapkan di lembaga pesantren.



D.    Lembaga Pemberdayaan Masyarakat
Dalam melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat, pesantren pada umumnya benar-benar mandiri dan telah selektif pada lembaga-lembaga penyandang dana  dari luar masyarakatnya sendiri. Jenis pengembangan masyarakat yang lebih menjadikan masyarakat pesantren sebagai pasar bagi produk asing menjadi sorotan tajam. Konsep pengembangan masyarakat pun diganti dengan pemberdayaan masyarakat yaitu yang dapat memperbaiki tata usaha, tata kelola dan tata guna sumber daya yang ada pada masyarakat pesantren. Di dalam pemberdayaan masyarakat itu pesantren berteguh pada lima asas yaitu:
a.    Menempatkan masyarakat sebagai pelaku aktif bukan sasaran pasif
b.    Penguatan potensi lokal baik yang berupa karakteristik, tokoh, pranata dan jejaring
c.    Peran serta warga masyarakat sejak perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pemantauan, refleksi dan evaluasi.
d.    Terjadinya peningkatan kesadaran, dari kesadaran semu dan kesadaran naif, ke kesadaran kritis
e.    Kesinambungan setelah program berakhir

Sebagai lembaga pendidikan, pesantren percaya bahwa manusia akan meningkat martabatnya seiring dengan pengetahuan nilai-nilai did alam dirinya. Penanaman atau penumbuhan nilai-nilai dalam pribadi dan masyarakat membutuhkan waktu penyemaian yang tidak sebentar. Menurut Ahmad Mahmudi ada 15 prinsip untuk diperhatikan dalam setiap pemberdayaan masyarakat, yaitu:
1.    Pendekatan untuk meningkatkan kehidupan sosial dengan cara mengubahnya
2.    Keseluruhan bentuk partisipasi dalam arti yang murni
3.    Kerjasama untuk perubahan
4.    Membangun mekanisme kritik dari komunitas
5.    Proses membangun pemahaman situasi dan kondisi sosial secara kritis
6.    Melibatkan sebanyak mungkin orang dalam teoritisasi kehidupan sosial mereka
7.    Menempatkan pengalaman, gagasan, pandangan dan asumsi sosial individu maupun kelompok untuk diuji
8.    Semua orang dimudahkan untuk menjadikan pengalamannya sebagai objek riset
9.    Tindakan warga dirancang sebagai proses politik alam arti luas
10.    Program mensyaratkan adanya analisis relasi sosial kritis
11.    Memulai isu kecil dan mengaitkannya dengan relasi-relasi yang lebih luas
12.    Memulai dengan siklus proses yang kecil
13.    Memulai dengan kelompok sosial yang kecil untuk berkolaborasi dan secara lebih luas dengan kekuatan-kekuatan kritis lain
14.    Mensyaratkan semua orang mencermati dan membuat rekaman proses
15.    Mensyaratkan semua orang memberikan alasan rasional yang mendasari kerja sosial mereka
Dengan perspektif itu, maka pemberdayaan masyarakat yang dilakukan pesantren tidak menggurui, melainkan menemani masyarakat untuk bertindak menentukan, menemani masyarakat untuk memaknai tindakannya dan menemani masyarakat untuk merangkai makna-makna itu menjadi pengetahuan bersama. Pengetahuan ini akan menjadi bahan bagi masyarakat dan pesantren untuk membenahi diri.

