Tampilkan postingan dengan label logandu karanggayam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label logandu karanggayam. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Mei 2015

Azka dan Wayang


Berumur 2 bulan saat tak mau berhenti menangis, tiba-tiba mbah Kakung kondur dari sekolah. Diambillah Gatotkaca dan Janaka di dinding kemudian dimainkan di depannya. Tiba-tiba dia berhenti menangis, diam dan memperhatikan mbah Kakungnya. Tersenyum dan sesekali tergelak memandang kulit sapi tipis yang ditatah kasar. Saat pulang ke rumah, Gatotkaca ikut pula dibawa serta untuk buah tangan.

3 bulan setelahnya, mbah Lurah Sarlan (Kades Logandu) menghitankan putra beliau. Sebagai hiburan diadakan pertunjukan Wayang kulit oleh ki Siswadi Mudho Carito dari clapar. Digendong oleh ibunya bergantian dengan mbah gedhe (ibu istriku) dia mendekat ke pertunjukan wayang untuk pertama kali. Digendong dan melihat di samping penabuh gamelan, terlelap dan tertidur. Namun tak mau pulang, ketika sampai rumah dia kembali menangis, dibawa kembali ke panggung dia tersenyum lalu terlelap dalam gendongan.

Selang waktu berumur 8 bulan mulai belajar ngangkod (merayap) bibi Lely membawakan 2 wayang berukuran kecil Setyaki dan Baladewa. Bukan main senangnya dia memainkan wayang barunya. Mulai berlatih berjalan lancar sekitar berumur 15-16 bulan pak Wahyu Handoko (tetangga mbah) memberikan sebuah Setyaki berukuran wayang standar.

di Logandu dia punya teman yang masih Paman jauh yang terpaut 6 tahun juga suka wayang, di antarkanlah koleksi wayangnya untuk bermain bersama di rumah. Ada gatotkaca, Bomanarakasura, Narayana, Werkudara, dll.Sebuah Buta berukuran cukup besar juga didapatkannya dari pakde Sarwono.

Video wayang yang pertama dikenalnya yaitu pagelaran padat Anoman Duta oleh ki Prasetya Bayu Aji (putra ki Anom Suroto). Berulangkali dilihatnya, saat sudah selesai diminta di ulangi begitu siang dan malam. Lalu dia menyukai Gatotkaca kembar 5 oleh ki Kukuh Bayu Aji, Wahyu Kalimasada ki Mantep Sudarsono, dan akhir-akhir ini menyukai ki Enthus Susmono.

Entah sampai kapan dia akan menggemari warisan budaya dunia ini. Namun dia mengintepretasikan kesenangannya dengan bermain dan bermain wayang.


Kamis, 01 Mei 2014

Otak Kreatif Anak (Manusia) tidak datang tiba-tiba


Dari akun @anakjugamanusia. Yani Widianto mengumpulkan kicauan dengan #otakkreatif

Ada beberapa hal yg seringkali ditanyakan oleh, rekan2 dari Dunia Usaha, Pendidik, Guru & Ortu. Seperti “Kenapa ya kok Karyawanku ini sulit diajak Kreatif ya?”
“kenapa ya, sulit sekali mencari karyawan yg kreatif?”
“kenapa ya, memberikan Bonus, Tunjangan / tambahan Penghasilan seringkali tdk membuat orang mjd Kreatif?”
“Kenapa ya, kok banyak anak-anak Muda kalo diajak berpikir, memilih menghindar?”,
“knp ya byk lulusan PT yg nggak kreatif?”
“Kenapa ya, kok banyak Orang cenderung Emosional dalam menyelesaikan suatu Permasalahan?”
Biasanya kami jawab “Nggak tau tuh”, “loh gimana sih?” pada protes, ya Karena kami benar2 Tidak Tau, hehe

