Tampilkan postingan dengan label PAUD. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PAUD. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Mei 2014

Calistung untuk anak TK

Tes Calistung, Untuk (Si)apa?

Oleh: Asep Sapa’at
Praktisi Pendidikan, Pengkaji Karakter Guru di Character Building Indonesia
Dimuat di Radar Bogor, 20 Maret 2014
Asep Sapa’at
Di Indonesia, ada 3 misteri bagi kita semua: jodoh, kematian, serta tes baca tulis hitung (calistung) sebagai syarat masuk sekolah dasar (SD). Misteri terakhir menarik diungkap. Meski tak dibolehkan, praktik ini tetap saja terjadi pada saat tes saringan masuk SD. Yang menggelikan, orangtua pamer kehebatan anaknya yang sudah terampil calistung meski masih duduk di bangku TK. Bagaimana memahami fenomena tes calistung? Mengapa tes calistung tak boleh jadi prasyarat masuk SD?
Merujuk pada Peraturan Pemerintah No. 27/1990 tentang pendidikan prasekolah, TK merupakan salah satu bentuk pendidikan prasekolah. Pendidikan prasekolah adalah pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak didik di luar lingkungan keluarga sebelum memasuki pendidikan dasar yang diselenggarakan di jalur pendidikan prasekolah atau di jalur pendidikan luar sekolah. Jadi, pengalaman belajar anak-anak di TK berfungsi sebagai ‘jembatan’ antara rumah dan sekolah.
Tahukah Anda apa tujuan pendidikan prasekolah? Seksamai dengan baik. Tak ada maksud tersurat maupun tersirat bahwa tujuan pendidikan TK untuk membuat siswa terampil calistung. Pendidikan TK justru bertujuan menyiapkan anak sebelum memasuki SD. Itulah tujuan instrumental pendidikan TK. Sedangkan tujuan intrinsik pendidikan TK, membantu perkembangan anak didik sejak dini agar tumbuh dan berkembang secara wajar dalam aspek-aspek fisik, keterampilan, pengetahuan, sikap, dan perilaku sosialnya.
Yang jadi titik persoalan, praktik pendidikan TK di lapangan kerap melenceng karena pandangan yang terlalu fokus ke arah pencapaian tujuan instrumental. Eksesnya, proses pendidikan di TK tak ubahnya dengan di SD atau malah menjadi miniatur SD. Inilah ingkar proses yang sesungguhnya telah terjadi. Situasi makin ruwet karena orangtua kerap merasa puas dan senang kalau anaknya yang masih TK sudah terampil calistung. Meruyaknya praktik pemberian materi calistung bahkan bahasa Inggris, sesungguhnya akibat tekanan dari orangtua dan terjadinya malpraktik pendidikan di TK. Anak-anak TK kita tak berdaya. Mereka dipaksa jadi ‘orang dewasa berbadan kecil’. Tubuhnya boleh kecil, tapi beban belajarnya bisa membuat mereka stres. Ironis.
Kita boleh merasa khawatir, prinsip pendidikan di TK sudah dilanggar, tanpa disadari atau justru dengan kesadaran penuh. Tak ada lagi prinsip ‘Bermain sambil belajar dan belajar seraya bermain’. Bermain diganti dengan tugas membaca. Belajar berhitung tak sanggup merangsang keinginan belajar anak karena hanya sekadar menghapal angka-angka dan prosedur perhitungan. Kreativitas terkebiri karena anak-anak dipaksa harus bisa menulis. Ukuran keberhasilan belajar mengancik pada kurikulum dan hasil penilaian guru. Anak tak merasakah kasmaran belajar, masalah kritis yang malahan tak dijadikan bahan perhatian serius.