E.    Lembaga Bimbingan Keagamaan
Pesantren ditempatkan sebagai bagian dari lembaga bimbingan keagamaan oleh masyarakat pendukungnya. Setidaknya pesantren menjadi tempat bertanya masyarakat dalam hal keagamaan. Mandat pesantren dalam hal ini tampak sama kuatnya dengan mandat pesantren sebagai lembaga pendidikan. Di bebeberapa daerah, identifikasi lulusan pesantren pertama kali adalah kemampuannya menjadi pendamping masyarakat untuk urusan ritual keagamaan sebelum mandat lain yang berkaitan dengan keilmuan, kepelatihan dan pemberdayaan masyarakat.
Faktor yang mendukung pesantren sebagai lembaga bimbingan keagamaan adalah kualifikasi kiai dan jaringan kiai yang memiliki kesamaan panduan keagamaan terutama di bidang fiqih dan kesamaan pendekatan dalam merespon masalah-masalah yang berkembang di masyarakat.
Semua itu menjadi pertimbangan bagi sejumlah pesantren untuk menata ulang pembelajaran dengan lebih menekankan dua hal yaitu relevansi akademik dan relevansi sosial kurikulum pesantren. Relevansi akademik menunjuk pada kesesuaian isi kurikulum dengan perkembangan ilmu pengetahuan di masyarakat dan relevansi sosial menunjuk pada kesesuaian isi kurikulum dengan permasalahan hidup masyarakat.
Untuk menjawab persoalan itu banyak lulusan pesantren mendirikan madrasah, sekolah unggulan, terpadu atau program khusus di perkotaan. Cita-cita kekotaan sengaja ditonjolkan dalam rancangan kurikulum, sarana prasarana, sistem pengorganisasian sumber daya, bahasa pengantar dan pengelolaan simbol, Sebagai lulusan pesantren juga membentuk kelompok-kelompok pengajian yang diorganisasikan lebih rapi di berbagai kota. Dalam kelompok pengajian itu mereka memperoleh kelanjutan kehangatan komunitas tradisional dan pelajaran kepesantrenan yang mereka tinggalkan karena tuntutan pekerjaan mengharuskan mereka meninggalkan daerah asal dan berkediaman di kota-kota.

F.    Simpul Budaya
Pesantren dan simpul budaya itu sudah seperti dua sisi dari mata uang yang sama. Bidang garapannya yang berada di tataran pandangan hidup dan penguatan nilai-nilai luhur menempatkannya ke dalam peran itu, baik yang berada di daerah pengaruh kerajaan islam maupun di luarnya. Pesantren berwatak tidak larut atau menentang budaya di sekitarnya dan selalu kritis sekaligus membangun relasi harmonis dngan kehidupan di sekelilingnya. Pesantren hadir sebagai sebuah sub-kultur, budaya sandingan yang biasa selaras dengan budaya setempat sekaligus tegas menyuarakan prinsip syari’at. Di situlah pesantren melaksanakan tugas dan memperoleh tempat.
Ukuran baik buruk dan beragam rujukan seni yang berkembang di masyarakat bisa dikenali hubungannya dengan dikembangkan oleh pesantren. Dalam status itu kiai bertindak sebagia salah satu pengatur arus dari masyarakat pesantren dan luarnya atau sebaliknya. Peran itu menempatkan pada keharusan berposisi tengah, menerima lebih banyak informasi memiliki tingkat keterhubungan individual yang lebih tinggi daripada warga lainnya, merekam lebih banyak opsi yang diajukan dalam berbagai pertemuan serta memudahkan masyarakat untuk membangun kembali pengetahuan mereka dalam menjawab persoalan-persoalan yang kadangkala belum ada contoh pemecahannya.
Kemampuan para kiai dalam menggali manfaat dari kemudian lalu lintas barang dan informasi internasional kini dilipatgandakan oleh temuan perangkat elektronik yang menyediakan sumber belajar digital yang segera menjadi perpustakaan raksasa dan bisa tersedia dalam lemari dan meja para santri dalam kemasan perangkat komputer yang semakin kecil bentuknya dan mudah dipindah-pindahkan. Pembelajaran agama tida bisa dilepaskan dari keteladanan guru dalam peragaan dalil-dalilnya berikut bimbingan yang memampukan peserta didik menemukan dan menghayati nilai-nilai agama ke dalam praktik hidup sehari-hari. Pengajaran dan pembimbingan ini memperkuat hubungan antara guru dengan murid yang menjadi cikap bakal terbangunnya komunitas pembelajar. Komunitas pembelajar lebih sesuai sebagai basis bangunan umat dala pandangan pesantren. Kehadiran peantren semakin diperlukan seiring dengan kemudahan-kemudahan yang sebagian telah menimbulkan ketergantungan dan pelemahan kedaulatan masyarakat lokal atas nilai-nilai, pengetahuan, komunitas dan sumber daya mereka. Refleksi atas pengalaman pendampingan untuk mediasi di berbagai daerah konflik memberikan pelajaran bahwa pesantren diharapkan dapat mengembangkan panduan hidup nirkekerasan dalam penyelesaian masalah-masalah konfliktual. Panduan hidup itu tidak menyarankan pilihan sika untuk menghindar dari konflik yang terjadi. Kecakapan untuk berunding, memulihkan hubungan, mediasi, arbitrasi, penyelesaian masalah melalui peradilan dan mengawal masalah sampai ke tingkat legislasi di parlemen kiranya sudah mendesak dimasukkan ke dalam muatan kurikulum pesantren.

