Tampilkan postingan dengan label pendidikan anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan anak. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 April 2014

Alasan lain mengapa anak TK dilarang baca tulis dan hitung


Pertanyaan dari bapak ANH:
Apa dengan tidak mengajarkan ke anak (Calistung) di usia emas nya itu berarti memanjakankan anak yang memiliki kemampuan akademisnya…..
Kita khan bisa menyelipkan huruf2 ato angka2 dalam proses bermain anak. Kalau mereka mampu kenapa tidak diteruskan (kemampuan otak anak juga berbeda-beda ada yang mudah nangkap dan ingatannya tajam dan ada juga yang tidak khan Bu…..)

Jawaban:
Jd begini Pak, kami menyadari bahwa mayoritas orang Indonesia itu tdk memahami perkembangan otak anak, hal itu mengakibatkan para ortu salah mengasuh dan para guru salah mendidik. Dan apa akibatnya dr salah2 itu? Kita bisa lihat orang tua yg seharusnya sdh dewasa bertingkah spt anak2. Banyak. Contoh gampangnya anggota DPR kita yth. Tingkahnya persis anak TK. Kerja nggak bener tp minta imbalan lebih, nggak dikasih ma rakyat tp malah ngelunjak.

Contoh ke-2, kita lebih banyak mencetak insan2 bermental pegawai bukan visioner, bukan pakar/ahli dibidang masing2, bukan orang2 yg bermental pengusaha pembuka lowongan kerja. Rakyat Indonesia tdk suka mengambil resiko kegagalan, pilih jd pegawai krn tenang mendapat gaji bulanan tp ketika di PHK kelabakan nggak punya keterampilan.

Contoh ke-3, kita terbiasa mengapresiasi rangking teratas (5/10 besar), nilai sempurna (80-100) kita jarang mengapresiasi kerja keras mereka dalam belajar. Padahal ada anak yg sudah belajar mati2an tapi mereka tetep gak dpt nilai bagus gak dapet rangking krn kemampuan mereka tdk sama dan bakat mereka pun beda2. Akibatnya? ketika UN sekolah melakukan kecurangan diamini oleh ortu (sdh terjadi bukan?) Kalau anak2 kita terbiasa dihargai kerja kerasnya bukan angka atau nilainya semata, mereka pasti menolak disuruh curang, karena mereka PD dengan hasil usaha belajarnya sendiri, tapi nyatanya…buanyakkk anak2 itu yg melaksanakan perintah memalukan itu. Dan kita sekarang pun memiliki pahlawan cilik kejujuran segala.

Para ahli otak di dunia termasuk di Indonesia semacam Indonesian Neuroscience Society sdh lama melakukan penelitian bahwa: otak anak2 itu belum berkembang sempurna(matang) hingga dia berusia 20-25th! stlh sempurna baru mereka dianggap yg namanya “Dewasa”. Bayangkan!

Otak kita dibagi 3: batang otak (diatas leher), limbik (kepala bg belakang), dan pre frontal cortex/PFC (kepala bag depan/di jidat). Perkembangan ketiganya itu pun sesuai dng urutan diatas. Jd PFC itulah yg terakhir berkembang dng sempurna dan yg menandakan seseorang mjd dewasa. Kita pasti sdh familiar dengan kisah Rosulallah yg ketika mengimami sholat beliau sujudnya lamaaaa sekali. Lalu para sahabat bertanya: “kenapa lama? apakah Rosulallah sedang menerima wahyu dr Allah SWT?” Rosul menjawab:”tidak, cucuku tadi menaiki punggungku”. Jd beliau menunggu sampai cucunya turun dr punggungnya. Beliau tdk memberi isyarat pd cucunya unt turun. Tak spt kita, kalau kita paling dicubit itu anak hahaha.. benar bukan?  Apa yg kita petik dr kisah diatas? Rosul lebih mementingkan/mendahulukan cucunya yg sedang bermain2 ketimbang ibadahnya! Subhanallah…!

Dan apa hubungan kisah diatas dengan perkembangan otak?
Sambungan otak anak2 itu belum sempurna, otak mereka baru siap menerima hal2 kognitif pada usia 7-8 th. Sebelum usia itu, dunia mereka yg pantas adalah hanya bermain, bermain dan bermain. Dan mereka PUN tidak boleh DIMARAHI. Allahuakbar! Sebelum ada ahli otak yg meneliti, Rosulallah sudah menerapkan hal itu pada cucunya!