Fase pengenalan calistung bergeser menjadi penguasaan keterampilan calistung. Tragedi pendidikan di TK tengah terjadi. Padahal sejatinya, pengenalan calistung dilakukan melalui pendekatan yang sesuai dengan tahap perkembangan anak. Itu sebabnya, pendidikan di TK tidak diperkenankan mengajarkan materi calistung secara langsung sebagai pembelajaran sendiri-sendiri (fragmented) kepada anak-anak. Konteks pembelajaran calistung di TK hendaknya dilakukan dalam kerangka pengembangan seluruh aspek tumbuh kembang anak, dilakukan melalui pendekatan bermain dan disesuaikan dengan tugas perkembangan anak. Pahamkah penyelenggara pendidikan TK soal yang satu ini?
Kathy Hirsh-Pasek dalam bukunya Einstein Never Used Flash Cards memaparkan sebuah hasil kajian penelitian, mengajarkan permainan kreativitas pada usia dini ternyata jauh lebih penting. Mengapa? Karena otak anak di usia dini tumbuh sangat pesat. Jika kita kembangkan kemampuan kreatif mereka, saraf-saraf kreatifnya akan berkembang sempurna. Hal ini bisa ditandai oleh rasa ingin tahu anak yang tinggi terhadap hal-hal baru. Proses pengenalan calistung melalui strategi pembelajaran yang kreatif, itu yang mesti jadi perhatian penyelenggara pendidikan TK. Bukan memaksa anak belajar calistung, apalagi dengan metode yang relatif monoton dan membosankan. Alamak apa kata anak-anak kita.
Tolong pahami satu hal penting, bisa membaca dan gemar membaca teramat beda maknanya. Anak yang bisa membaca belum tentu gemar membaca. Mengapa hal ini bisa terjadi? Hasil penelitian mengungkap tiga hal penting. Pertama, mengajari anak membaca di usia dini justru tak membuat anak menjadi gemar membaca. Kedua, anak-anak yang diajari membaca di usia dini, mereka justru membaca dan menulis buku jauh lebih sedikit daripada mereka yang baru diajari membaca di usia 7 atau 8 tahun ke atas. Ketiga, kemampuan membaca anak yang sudah diajari sejak dini dengan anak yang baru belajar di usia 7 – 8 tahun akan sama baiknya ketika mereka sama-sama berumur 10 – 12 tahun. Namun, minat membaca anak yang diajari sejak usia dini lebih rendah ketimbang anak yang baru belajar baca di usia 7 – 8 tahun (Ayah Edy, 2012).
Idealnya, pendidikan di TK membantu tumbuh kembang anak sesuai tahap psikologi perkembangan lewat permainan kreativitas. Membantu anak usia dini untuk mengenal huruf dan angka dengan cara kreatif jauh lebih bijak daripada mengajarkan baca tulis hitung. Kini, jelaslah sudah bahwa mengajari anak membaca di usia dini justru kontraproduktif terhadap pertumbuhan saraf-saraf kreatifnya. Jangan sampai, ketika si anak sudah bisa calistung, mereka tak paham untuk apa kemampuan calistung itu, karena mereka tak memiliki rasa ingin tahu yang besar dan mendalam. Kasmaran belajar telah pergi jauh dari sikap hidup anak-anak kita. Mari waspadai situasi berbahaya ini. Karena hakikatnya, rasa ingin tahu adalah pintu awal terjadinya proses pembelajaran dan pendidikan.
Tes calistung, fenomena unik nan menarik. Syarat utama agar pendidikan berhasil, yaitu anak harus siap belajar (Katz: 1991). Siapa berani jamin, anak yang lulus tes calistung sudah siap belajar di SD? Tugas pendidikan di TK mengantarkan anak siap belajar di SD, bukan agar anak terampil calistung. Kalau anak sudah terampil calistung jelang masuk SD, untuk apa tujuan pendidikan di SD? Zill et.al (1995) menyatakan, sekolah harus siap mendidik anak. Lantas, tanya nurani kita sebagai orangtua dan pendidik, untuk apa dan untuk siapa tes calistung dihelat?