BAB III
KESIMPULAN

Pesantren dalam kehidupan di Indonesia mempunyai peran, diantaranya sebagai Lembaga Pendidikan, tidak semua pesantren menyelenggarakan madrasah, sekolah dan kursus seperti yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan di luarnya. Lembaga Keilmuan, Pesantren dapat juga sebagai lembaga keilmuan. Kitab-kitab produk para guru pesantren dipakai juga di pesantren lainnya. Luas sempitnya atas kitab-kitab itu bisa dilihat dari banyaknya yang ikut mempergunakannya. Bimbingan menulis menjadi kebutuhan di pesantren sejak lama. Kebiasaan mencatat menjelaskan fakta tentang banyaknya buku kajian keagamaan dan sosial yang melimpah dalam dua dasawarsa terakhir ini di tanah air. Lembaga Pelatihan, pelatihan awal yang dijalani para santri adalah mengelola kebutuhan diri santri sendiri sejak makan, minum, pengelolaan barang-barang pribadi sampai pada jadwal belajar. Pada tahap ini kegiatan pembelajaran masih dibimbing oleh santri yang lebih senior. Lembaga Pemberdayaan Masyarakat, dalam melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat, pesantren pada umumnya benar-benar mandiri dan telah selektif pada lembaga-lembaga penyandang dana  dari luar masyarakatnya sendiri. Lembaga Bimbingan Keagamaan, pesantren ditempatkan sebagai bagian dari lembaga bimbingan keagamaan oleh masyarakat pendukungnya. Setidaknya pesantren menjadi tempat bertanya masyarakat dalam hal keagamaan. Mandat pesantren dalam hal ini tampak sama kuatnya dengan mandat pesantren sebagai lembaga pendidikan. Di bebeberapa daerah, identifikasi lulusan pesantren pertama kali adalah kemampuannya menjadi pendamping masyarakat untuk urusan ritual keagamaan sebelum mandat lain yang berkaitan dengan keilmuan, kepelatihan dan pemberdayaan masyarakat. Simpul Budaya, Pesantren dan simpul budaya itu sudah seperti dua sisi dari mata uang yang sama. Bidang garapannya yang berada di tataran pandangan hidup dan penguatan nilai-nilai luhur menempatkannya ke dalam peran itu, baik yang berada di daerah pengaruh kerajaan islam maupun di luarnya. Pesantren berwatak tidak larut atau menentang budaya di sekitarnya dan selalu kritis sekaligus membangun relasi harmonis dngan kehidupan di sekelilingnya. Pesantren hadir sebagai sebuah sub-kultur, budaya sandingan yang biasa selaras dengan budaya setempat sekaligus tegas menyuarakan prinsip syari’at. Di situlah pesantren melaksanakan tugas dan memperoleh tempat.

DAFTAR PUSTAKA


Ahmad Mahmudi. Prinsip-Prinsip Kerja Participatory Action Research (PAR). Yogyakarta : Insist.

Gerakan Sempalan di Kalanga Umat Islam Indonesia latar Belakang Sosial-Budaya. (Jakarta : Ulumul Qur’an Vol.III No.1, 1992)

http://wordpress.com. Peran Pesantren di Indonesia, diakses tanggal 2 Juni 2011.