Kemudian, pertanyaan-pertanyaan tersebut mulai terjawab. Bahwa Semua ini dimulai dari Pendidikan saat masih anak-anak! kami pernah membaca bukunya “Ayah Edi”, yg mengatakan bahwa Otak Manusia memiliki 3 Kemampuan Dasar yaitu;
  • Kemampuan Berpikir/Nalar,
  • Kemampuan Kreatif, lalu
  • Kemampuan Menghafal

Nah ini menarik, Sayangnya saat Sekolah seringkali yg di asah pada anak-anak adalah Kemampuan Menghafalnya dari SD sampai kuliah, hampir semua Ujian / Test isinya adalah Hafalan yg semuanya ada di buku & Internet pdhl dlm Dunia Kerja & Selepas Sekolah, Kemampuan yg sering digunakan adalah Kemampuan Berpikir & Kemampuan Kreatif Bayangkan pertanyaan-pertanyaan; “Sebutkan nama2 Menteri?”, kenapa nggak sekalian “sebutkan nama2 istri menteri”, hehe lalu pertanyaan hafalan, “Apa yg terjadi antara 1825 – 1830?”, ya jelas-jelas jawabnya ada di buku “Perang Diponegoro"

Mengapa tidak Pertanyaan; “menurutmu Semangat Pangeran Diponegoro, bila diterapkan dalam se-hari2, akan seperti apa?” wah, itu Pertanyaan yg akan memacu Kemampuan Berpikir, juga anak belajar mengambil hikmah dari sebuah peristiwa pernah diberitahu oleh Rekan yg di luar negeri khususnya negara maju, bahwa PR anak-anak setara SD disana hanya sedikit Sekali kadang hanya 1 Pertanyaan seperti ini “Apakah Idemu untuk Merubah Dunia?” & jawabnya Lesan Pula di depan Kelas, wooww

Ini memacu Kemampuan Berpikir, Kreatif & Melatih Kemampuan mempresentasikan Pikiran & Imajinasi anak. Ya, sistem pendidikan kita memaksa anak-anak seringkali hanya diasah & dilatih Kemampuan Menghafalnya lalu tiba2 saat Kerja & Selepas Sekolah/Kuliah, anak-anak hrs Memiliki Kemampuan Berpikir & Kemampuan Kreatif?

Ini Menjadi PR besar Kita semua. Sulit sekali mengubah sistem yg sudah seperti ini, Namun kita selalu punya kesempatan kita bisa memulainya dalam keluarga kita, beri ruang bagi anak untuk berpikir & kreatif hargai setiap pendapat anak, hargai idenya, beri juga apresiasi pada karya-karya anak, apapun itu jangan justru kemampuan-kemampuan berpikir & kreatif anak yg sangat mereka butuhkan nantinya, kita mandulkan dgn sikap2 kita. Sikap sering meremehkan ide anak, pendapat & karya anak, akan membuat kemampuan-kemampuan tersebut malah tumpul kemampuan berpikir & kreatif anak mestinya harus kita tumbuhkan keatas, bukan kita tekan-tekan kebawah. Semakin tajam kemampuan berpikir&kreatif anak, semakin anak bisa menyelesaikan persoalan-persoalan yang kelak ia hadapi

disarikan dari yani.widianto.com

Sabtu, 19 April 2014

Baca tulis dan hitung dilarang untuk anak usia PAUD

 Dr. Hj Erma Pawitasari, M.Ed 
dari http://www.suara-islam.com

Perkembangan pengajaran calistung disertai dengan tes-tes bagi anak-anak Playgroup dan TK sudah pada level mengkhawatirkan. Bila dulu, anak-anak cukup membeli buku persiapan UMPTN (masuk perguruan tinggi), diikuti dengan buku persiapan Ebtanas (setara Ujian Nasional), sekarang sudah banyak terbit buku-buku untuk persiapan tes masuk SD, seperti “Aku Siap Masuk SD” dan sejenisnya. Lebih jauh lagi, anak bayi pun sekarang sudah harus giat belajar menghadapi persaingan masuk TK sehingga banyak terbit buku-buku persiapan masuk TK, seperti “Sukses Masuk TK”, “99,99% Diterima Masuk TK Favorit”, dan “Lolos Tes Masuk TK.”