Lalu apa akibatnya kalau masa2 usia bermain mereka direnggut untuk belajar hal2 yg kognitif? –> Dewasanya kelak mereka bertingkah spt anak kecil: suka mengurung burung demi kesenangannya sendiri, sakit2an karena ingin diperhatikan orang2 sekitarnya, spt anggota DPR yg saya tuliskan di atas, korupsi demi kepentingan diri sendiri/keluarga/golongan dan tdk merasa bersalah malah ngeles terus di pengadilan, dannn sikap kekanak2an lainnya
Kalau kita ingin membuktikannya, ada ciri2 yang mudah kita lihat bahwa perkembangan otak anak2 belum siap untuk menerima hal2 kognitif :
  1. ketika kita membacakannya sebuah cerita/dongeng mereka akan meminta kita mengulanginya lagi, lagi dan lagi. Kita yg tua sampai bosen tp dia tak pernah bosen mendengar cerita kesukaannya itu diulang2 berkali-kali berhari-hari.
  2. mereka yg antusias belajar membaca lalu bisa, tapi mereka tidak paham dengan apa yg mereka baca.

Silahkan dipraktikkan.
Kalau mereka hari ini minta dibacakan cerita A besok minta cerita B besoknya lagi C esok lagi D dan kalau mereka sdh paham dengan apa yg dibacakan, artinya otak mereka sdh siap menerima hal2 yg kognitif.
Lalu apa yg seharusnya kita ajarkan pada mereka (0-7/8th)?
  1. JANGAN DIMARAHI
  2. TIDAK DIAJARKAN MEMBACA, MENULIS, MENGHITUNG.
  3. Bermain role play; memahami bahasa tubuh, suara dan wajah; berbagi hal yg memberikan pengalaman emosional, field trip, mendengarkan musik, mendengarkan dongeng,
  4. Bahkan, anak usia 0-12th pengasuhan dan pendidikannya ditujukan untuk membangun emosi yg tepat, empati, (mood & feeling)

Jadi, aturan pemerintah tentang usia masuk SD harus minimal 7th itu bukan tanpa alasan. Tentu boleh2 saja menyelipkan angka dan huruf, tapi tidak belajar membaca dan menulis dan menghitung. Mudah nangkep & ingatannya tajam atau tidak bukanlah ukurannya. Bagaimana dengan tidak mengajarkan anak calistung di usia emas diartikan kita memanjakan anak? wong dia belum bisa mikir itu sudah waktunya dipelajari atau belum :) Usia emas itu jualannya susu Formula Pak.. :) Usia emas semestinya kita artikan sebagai masa2 tumbuh kembang anak yg paling pas untuk kita tanamkan budi pekerti dan akhlak yg mulia.

Slogan TK: bermain sambil belajar, belajar seraya bemain JANGAN diartikan dng BELAJAR calistung.
Para peneliti otak diseluruh dunia sepakat bahwa PFC seorang anak belum siap untuk dijejalkan hal2 yg kognitif. Apa akibat dr pemaksaan terhadap hal2 kognitif?
- membuat anak tidak mampu menunjukkan emosi yg tepat.
- kendali emosi (intra personalnya terganggu)
- sulit menunjukkan empati.

Sudah banyak ortu yg mengeluhkan: anak2nya ketika masih usia dini sangat antuasias belajar CALISTUNG lalu ortunya merespon dengan memberikan porsi lebih banyak entah mengajari sendiri secara intensif atau memasukkannya ke les2 calistung daaannnn ujung2nya datang pada satu masa anak2 itu bosan lalu akhirnya mogok belajar mogok sekolah. mereka menjadi malas. Itu terjadi karena otaknya yg terforsir sudah kelelahan. Bahkan ada yg saat mau ujian malahan blank, nggak bisa mikir sama sekali.