KH Abdullah Syukr Zarkasyi,MA. Gontor dan Pembaharuan Pendidikan Pesantren. (Jakarta : Rajagrafindo Persada, 2005).

M Dian Nafi,dkk. Praktis Pembelajaran Pesantren. (Yogyakarta : LKis {elangi Aksara, 2007).

M Quraish Shihab. Wawasan Al Qur’an : Tafsir Maudlu’I atas Perbagai Persoalan Umat, (Jakarta : Mizan, 1996).

Muhsin ‘Abd Al Hamid. At Tarbiyah as Sulukiyah dalam Adib Ibrahim ad Dabbagh, et al, opcit, hlm 75.


Senin, 24 Maret 2014

Musuh Membunuh Harimu yang Sepi





Enemies killing your borring life sebuah ungkapan yang sedikit aneh memang.Hanya saja silahkan teman-taman merasakan pernyataan di atas. Bagaimana perasaan teman-teman ketika memiliki musuh?? Pasti semua akan selalu waspada, mencari setiap kelemahan dan selalu update berita tentang "musuh" kita betul??

Sisi positif dari musuh adalah membuat kita senantiasa berkembang. Kita akan terus menerus mencari cara agar kita jangan sampai kalah dengan musuh kita. Posisi kita selalu siaga jangan sampai terserang dan diketahui kelemahan kita. Kita juga akan mencari cara untuk melemahkan musuh kita itu, segala upaya akan kita usahakan untuk mencari titik-titik celah kelemahan musuh.

Kita akan sangat berhati-hati dalam melangkah, ketika mendapat serangan kita menghindar dan bertahan sekuat mungkin karena jika terjadi lena pangindhamu ajur dhadhamu (lengah saat menghidar, hancurlah dada). Setiap langkah kita perhitungkan dengan cermat diukur keunggulan dan kelemahan langkah kita. Ketelitian juga turut menyertai kesiagaan kita. Kesabaran kita juga dilatih dengan menghadapi musuh tersebut.

Tapi yang perlu diingat bahwa musuh itu bukan musuh dalam artian peperangan fisik saja, namun juga setiap pendapat yang kita utarakan juga memerlukan musuh. Kenapa?? Karena pendapat yang kita anggap baik belum tentu baik bagi orang lain terlebih masyarakat umum. Jadi kita perlu pertimbangan lain dan pendapat yang memusuhi cara berpikir kita. Karena hal tersebut membuat kita berkembang secara logika dan pengetahuan. Siapa saja bisa kita jadikan musuh yang membuat kita waspada.

Sebagai contoh Istri saya adalah musuh terbesar saya. Karena dengan adanya istri saya jadi berpikir bagaimana mencukupi hidup keluarga, istri minta A, B, C, D maka saya akan berusaha memenuhi permintaan atau paling tidak menangguhkan permintaan bahkan paling parah menolak permintaan. Ketika saya menangguhkan permintaan ataupun menolak permintaan maka saya akan menyiapkan skenario terbaik agar istri mengerti bahwa saat ini belum mungkin untuk memenuhi permintaan tersebut karena alasan V, W, X, Y, Z. tentu saja terkadang perlu diskusi yang cukup panjang. Namun kita akan belajar dari hal tersebut bahwa setiap hal memerlukan musuh untuk hasil yang lebih baik.

Selanjutnya Tuhan juga telah mengirimkan musuh untuk kita. Nah lho, ingat bukan?? Kita telah dikirimi musuh abadi bernama setan, Kita juga disuruh untuk memusuhi dan melawan setan agar kita selamat dunia dan kehidupan setelah kematian (akhirat). Bahkan kita disuruh berlindung dari godaan setan yang telah dikutuk jadi Setan hehehehe. Saat kita tahu setan musuh kita maka kita juga akan mencari kelemahan setan itu, bagaimana cara mengalahkan, dan bagaimana cara setan menipu kita. Kita selalu waspada dan siaga jangan sampai terlena dan terbawa bujuk rayu setan.