Bola liar calistung ini membuat Mendikbud, Dr. Muhammad Nuh, membuat pernyataan publik pada acara Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan (RNPK) di Depok, 11 Januari yang lalu. Beliau menegaskan bahwa mengajarkan calistung adalah kewajiban SD, bukan PAUD. Anak yang akan masuk sekolah tidak boleh dituntut sudah menguasai calistung [Situs resmi PAUD Kemdikbud RI].

Pernyataan Mendikbud ini sesuai dengan aturan hukum yang diatur dalam Permendiknas RI No. 58 TAHUN 2009 tentang Standar Pendidikan Anak Usia Dini. Ada 4 tingkat pencapaian terkait dengan kemampuan calistung bagi anak usia 4-6 tahun, yaitu:

1. Pura-pura membaca cerita bergambar dalam buku dengan kata-kata sendiri.

2. Berkomunikasi secara lisan, memiliki perbendaharaan kata, serta mengenal simbol-simbol untuk persiapan membaca, menulis dan berhitung.

3. Membaca nama sendiri.

4. Menuliskan nama sendiri.

Berdasarkan Permendiknas ini, kemampuan tertinggi yang diharapkan dari lulusan TK adalah membaca dan menulis namanya sendiri. Inipun cukup nama pendek, sekedar mengenali namanya dan memberi nama lembar kerjanya.

Untuk mendukung aturan ini, Dirjen Dasmen mengeluarkan Surat Edaran Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar Dan Menengah Nomor 1839/C.C2/TU/2009 Perihal : Penyelenggaraan Pendidikan Taman Kanak-Kanak dan Penerimaan Siswa Baru Sekolah Dasar. Ada 3 hal yang ditekankan dalam surat edaran ini, yaitu:

1. Pendidikan di TK tidak diperkenankan mengajarkan materi calistung secara langsung.

2. Pendidikan di TK tidak diperkenankan memberikan pekerjaan rumah (PR) kepada anak didik dalam bentuk apapun.

3. Setiap sekolah dasar (SD) wajib menerima peserta didik tanpa melalui tes masuk.

Menurut aturan pemerintah, Sekolah PAUD yang mengajarkan materi calistung secara langsung dan SD yang mengadakan tes penerimaan murid justru telah melakukan pelanggaran. Hal ini harus disosialisasikan ke seluruh PAUD dan orang tua murid sehingga bersama-sama mematuhi aturan dan tidak memaksa anaknya menguasai calistung pada usia dini.

Mengapa pemerintah melarang pengajaran calistung secara langsung? Apa ruginya anak belajar calistung? Bukankah hal ini membantunya menguasai pelajaran SD? Bukankah makin terpakai otak, makin meningkat kecerdasannya?

Secara ringkas, pertanyaan-pertanyaan di atas telah dijawab oleh Direktur PAUD Kemdikbud, Sudjarwo Singowijoyo. Beliau mengatakan:

 Memaksa anak usia di bawah lima tahun (balita) menguasai calistung dapat menyebabkan si anak terkena 'Mental Hectic’, yaitu anak menjadi pemberontak.

 Penyakit itu akan merasuki anak di saat kelas 2 atau 3 Sekolah Dasar (SD).

Memaksakan anak menguasai calistung pada usia dini justru akan merusak kecerdasan mentalnya. Ia mungkin tampak jenius secara kognitif, namun fungsi otak lainnya akan terganggu. Otak manusia tidak hanya berfungsi untuk mengolah informasi kognitif, namun juga nalar dan karakter (akhlaq). Apabila kemampuan nalar dan akhlaq rendah, maka kemanusiaan akan jatuh pada titik nadir.