Selasa, 29 April 2014

Alasan lain mengapa anak TK dilarang baca tulis dan hitung


Pertanyaan dari bapak ANH:
Apa dengan tidak mengajarkan ke anak (Calistung) di usia emas nya itu berarti memanjakankan anak yang memiliki kemampuan akademisnya…..
Kita khan bisa menyelipkan huruf2 ato angka2 dalam proses bermain anak. Kalau mereka mampu kenapa tidak diteruskan (kemampuan otak anak juga berbeda-beda ada yang mudah nangkap dan ingatannya tajam dan ada juga yang tidak khan Bu…..)

Jawaban:
Jd begini Pak, kami menyadari bahwa mayoritas orang Indonesia itu tdk memahami perkembangan otak anak, hal itu mengakibatkan para ortu salah mengasuh dan para guru salah mendidik. Dan apa akibatnya dr salah2 itu? Kita bisa lihat orang tua yg seharusnya sdh dewasa bertingkah spt anak2. Banyak. Contoh gampangnya anggota DPR kita yth. Tingkahnya persis anak TK. Kerja nggak bener tp minta imbalan lebih, nggak dikasih ma rakyat tp malah ngelunjak.

Contoh ke-2, kita lebih banyak mencetak insan2 bermental pegawai bukan visioner, bukan pakar/ahli dibidang masing2, bukan orang2 yg bermental pengusaha pembuka lowongan kerja. Rakyat Indonesia tdk suka mengambil resiko kegagalan, pilih jd pegawai krn tenang mendapat gaji bulanan tp ketika di PHK kelabakan nggak punya keterampilan.

Contoh ke-3, kita terbiasa mengapresiasi rangking teratas (5/10 besar), nilai sempurna (80-100) kita jarang mengapresiasi kerja keras mereka dalam belajar. Padahal ada anak yg sudah belajar mati2an tapi mereka tetep gak dpt nilai bagus gak dapet rangking krn kemampuan mereka tdk sama dan bakat mereka pun beda2. Akibatnya? ketika UN sekolah melakukan kecurangan diamini oleh ortu (sdh terjadi bukan?) Kalau anak2 kita terbiasa dihargai kerja kerasnya bukan angka atau nilainya semata, mereka pasti menolak disuruh curang, karena mereka PD dengan hasil usaha belajarnya sendiri, tapi nyatanya…buanyakkk anak2 itu yg melaksanakan perintah memalukan itu. Dan kita sekarang pun memiliki pahlawan cilik kejujuran segala.

Para ahli otak di dunia termasuk di Indonesia semacam Indonesian Neuroscience Society sdh lama melakukan penelitian bahwa: otak anak2 itu belum berkembang sempurna(matang) hingga dia berusia 20-25th! stlh sempurna baru mereka dianggap yg namanya “Dewasa”. Bayangkan!

Otak kita dibagi 3: batang otak (diatas leher), limbik (kepala bg belakang), dan pre frontal cortex/PFC (kepala bag depan/di jidat). Perkembangan ketiganya itu pun sesuai dng urutan diatas. Jd PFC itulah yg terakhir berkembang dng sempurna dan yg menandakan seseorang mjd dewasa. Kita pasti sdh familiar dengan kisah Rosulallah yg ketika mengimami sholat beliau sujudnya lamaaaa sekali. Lalu para sahabat bertanya: “kenapa lama? apakah Rosulallah sedang menerima wahyu dr Allah SWT?” Rosul menjawab:”tidak, cucuku tadi menaiki punggungku”. Jd beliau menunggu sampai cucunya turun dr punggungnya. Beliau tdk memberi isyarat pd cucunya unt turun. Tak spt kita, kalau kita paling dicubit itu anak hahaha.. benar bukan?  Apa yg kita petik dr kisah diatas? Rosul lebih mementingkan/mendahulukan cucunya yg sedang bermain2 ketimbang ibadahnya! Subhanallah…!