Musuh terbesar terberat dan paling hebat adalah diri kita, tak ada ilmu yang tak bermanfaat, tak ada kesia-siaan dan tak pula kesepian membunuh kita saat berhasil memusuhi diri kita sendiri. Karena Hari-hari kita selanjutnya akan selalu waspada musuh terbesar dan terberat yang ada dalam diri kita.

Bismillaaah..

Minggu, 23 Maret 2014

Wayangan di Logandu

dalam rangka ruwat bumi tahun 2013 kemarin, di Logandu melakukan hajatan wayangan. Ruwat Bumi merupakan tradisi tahunan bagi warga Desa Logandu yang dilaksanakan setiap bulan Muharram (Sura), tepatnya setiap hari Rabu Wage malam Kamis Kliwon.

Selain itu tradisi ini merupakan wujud rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa atas berkah yang dilimpahkan ke masyarakat desa Logandu.Tahun ini Tradisi tersebut dilaksanakan di halaman rumah Kepala Desa Logandu.

Pada tradisi ini, diawali dengan prosesi wayangan (wayang kulit), dilanjutkan dengan penanaman kepala dan kaki kambing “kendit” pada perbatasan desa, dan setelah ruwatan wayang masyarakat memperebutkan hasil bumi seperti kacang panjang, tomat, terong, cabai, benih padi, bibit2 tanaman dan lain-lain yang telah di mantra-mantrai oleh Ki dalang. . Banyak masyarakat yang meyakini dengan mendapatkan hasil bumi tersebut akan membawa berkah dan loh sarwo tinandur.

Tradisi ruwat bumi merupakan warisan turun temurun yang telah diwariskan oleh nenek moyang sebagai ungkapan rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa serta sebagai bentuk penghargaan kepada bumi yang telah memberikan berbagai limpahan rizki kepada warga masyarakat Desa Logandu. Masyarakat Desa Logandu saat ini sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani, sehingga mereka sangat mengandalkan bumi sebagai bagian dari hidup mereka” demikian penuturan tokoh Desa Logandu.

Buat teman-teman yang ingin melihat cuplikan wayang pada tahun 2013 silahkan dinikmati antareja bersaudara yang tanding versus buta

Kali Gebang Logandu


di Logandu terdapat sungai yang merupakan salah satu muara sungai luk ulo, kami menamainya kali gebang. Anakku Haidar Azka Fathurrahman sangat menyukai bermain di sungai ini. Hanya saja perilaku masyarakat yang senang membuang sampah di sungai sangat mengganggu kebersihan kali yang melintasi beberapa desa. Mungkin ketika membuang sampah di sungai mereka berpikir bahwa "ah cuma satu keranjang tidak akan menimbulkan sungai tersumbat dan banjir." 

Tapi jika ada 100 keluarga di satu desa berkata dan melakukan hal itu setiap hari, maka ada 100 keranjang sampah yang masuk sungai setiap hari, bisa dibayangkan bukan jika 1 desa 100 keranjang, di sepanjang sungai sampai laut ada berapa desa?? bisa berkuintal-kuintal sampah setiap hari masuk sungai. Maka pantaslah jika di laut-laut dekat muara sampah sangat banyak bertebaran dan ketika kita ke laut berkata "kok lautnya kotor sekali sih?" padahal dari kita pula sampah-sampah tersebut.

Jadi mulailah memanfaatkan sampah yang masih mungkin kita gunakan atu kita daur ulang. Jika tidak memungkinkan digunakan dikeringkan dan dibakar bisa jadi solusi yang lebih baik untuk mengatasi sampah-sampah yang masuk ke sungai. Jangan biarkan keindahan sungai kita tercemar sampah, jadikan sungai tempat yang nyaman untuk bermain-main bagi kita dan keluarga kita.

Ayo dho adus kali...