Apakah anak usia dini sama sekali dilarang belajar calistung? Belajar calistung secara tidak langsung diperbolehkan. Contohnya adalah:

- melihat ibunya menghitung gelas untuk menjamu tamu
- melihat kakaknya menikmati membaca buku
- menghitung jumlah anggota dalam sebuah permainan kelompok
- dsb.

Sebagai penutup, mari kita renungkan hadits Nabi SAW, “Perintahkanlah anakmu untuk sholat pada usia 7 tahun.” Sholat adalah urusan yang paling penting. Sholat adalah tiang agama. Untuk urusan terpenting saja, Nabi menyuruh kita menunda hingga anak mencapai usia 7 tahun. Padahal, apa salahnya menyuruh anak sholat sejak usia dini?

Keimanan kita kepada Allah dan Rasul membuat kita yakin bahwa apa-apa yang diperintahkan/dilarang adalah yang terbaik. Bila menyuruh anak sholat sejak usia dini memiliki efek positif, tentu Nabi akan mewasiatkan untuk mengajak anak-anak sholat sejak usia dini. Namun, Nabi justru membiarkan cucu-cucunya bermain di punggung beliau saat beliau mengimami sholat berjamaah di masjid. Demikian pula dalam hal belajar bidang-bidang lainnya. Pelajaran secara formal/langsung, baru boleh dilakukan ketika anak berusia 7 tahun. Sebelum usia itu, biarkan kanak-kanak menikmati canda tawanya, tanpa beban yang akan merusak akhlaknya.

Jumat, 18 April 2014

Sebuah Cerita dari Logandu



Kupikirkan maka kudapatkan

Sebuah keinginan yang kuat adalah awal dari pencapaian kita hari ini. Kita berpikir dan bertindak secara tidak sadar akan terprogram dan berorientasi pada keinginan tersebut. Keinginan itu akan berusaha mendekatkan usaha kita menuju keinginan yang tertanam di alam bawah sadar.

Saya rasa semua pasti sudah pernah mengalami hal tersebut, hanya saja tidak semua sadar dan tahu akan keinginan dan tindakannya itu. Ada sebuah kisah dari sebuah keinginan masa kecil (meskipun sederhana dan bagi sebagian orang hal ini sepele) yang menjadi kenyataan.

Aku punya seorang paman, dia sangat menyukai pertunjukan wayang kulit. Masa kecilnya dia sering melihat pertunjukan wayang di desa maupun sekitar desanya. Wayang tak bisa dilepaskan dari kesehariaannya, rumput dan dedaunanpun menjadi karakter wayang yang cukup menarik dan menyenangkan. Meskipun dengan kehidupan yang sederhana dia berkeinginan menjadi dalang wayang kulit.

Karena hobi itu pulalah dia sangat senang membaca segala sesuatu yang berkaitan dengan wayang kulit. Pada masa kecilnya (sekitar tahun 80-an), majalah dan surat kabar yang memuat tentang wayang kulit sangat sedikit, maka segala tulisan yang ada dan memuat wayang akan dicarinya meskipun hanya potongan koran bekas. Hingga suatu saat dia menemukan sebuah majalah krucil (majalah dengan ukuran booklet/separuh buku tulis biasa) yang memuat tentang seorang anak dari Karangsambung yang mahir membuat wayang. Anak kecil itu mendapat pujian dari dalang ki Manteb Sudarsono atas karyanya. Karena kedekatan geografis pamanku sangat ingin mengenal anak itu lebih dekat. Meskipun pada masanya banyak anak yang bersekolah di Karangsambung dia tidak mendapat kesempatan yang sama. Dia hanya memendam keinginan untuk mengenal anak tersebut.