Dan apa hubungan kisah diatas dengan perkembangan otak?
Sambungan otak anak2 itu belum sempurna, otak mereka baru siap menerima hal2 kognitif pada usia 7-8 th. Sebelum usia itu, dunia mereka yg pantas adalah hanya bermain, bermain dan bermain. Dan mereka PUN tidak boleh DIMARAHI. Allahuakbar! Sebelum ada ahli otak yg meneliti, Rosulallah sudah menerapkan hal itu pada cucunya!

Lalu apa akibatnya kalau masa2 usia bermain mereka direnggut untuk belajar hal2 yg kognitif? –> Dewasanya kelak mereka bertingkah spt anak kecil: suka mengurung burung demi kesenangannya sendiri, sakit2an karena ingin diperhatikan orang2 sekitarnya, spt anggota DPR yg saya tuliskan di atas, korupsi demi kepentingan diri sendiri/keluarga/golongan dan tdk merasa bersalah malah ngeles terus di pengadilan, dannn sikap kekanak2an lainnya
Kalau kita ingin membuktikannya, ada ciri2 yang mudah kita lihat bahwa perkembangan otak anak2 belum siap untuk menerima hal2 kognitif :
  1. ketika kita membacakannya sebuah cerita/dongeng mereka akan meminta kita mengulanginya lagi, lagi dan lagi. Kita yg tua sampai bosen tp dia tak pernah bosen mendengar cerita kesukaannya itu diulang2 berkali-kali berhari-hari.
  2. mereka yg antusias belajar membaca lalu bisa, tapi mereka tidak paham dengan apa yg mereka baca.

Silahkan dipraktikkan.
Kalau mereka hari ini minta dibacakan cerita A besok minta cerita B besoknya lagi C esok lagi D dan kalau mereka sdh paham dengan apa yg dibacakan, artinya otak mereka sdh siap menerima hal2 yg kognitif.
Lalu apa yg seharusnya kita ajarkan pada mereka (0-7/8th)?
  1. JANGAN DIMARAHI
  2. TIDAK DIAJARKAN MEMBACA, MENULIS, MENGHITUNG.
  3. Bermain role play; memahami bahasa tubuh, suara dan wajah; berbagi hal yg memberikan pengalaman emosional, field trip, mendengarkan musik, mendengarkan dongeng,
  4. Bahkan, anak usia 0-12th pengasuhan dan pendidikannya ditujukan untuk membangun emosi yg tepat, empati, (mood & feeling)

Jadi, aturan pemerintah tentang usia masuk SD harus minimal 7th itu bukan tanpa alasan. Tentu boleh2 saja menyelipkan angka dan huruf, tapi tidak belajar membaca dan menulis dan menghitung. Mudah nangkep & ingatannya tajam atau tidak bukanlah ukurannya. Bagaimana dengan tidak mengajarkan anak calistung di usia emas diartikan kita memanjakan anak? wong dia belum bisa mikir itu sudah waktunya dipelajari atau belum :) Usia emas itu jualannya susu Formula Pak.. :) Usia emas semestinya kita artikan sebagai masa2 tumbuh kembang anak yg paling pas untuk kita tanamkan budi pekerti dan akhlak yg mulia.

Slogan TK: bermain sambil belajar, belajar seraya bemain JANGAN diartikan dng BELAJAR calistung.
Para peneliti otak diseluruh dunia sepakat bahwa PFC seorang anak belum siap untuk dijejalkan hal2 yg kognitif. Apa akibat dr pemaksaan terhadap hal2 kognitif?
- membuat anak tidak mampu menunjukkan emosi yg tepat.
- kendali emosi (intra personalnya terganggu)
- sulit menunjukkan empati.