Tenang, Pak… kita hanya perlu waktu 3 bulan untuk melatih seorang anak bisa metematika, namun diperlukan waktu lebih dari 15 tahun untuk bisa membuat seorang anak mampu berempati, peduli teman dan lingkungan serta memiliki karakter yang mulia untuk bisa menciptakan kehidupan yang lebih baik. Ini sudah terbukti.

Jadi sudah sangat jelas alasan saya tidak setuju dengan diadakannya lomba calistung untuk anak TK dan sederajat di Madrasah kita. ahh belum lagi efek kejiwaan yg dihasilkan pd anak2 itu karena mengikuti lomba2 terlalu dini apalagi calistung. Sudah terlalu panjang, kapan2 Insyallah saya tulis jg disini.

Wassalam.

*Pengetahuan yg saya tulis diatas saya dapatkan (sarikan) dari hasil mengikuti seminar2 parenting ibu Elly Risman, Psi dan talkshow2 serta tulisan2 Ayah Edy.

*Ini saya lampirkan Surat Edaran Dirjen Mandikdasmen tentang larangan Calistung pada PAUD dan larangan ujian/tes untuk masuk SD. Silahkan di download. Bisa ditunjukkan pada sekolah yg memberlakukan syarat tes calistung untuk masuk SD dan sederajat.

 disalin dari yani.widianto.com

Jumat, 28 Maret 2014

EQ vs IQ (bagian 2)

Lanjutan rangkuman buku EQ vsIQ karangan Tutu April Suseno penerbit locus Jogjakarta

Sebagai orang tua banyak hal yang kita inginkan dari anak kita. Keinginan itu biasanya muncul dari perasaan dan pengalaman kegagalan yang dialami orang tua. Seiring dengan pengalaman itu, maka muncul harapan untuk mewujudkannya bersama kehadiran si buah hati. Dan yang paling sering terlupakan adalah anak bukan miniatur orang tua. Tanpa sengaja dan tanpa sadar, perilaku dan emosi orang tua membentuk seperti itu. Pada akhirnya terbawa menjadi orang tua yang permisif atau otoriter.
  • Orang tua otoriter memberlakukan peraturan yang ketat dan menuntut agar peraturan itu dipatuhi. Anak harus berada di tempat yang ditentukan dan tidak boleh mengutarakan pendapatnya. Golongan ini berusaha menjalankan rumah tangga yang didasarkan struktur dan tradisi, meskipun hal itu menjadikan beban berlebih bagi keluarga dan anak.
  • Sebaliknya orang tua permisif berusaha menerima dan mendidik sebaik mungkin, tetapi cenderung sangat pasif ketika sampai pada penetapan batas-batas atau menanggapi ketidakpatuhan. Orangtua permisif tidak menuntut dan tidak pula menentukan sasaran yang jelas bagi anaknya, karena yakin bahwa anak-anak seharusnya berkembang sesuai dengan kecenderungan alamiahnya.
  • Orangtua otoratif berusaha menyeimbangkan tipe dua orang tua di atas. Mereka memberi bimbingan tapi tidak mengatur, mereka memberi penjelasan tentang hal yang dilakukan serta membolehkan anak memberi masukan dalam pengambilan keputusan yang penting. Menghargai kemandirian anaknya sekaligus menerapkan standar tanggung jawab yang tinggi kepada keluarga, teman, dan masyarakat. Hukuman atas pelanggaran dan pujian atas prestasi secara intens dilakukan sehingga lebih mungkin menghasilkan anak yang percaya diri, mandiri, imajinatif, mudah beradaptasi, dan disukai banyak orang, yakni anak-anak dengan kecerdasan emosional derajat tinggi.

 Pengembangan suatu gaya pengasuhan yang meningkatkan EQ anak tidak akan berhasil tanpa disertai cara yang konsisten dan efektif untuk mendisplinkan anak. Disiplin yang dimaksud adalah disiplin yang positif dan mengikat dan disiplin dalam mengembangkan bakat alamnya secara maksimal. Namun konsisten dan efektifitas ini yang sulit dicapai oleh orang tua dan konselor.