Menjelang dewasa dia ngenger atau mengabdi kepada salah satu dalang yang cukup terkenal di daerah Cilacap dan sekitarnya yang bernama panggung Ki Sikin Hadi Warsono. Disana pamanku tidak hanya berlatih wayang namun juga sebagai pembantu yang menyiapkan keperluan ki dalang. Baik keperluan panggung maupun keperluan sehari-hari keluarga ki dalang. Bagi pamanku, memiliki kesempatan berlatih wayang dan seluk beluk serta penyiapan di belakang panggung adalah sebuah anugerah yang luar biasa, meskipun harus ditebus dengan sebuah pengabdian.

Karena sebuah tuntutan pamanku tidak melanjutkan pengabdian di tempat ki Sikin Hadi Warsono, kemudian beliau merantau di tanah pasundan. Pamanku menuliskan episode kehidupannya di ibukota parahyangan, kota paris van java, Bandung. Di sana beliau memulai usaha dengan ikut berjualan bakso pada tetangga satu desa. Setiap hari beliau berjalan berkeliling mendorong gerobak bakso dari rumah ke rumah. Setiap pagi jauh dari saat menjelang subuh harus bangun lalu ke pasar menyiapkan bahan untuk berjualan hari itu. Hari-harinya yang penuh kesibukan tak melunturkan kecintaannya pada wayang kulit. Ketika ada pagelaran wayang kulit, dia menyempatkan diri berlibur untuk menyaksikannya.

Ketika pamanku menikah dia memutuskan untuk pentas pentas di hadapan orang-orang desanya. Pentas itu yang pertama kali di khalayak ramai. Pamanku dengan kemampuan yang dimilikinya berusaha menampilkan yang terbaik. Satu keinginan kuat yang menjadi kenyataan. Semua orang menyemangati dia dan memberikan ucapan selamat atas kenekatannya menggelar pertunjukan wayang hari itu. Meskipun sampai saat ini belum pernah pentas kembali, namun dia membuktikan keterbatasan bisa ditebus dengan kerja keras.

Rupanya takdir yang berkaitan dengan kecintaannya pada wayang kulit belum berhenti sampai di situ. Suatu saat ketika ada pertunjukan wayang kulit ki Manteb Sudarsono di Bandung beliau menyempatkan hadir di gedung RRI Bandung untuk melihat. Di sana ki Manteb menemui seseorang yang membawa sebuah wayang karakter Buta (raksasa). Ketika ki Manteb menyebut nama pembuat wayang itu, pamanku terkejut dan segera menghampiri pembuat wayang itu. Mereka berdua berkenalan ternyata pembuat wayang itu adalah anak Karangsambung yang pernah dibacanya di Majalah krucil waktu dia masih kecil. Akhirnya dia akrab dengan anak yang dikenalnya hanya dari majalah.

Dua hal itu, membuktikan bahwa sebuah keinginan kuat sangat mempengaruhi apa yang akan kita dapatkan. Kita bisa meraih berbagai macam hal yang mungkin hanya kita bayangkan dan atau kita bayangkan tidak mungkin.

Seperti juga cerita ini Cita-citaku tukang traktor

Kamis, 10 April 2014

Pemilu di TPS 3 desa Logandu



8 April 2014...
pukul 09.00 semua anggota KPPS berkumpul di tempat pak Pardireja RT 04/01 dan briefing sejenak untuk menentukan lokasi, dan posisi yang dirasa tepat untuk pelaksanaan Pemilu Legislatif DPR RI, DPD, DPRD Jateng, dan DPRD Kebumen. Bermodalkan ruangan 4x5 meter ditatalah 4 bilik suara, 4 kotak suara, meja panitia, meja saksi, dan papan tempat menempel pengumuman.

11.16 WIB Pekerjaan hampir selesai, kemudian diambillah kotak suara dan bilik suara dari PPS desa Logandu yang ditempatkan di balai desa untuk melengkapi sarana dan prasarana yang ada.