Sudah banyak ortu yg mengeluhkan: anak2nya ketika masih usia dini sangat antuasias belajar CALISTUNG lalu ortunya merespon dengan memberikan porsi lebih banyak entah mengajari sendiri secara intensif atau memasukkannya ke les2 calistung daaannnn ujung2nya datang pada satu masa anak2 itu bosan lalu akhirnya mogok belajar mogok sekolah. mereka menjadi malas. Itu terjadi karena otaknya yg terforsir sudah kelelahan. Bahkan ada yg saat mau ujian malahan blank, nggak bisa mikir sama sekali.

Tenang, Pak… kita hanya perlu waktu 3 bulan untuk melatih seorang anak bisa metematika, namun diperlukan waktu lebih dari 15 tahun untuk bisa membuat seorang anak mampu berempati, peduli teman dan lingkungan serta memiliki karakter yang mulia untuk bisa menciptakan kehidupan yang lebih baik. Ini sudah terbukti.

Jadi sudah sangat jelas alasan saya tidak setuju dengan diadakannya lomba calistung untuk anak TK dan sederajat di Madrasah kita. ahh belum lagi efek kejiwaan yg dihasilkan pd anak2 itu karena mengikuti lomba2 terlalu dini apalagi calistung. Sudah terlalu panjang, kapan2 Insyallah saya tulis jg disini.

Wassalam.

*Pengetahuan yg saya tulis diatas saya dapatkan (sarikan) dari hasil mengikuti seminar2 parenting ibu Elly Risman, Psi dan talkshow2 serta tulisan2 Ayah Edy.

*Ini saya lampirkan Surat Edaran Dirjen Mandikdasmen tentang larangan Calistung pada PAUD dan larangan ujian/tes untuk masuk SD. Silahkan di download. Bisa ditunjukkan pada sekolah yg memberlakukan syarat tes calistung untuk masuk SD dan sederajat.

 disalin dari yani.widianto.com

Sabtu, 19 April 2014

Baca tulis dan hitung dilarang untuk anak usia PAUD

 Dr. Hj Erma Pawitasari, M.Ed 
dari http://www.suara-islam.com

Perkembangan pengajaran calistung disertai dengan tes-tes bagi anak-anak Playgroup dan TK sudah pada level mengkhawatirkan. Bila dulu, anak-anak cukup membeli buku persiapan UMPTN (masuk perguruan tinggi), diikuti dengan buku persiapan Ebtanas (setara Ujian Nasional), sekarang sudah banyak terbit buku-buku untuk persiapan tes masuk SD, seperti “Aku Siap Masuk SD” dan sejenisnya. Lebih jauh lagi, anak bayi pun sekarang sudah harus giat belajar menghadapi persaingan masuk TK sehingga banyak terbit buku-buku persiapan masuk TK, seperti “Sukses Masuk TK”, “99,99% Diterima Masuk TK Favorit”, dan “Lolos Tes Masuk TK.”

Bola liar calistung ini membuat Mendikbud, Dr. Muhammad Nuh, membuat pernyataan publik pada acara Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan (RNPK) di Depok, 11 Januari yang lalu. Beliau menegaskan bahwa mengajarkan calistung adalah kewajiban SD, bukan PAUD. Anak yang akan masuk sekolah tidak boleh dituntut sudah menguasai calistung [Situs resmi PAUD Kemdikbud RI].

Pernyataan Mendikbud ini sesuai dengan aturan hukum yang diatur dalam Permendiknas RI No. 58 TAHUN 2009 tentang Standar Pendidikan Anak Usia Dini. Ada 4 tingkat pencapaian terkait dengan kemampuan calistung bagi anak usia 4-6 tahun, yaitu:

1. Pura-pura membaca cerita bergambar dalam buku dengan kata-kata sendiri.

2. Berkomunikasi secara lisan, memiliki perbendaharaan kata, serta mengenal simbol-simbol untuk persiapan membaca, menulis dan berhitung.

3. Membaca nama sendiri.

4. Menuliskan nama sendiri.

Berdasarkan Permendiknas ini, kemampuan tertinggi yang diharapkan dari lulusan TK adalah membaca dan menulis namanya sendiri. Inipun cukup nama pendek, sekedar mengenali namanya dan memberi nama lembar kerjanya.