Sabtu, 22 Maret 2014

Ringkasan RPJMDesa Logandu tahun 2011-2015

Ringkasan RPJMDesa Logandu tahun 2011-2015





Ringkasan video RPJM Desa Logandu 2011-2015



MTs Kepadangan Clapar (Bagian 2)



Sejarah MTs Kepadangan Clapar (bagian 2)


Berawal dari 8 siswa yang berhasil lulus pada generasi pertama, siswa di Madrasah senantiasa mengalami perkembangan dengan tidak lepas dari fluktuasi di setiap tahunnya. Berawal dari sebuah keinginan untuk senantiasa berkembang almaghfurlah H. Suranto berinisiatif untuk mencari alternatif untuk bisa menunjang keberlangsungan Madrasah, beliau mengusahakan sebuah mobil untuk antar jemput siswa terutama dari daerah Kebakalan dan Logandu karena mayoritas siswa MTs berasal dari desa tersebut. Setelah bernegoisasi dengan paguyuban angkot akhirnya disepakati ada 1 mobil yang khusus diperuntukkan antar jemput siswa MTs. AA 1392 D adalah plat nomor yang digunakan mobil yang dengan setia jemput dan antar siswa setiap pagi dan sore. Driver supermobile pertama kali adalah Sumadi yang ketika itu masih berstatus lajang. Perkembangan selanjutnya driver supermobile bergantian dengan Mahdi. Supermobile MTs adalah Mobil suzuki Futura 1.3 tahun 1995 yang telah dicat kuning dan biru metalik, mobil ini salah satu Giant hope yang bisa menjadi tumpuan perkembangan MTs Kepadangan.

Semangat untuk terus melanjutkan perjuangan pendiri Madrasah senantiasa ditanamkan pada setiap kesempatan pertemuan komite, wali murid, maupun intern guru dan staf MTs Kepadangan. Sebuah harapan yang telah ditanamkan oleh pendiri-pendiri MTs adalah bagaimana MTs Kepadangan bisa menjadi pioneer dan sentra perkembangan keagamaan di Clapar maupun lebih luasnya pada cakupan Karanggayam yang terkenal sebagai daerah garis merah secara keagamaan. Lambat, dan tak begitu terlihat namun dengan pasti Madrasah yang mendapat julukan al Munawarah mulai menunjukkan kemampuan dan prestasi baik di bidang akademik maupun non-akademik. Beberapa kali hasil Ujian Nasional di MTs Kepadangan Clapar ada anak yang hampir mencapai nilai sempurna 10. Juga ada anak yang mampu berprestasi di tingkat Kabupaten Kebumen pada cabang olahraga lari.

Beberapa saat yang lalu semangat guru dan karyawan sempat mengalami drop. Penyebabnya adalah salah satu pendiri dan pejuang serta wakif Madrasah meninggal. al Maghfurlah H. Suranto, menghadap Illahi pada 8 Juni 2011. Seluruh keluarga besar madrasah merasa sangat kehilangan dan sempat mengalami shock berkepanjangan. Beruntung pendiri-pendiri lain berkumpul dan menyemangati teman-teman yang masih mengelola langsung di Madrasah untuk bangkit dari keterpurukan. Menyadari bahwa semua adalah anugrah Allah SWT, dan Allah tak akan pernah memberikan cobaan melampaui kemampuan hambanya, dipimpin Mardiadi selaku kamad, beliau mulai menata kembali manajemen dan mengeksplorasi potensi-potensi yang masih mungkin dikembangkan di Madrasah.

Pada tahun 2013 bulan september hari ke 19 Madrasah mengakuisisi mobil angkutan menjadi mobil inventaris madrasah setelah menerima wakaf dari berbagai pihak dan tentu saja dari keluarga almarhum H. Suranto melalui istri beliau Eko Yuni Setyaningsih. Sebuah lompatan besar yang seperti dibahas di atas bahwa AA 1392 D adalah giant hope yang menjadi kenyataan. melihat hal tersebut Kepala Madrasah membentuk tim kecil yang bertugas menginventarisir hal apa saja yang akan dikembangkan dalam beberapa tahun ke depan, tim tersebut juga bertanggung jawab atas master plan Madrasah ke depan baik secara, fisik, akademik, maupun sisi non akademik, juga termasuk bagaimana menjalin komunikasi dengan masyarakat sekitar dan pihak-pihak lain yang bisa membantu perkembangan MTs Kepadangan Clapar Karanggayam.