12.30 Ketua KPPS (Siadan) berkumpul di balai desa untuk pembekalan akhir menjelang Pileg benar-benar dimulai. Anggota KPPS 3 lain berkumpul dan masih mengira-ngira serta merencanakan hal yang akan dikerjakannya sesuai dengan pembagian tugas masing-masing. Paino KPPS no 2, Mahdi KPPS no 3, Kisun KPPS 4, Murdiyono KPPS 5, Wisun KPPS 6, dan Abdul Majid KPPS no 7. Sambil bersantai mereka bertukar pandangan tentang hal terbaik yang bisa dilakukan.

Paino bertugas mencocokkan undangan dengan nomor urut kehadiran, Mahdi menulis alamat dan kelengkapan di surat suara yang diberikan kepada pemilih setelah sebelumnya ditandatangani ketua. Kisun mendaftar kehadiran konstituen serta mencocokan dengan DPT, Murdiyono menghantarkan dan membantu pemilih di sekitar bilik suara, Wisun membantu memasukkan dan memastikan dimasukkan ke dalam kotak yang tepat, dan Abdul Majid petugas pencelup tinta sebagai bukti telah memilih.

14.00 anggota KPPS membubarkan diri untuk melanjutkan tugas rumah kebanyakan mencari rumput alias ngarit untuk pakan ternak mereka. kemudian malam bersama berjaga di TPS sambil memastikan semua persiapan telah lengkap dan sesuai prosedur.

9 April 2014
Pukul 06.45 semua anggota KPPS hadir ditambah 2 orang hansip Minardi dan Madroji telah siap di lokasi pemilihan.

07.00 Belum ada calon pemilih yang hadir, hujan turun dengan cukup deras. Namun sebagian saksi telah hadir mereka adalah : Tasim (Nasdem), Toto Suranto (PKB), Ali Mustofa (PDIP), Wartono (Golkar), Suswanto (Gerindra), dan Solehan (PAN).

07.25 Hujan telah mereda dan Pemilih mulai datang dilaksanakan pengambilan sumpah anggota KPPS oleh ketua KPPS



Ketua mengambil sumpah KPPS TPS 3 desa Logandu


07.37 Ketua PPS melakukan sosialisasi kepada pemilih 

07.46 pembukaan kotak suara oleh anggota KPPS di hadapan pemilih dan saksi
dilanjutkan pengecekan isi kotak dengan surat yang tertera di luar kotak setelah dirasa lengkap proses pemilihan dimulai.
08.13 Pemilih mulai memberikan hak suaranya di balik bilik suara. Sebagian besar pemilih pada waktu pagi adalah perempuan, yang membuktikan antusiasme perempuan cukup tinggi dalam menentukan perjalanan bangsa 5 tahun ke depan. rata-rata setiap pemilih berada di bilik suara berkisar 6-7 menit karena masih banyak yang kebingungan cara melipat kembali kertas suara. 

4 buah kertas suara diberikan kepada pemilih, kuning untuk daerah pemilihan Jateng VII untuk DPR RI, Merah suara untuk DPD, kertas suara Biru dapil Jateng 7 untuk Propinsi, dan Hijau dapil 6 untuk DPRD Kabupaten Kebumen. Pemilih terus datang silih berganti hingga waktu menunjukkan waktu 12.48 WIB. Dari 370 orang yang tercatar di DPT yang hadir sebanyak 61,62% yakni 228 pemilih. 13.00 TPS ditutup dan break ishoma dilaksanakan hingga pukul 13.30.