Untuk mendukung aturan ini, Dirjen Dasmen mengeluarkan Surat Edaran Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar Dan Menengah Nomor 1839/C.C2/TU/2009 Perihal : Penyelenggaraan Pendidikan Taman Kanak-Kanak dan Penerimaan Siswa Baru Sekolah Dasar. Ada 3 hal yang ditekankan dalam surat edaran ini, yaitu:

1. Pendidikan di TK tidak diperkenankan mengajarkan materi calistung secara langsung.

2. Pendidikan di TK tidak diperkenankan memberikan pekerjaan rumah (PR) kepada anak didik dalam bentuk apapun.

3. Setiap sekolah dasar (SD) wajib menerima peserta didik tanpa melalui tes masuk.

Menurut aturan pemerintah, Sekolah PAUD yang mengajarkan materi calistung secara langsung dan SD yang mengadakan tes penerimaan murid justru telah melakukan pelanggaran. Hal ini harus disosialisasikan ke seluruh PAUD dan orang tua murid sehingga bersama-sama mematuhi aturan dan tidak memaksa anaknya menguasai calistung pada usia dini.

Mengapa pemerintah melarang pengajaran calistung secara langsung? Apa ruginya anak belajar calistung? Bukankah hal ini membantunya menguasai pelajaran SD? Bukankah makin terpakai otak, makin meningkat kecerdasannya?

Secara ringkas, pertanyaan-pertanyaan di atas telah dijawab oleh Direktur PAUD Kemdikbud, Sudjarwo Singowijoyo. Beliau mengatakan:

 Memaksa anak usia di bawah lima tahun (balita) menguasai calistung dapat menyebabkan si anak terkena 'Mental Hectic’, yaitu anak menjadi pemberontak.

 Penyakit itu akan merasuki anak di saat kelas 2 atau 3 Sekolah Dasar (SD).

Memaksakan anak menguasai calistung pada usia dini justru akan merusak kecerdasan mentalnya. Ia mungkin tampak jenius secara kognitif, namun fungsi otak lainnya akan terganggu. Otak manusia tidak hanya berfungsi untuk mengolah informasi kognitif, namun juga nalar dan karakter (akhlaq). Apabila kemampuan nalar dan akhlaq rendah, maka kemanusiaan akan jatuh pada titik nadir.

Apakah anak usia dini sama sekali dilarang belajar calistung? Belajar calistung secara tidak langsung diperbolehkan. Contohnya adalah:

- melihat ibunya menghitung gelas untuk menjamu tamu
- melihat kakaknya menikmati membaca buku
- menghitung jumlah anggota dalam sebuah permainan kelompok
- dsb.

Sebagai penutup, mari kita renungkan hadits Nabi SAW, “Perintahkanlah anakmu untuk sholat pada usia 7 tahun.” Sholat adalah urusan yang paling penting. Sholat adalah tiang agama. Untuk urusan terpenting saja, Nabi menyuruh kita menunda hingga anak mencapai usia 7 tahun. Padahal, apa salahnya menyuruh anak sholat sejak usia dini?

Keimanan kita kepada Allah dan Rasul membuat kita yakin bahwa apa-apa yang diperintahkan/dilarang adalah yang terbaik. Bila menyuruh anak sholat sejak usia dini memiliki efek positif, tentu Nabi akan mewasiatkan untuk mengajak anak-anak sholat sejak usia dini. Namun, Nabi justru membiarkan cucu-cucunya bermain di punggung beliau saat beliau mengimami sholat berjamaah di masjid. Demikian pula dalam hal belajar bidang-bidang lainnya. Pelajaran secara formal/langsung, baru boleh dilakukan ketika anak berusia 7 tahun. Sebelum usia itu, biarkan kanak-kanak menikmati canda tawanya, tanpa beban yang akan merusak akhlaknya.