Sebuah hal yang menjadi catatan adalah perjuangan tidak akan pernah berhenti dan habis. Karena setiap saat adalah perjuangan yang bisa bernilai ibadah. Dan sebuah pesan dari almarhum H. Suranto adalah bagaimana kita menghidupkan agama, agar Allah senantiasa menghidupi kita dengan kemuliaan. Harapan bahwa kita semua menjadi pioneer dan sentra perkembangan syi'ar Islam di Karanggayam bisa terealisasi dengan cepat, tepat, berrmanfaat, dan bermartabat.

Semoga Allah senantiasa membimbing kita dalam jalan yang lurus, memberi kita kekuatan untuk memajukan Madrasah tercinta ini, karena hanya kepada Allah kita Beribadah dan hanya kepada Allah pula kita meminta pertongan.

MTs Kepadangan Clapar (bagian 1)




Sejarah MTs Kepadangan Clapar (bagian 1)

Pertama kali tercetus keinginan mendirikan Madrasah di daerah Kecamatan Karanggayam dimulai pada tahun 1995. al maghfurlah bapak Suranto merupakan tokoh yang pertama kali mencetuskan ide tersebut. Kemudian beliau mengajak teman-teman guru di SD sekitar tempat tinggal beliau di desa Clapar Kecamatan Karanggayam (waktu itu beliau dan keluarga masih bertempat tinggal di perumahan SD Clapar). Ide mendirikan Madrasah mendapat tanggapan positif, istri tercinta Eko Yuni Setyaningsih mendukung langkah beliau, kemudian musyawarah kecil yang melibatkan Drs. Daryono, Turahman, Nurman, Sawito (alm), Drs. Ikhwani, Waluyo Utomo, Warsimin, Sunarto, S.Ag, Sugimin, Nursalim, Sumardi, dan beberapa tokoh lain terjadi.

Kesepakatan yang disepakati adalah untuk membentuk sebuah yayasan yang berkecimpung pada pendidikan dan kemasyarakatan dan akhirnya disepakati nama "YAYASAN PENDIDIKAN DAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT 'KEPADANGAN' ". Nama Kepadangan diambil dari nama sesepuh yang dianggap membuka desa Clapar dengan nama Mbah Kepadangan. Dispakati pula Warsimin diangkat sebagai Ketua dibantu Bambang Mulyo Hartono di bagian bendahara, dan Warsito pada sekretaris serta Putut Purboyo (alm) dan Edi Purwoko (sekdes desa Clapar waktu itu). Demikian pulan Madrasah Tsanawiyah yang dibentuk dinamakan MTs KEPADANGAN CLAPAR.

Pada Januari 1996 keluarlah SK dari depag provinsi tentang ijin operasional MTs Kepadangan Clapar meskipun waktu itu belum memiliki gedung sendiri.Pertama kali MTs Kepadangan Clapar masuk sore hari dan menumpang di SD N Clapar. Angkatan pertama MTs Kepadangan Clapar 13 siswa namun yang bertahan hingga lulus pada angkatan pertama berjumlah 8 anak.

Ada cerita menarik ketika pertama kali angkatan pertama ini belajar, siswa yang berjumlah 13 anak dengan hanya 2 siswi, semakin lama semakin berkurang. Siswa yang didominasi dari desa Logandu dusun Menjangan ini jarang berangkat, setelah ditelusuri mereka tidak masuk karena bersamaan dengan jadwal mengaji di Masjid. Hal ini menjadikan keprihatinan al maghfurlah H. Suranto (alm), kemudian menemui pengampu Masjid al Istiqomah yang bernama Mardiadi. Nama yang disebut terakhir ini kelak akan menahkodai MTs Kepadangan Clapar. Mereka berdua bermufakat untuk bersama-sama memajukan MTs Kepadangan Clapar dengan tidak meninggalkan Masjid dan kegiatan pengajian di dalamnya, namun saling bersinergi menguatkan satu sama lain.