Prinsip dan Strategi mendisiplinkan anak
  • Buatlah aturan yang jelas dan diberlakukan dengan tegas, jika perlu ditulis dan ditempelkan
  • Beri peringatan atau petunjuk apabila anak mulai berbuat salah. Ini cara terbaik untuk mengajari mereka bagaimana mengendalikan diri.
  • Bentuklah positif dengan mendukung perilaku yang baik melalui pujian atau perhatian dan mengabaikan perilaku yang sengaja dilakukan untuk menarik perhatian orang tua.
  • Luangkan waktu berkomunikasi dengan anak tentang nilai dan aturan, dan bagaimana nilai dan aturan itu menjadi penting.
  • Cegah masalah sebelum terjadi, karena masalah memiliki terjadi akibat rangsangan atau pertanda tertentu tidak terjadi begitu saja.
  • Apabila peraturan dilanggar dengan sengaja maupun terpaksa, langsung tanggapi dengan hukuman yang sesuai. Bersikaplah konsisten dengan melakukan apa yang anda katakan akan anda lakukan.
  • Pastikan hukuman adil, langsung, dan efektif
  • Bagi anak yang menjelang remaja awal (diatas 10 tahun) melanggar berulang dan tidak jera oleh hukuman anda, suruh mereka menyusun sendiri daftar hukuman sendiri tiap peraturan itu.
  • Jadikan permintaan maaf sebagai sesuatu yang serius. Jika permintaan maaf anak belum jujur, jangan mudah menyerah, tetapi terus mendesaknya memebuat permintaan maaf sampai ia bereaksi emosional.
  • Rasa malu dan bersalah bukan aspek emosi yang harus dijauhi. Gunakanlah secara tepat agar tertanam dalam pengajaran nilai-nilai moral anak.


Kritik dalam rangka mencerdaskan emosional

Kritik yang bijaksana dapat menjadi pesan paling berguna yang dapat disampaikan oleh orang tua kepada anaknya. Supaya bersifat konstruktif bukan destruktif maka perlu diperhatikan beberapa hal:
  • Langsung pada sasaran. Tunjukkanlah kejadian nyata, realita yang ditemui yang menggambarkan masalah utama yang membutuhkan perubahan atau perbaikan dan pola baru, bila itu dianggap sebagai suatu kekurangan. Anak tidak akan tahu dan paham bahwa mereka melakukan sesuatu yang keliru tanpa mengetahui permasalahan sebenarnya yang dapat diperbaiki.
  • Berikan solusi. Sebagai umpan balik yang bermanfaat, maka pemberian kritik juga diimbangi dengan mengajukan alternatif cara pemecahan masalah untuk memperbaikinya. Hindari kritikan rutin dan sangat merendahkan.
  • Lakukan tatap muka. Kritik sama dengan pujian, jika dilakukan dengan tatap muka secara langsung dan bersifat pribadi. Ingatlah anak membawa membawa sifat dan kepribadian sendiri-sendiri yang memungkinkan anak memiliki keistimewaan sendiri-sendiri pula.
  • Peka. Peka merupakan unsur empati untuk memahami pengaruh yang kita katakan dan bagaimana kita mengatakannya kepada anak.

Selain hal-hal tersebut di atas ada hal lain yang turut membentuk kecerdasan emosional, Menjalin persahataban. Menjalin persahabatan terlihat mudah dan sepele namun ternyata bisa menjadi lebih penting dari yang kita kira. Sahabatan di kalangan anak-anak meninggalkan kebiasaan yang tercetak seumur hidup dalam pergaulan selanjutnya, kebanggaan diri sendiri dalam persahabatan hampir seperti kasih sayang dan pengasuhan orang tua. Anak yang tidak memiliki teman atau tidak diterima oleh teman-temannya terutama di lingkungan sekolah dasar, lebih mudah terperangkap perasaan tidak puas seumur hidup meskipun keberhasilan yang diperolehnya mungkin sangat nyata sekali.

Berteman adalah keterampilan yang sangat sulit dipelajari jika telah melewati masa anak-anak. Walaupun kurangnya teman semasa kanak-kanak tidak memastikan seorang menjadi dewasa yang tanpa teman, kita harus mengakui keterampilan-keterampilan EQ tertentu diperoleh melalui jadwal perkembangan.  Apabila suatu masa dalam jadwal perkembangan dilewatkan, keterampilan-keterampilan yang seharusnya terjadwal di situ akan jauh lebih sulit dipelajari.

(bersambung..)