Gedung pertama yang berhasil dibuat pada tahun 2000 sebanyak 3 unit, gedung ini hanya beranggaran 2 unit bantuan dari depag Pusat namun berhasil direalisasikan sebanyak 3 unit. Tanah yang digunakan untuk membangun gedung hasil dari wakaf almaghfurlah Suranto dan keluarga. Realisasi 3 unit ini tidak lepas dari dukungan masyarakat sekitar yang mewakafkan pohon, kayu, batu, dan tenaga  yang luar biasa. Gedung lokal kedua dibangun pada tahun 2002 sebanyak 2 unit, 2003 1 unit, 2004 1 unit, 2007 1 unit, dan terakhir tahun 2012 dengan bantuan dari berbagai instansi baik kabupaten, propinsi, maupun pusat.

Masuk sore masih terus berlanjut hingga tahun 2002/2003. Pada generasi ini muncul nama-nama baru yang turut serta berjuang di Madrasah tercinta, mereka di antaranya Mahdi Fathurrahman, Wiwit Priyono, dan Subagyo yang mempelopori Madrasah untuk masuk pagi. Pada 2003/2004 MTs Kepadangan Clapar resmi melaksanakan pembelajaran pagi hari dengan jumlah siswa kurang lebih 100 anak. Merasa kurang dalam ketenagaan ditambahkanlah nama-nama baru sebagai mujahid di MTs Kepadangan Clapar, berturut-turut Suparno, Suradi, Sumadi,  Sarwono, Kadiman, Slamet, Yusup Wibowo,S.Pd.Si, Suharti, Fajar Kurniawan, Erik Puji Lestari, Lasmin, dan Gampang Edi Kurniawan. Barisan mujahid muda ini menggantikan generasi-generasi sebelumnya seperti para pendiri di atas dan generasi sebelum barisan muda seperti Slamet Riyanto,S.Pd, Sugimin, Suhartono, Suparjan (alm), Sarijo, S.Ag, Sarjani, SE, Ani Septiorini, dan Rahmat Riva'i.

Kepemimpinan di MTs Kepadangan Clapar telah berganti tiga kali. Drs. Daryono memimpin MTs Kepadangan Clapar mulai tahun 1996 hingga tahun 2007. Selama beliau memimpin MTs Kepadangan Clapar, rintisan hal-hal yang kecil ditanamkan pada setiap siswa dan pengajar bahwa perjuangan di MTs Kepadangan Clapar ialah ibadah yang tidak pernah mengenal tempat. Pada tahun 2007 Drs. Daryono digantikan oleh Nursalim, S.Pd.I. Pada saat pria asal desa Karanggede Mirit ini memimpin Madrasah, MTs memperoleh akreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Propinsi Jawa Tengah. Hanya saja pada tahun 2010 beliau mengalami mutasi ke Mirit sehingga menyerahkan estafet kepemimpinan kepada Mardiadi. Menahkodai MTs Kepadangan dari 1 Juli 2010, Kepala Madrasah yang merupakan alumnus Pondok Pesantren Tambighul Ghofilin Banjarnegara ini menekankan pentingnya manajemen diri dan komitmen bersama untuk kemajuan MTs Kepadangan Clapar. Pria dengan perawakan kecil cenderung kurus ini menata kembali hal-hal yang dirasakan belum sesuai dengan visi dan misi yang telah disepakati bersama. Berbekal barisan punggawa muda, beliau optimis mampu bersaing secara baik dengan sekolah dan madrasah yang ada di sekitar. Beliau sangat menekankan menjalin jaringan dan saling memberikan manfaat sesuai dengan semboyan yang senantiasa didengungkan di setiap saat "khoirunnaas anfa 'uhum linnaas"


bersambung...