13.35 WIB Pembukaan kotak suara dan dilanjutkan dengan penghitungan jumlah kertas suara terpakai sebagai sinkronisasi dengan jumlah pemilih yang hadir

14.02 WIB dilakukan mulai penghitungan jumlah perolehan suara, dimulai dengan DPR RI yang memiliki hasil sebagai berikut : 1. Nasdem (27 suara), 2. PKB (26 suara), 3. PKS (6 suara), 4. PDIP (57 suara), 5. Golkar (12 suara), 6. Gerindra (29 suara), 7. Demokrat (2 suara), 8. PAN (25 suara), 9. PPP (19 suara), 10. Hanura (1 suara), 14. PBB (2 suara), 15. PKPI (0). dengan suara tidak sah 22 lembar

15.00 WIB, Penghitungan DPD hanya memerlukan waktu berkisar 24 menit dengan hasil suara sah sebanyak 194 dan tidak sah sebanyak 34 suara.

15.30 Penghitungan DPRD Propinsi yang memperebutkan 10 kursi di dapil 7 Jateng yang meliputi Kebumen, Purbalingga, Banjarnegara dimulai, hasil akhir dari DPRD adalah : 1. Nasdem (18 suara), 2. PKB (45 suara), 3. PKS (3 suara), 4. PDIP (53 suara), 5. Golkar (9 suara), 6. Gerindra (23 suara), 7. Demokrat (3 suara), 8. PAN (25 suara), 9. PPP (21 suara), 10. Hanura (1 suara), 14. PBB (2 suara), 15. PKPI (1). dengan suara tidak sah 24 lembar
16.35 penghitungan dihentikan sejenak untuk menghela nafas dan sholat ashar, kemudian dilanjutkan berkisar pukul 16.50. Penghitungan terakhir dimulai dengan perasaan saksi yang lebih menguat karena kedekatan dengan calon DPRD Kebumen lebih terasa, 8 Kursi di Daerah pemilihan Kebumen VI meliputi Karanganyar, Karanggayam, Gombong, Sempor terasa semakin mendekat dan membuat darah bergerak lebih cepat. And the final result for TPS 3 are : 1. Nasdem (8 suara), 2. PKB (74 suara), 3. PKS (12 suara), 4. PDIP (25 suara), 5. Golkar (11 suara), 6. Gerindra (26 suara), 7. Demokrat (4 suara), 8. PAN (48 suara), 9. PPP (4 suara), 10. Hanura (0), 14. PBB (2 suara), dan 15. PKPI (0). dengan suara tidak sah sebanyak 14 lembar. Penghitungan suara DPRD Kabupaten Kebumen berakhir beberapa saat menjelang adzan maghrib bergema dari Masjid al Istiqomah Logandu.
Khusus untuk Caleg asli dari daerah karanggayam masuk 3 besar di TPS 3 yakni  Yadi (PKB: 62 suara), Sukirno (PAN: 39 suara), dan Wijil Tri Atmojo (Gerindra: 14 suara). Semoga ada yang memperoleh kursi di DPRD Kebumen dan memperjuangkan serta mengawal program perencanaan pembangunan daerah di Kecamatan Karanggayam.

Inilah hasil dari pesta demokrasi khususnya TPS 3 desa Logandu Kecamatan Karanggayam, semoga hasil yang didapat memberikan maslahat bagi seluruh warga Logandu, Karanggayam, Kebumen, dan Nasional Indonesia. Aaamiiiin................

Kamis, 27 Maret 2014

Pelangi Sore di Logandu



Kemarin sore (Rabu, 26 Maret 2014) berkisar pukul 15.30 hujan mengguyur bumi Logandu, dengan cukup deras. Tak terlalu lama memang hujan menyiram tanah yang mengundang aroma segar namun cukup untuk mendinginkan bumi yang tadinya terasa gerah. Bersamaan dengan hujan yang turun matahari yang mulai mendingin masih terpancar dengan cerah di sebelah barat. Tak lama muncul baris lengkungan indah penuh warna di langit sebelah utara desa.

Semburat merah, jingga, kuning, hijau biru, lembayung, dan ungu memayungi langit dengan keceriaan. Satu per satu orang keluar rumah menyaksikan lukisan alam diiringi hujan yang menyisakan titik-titik air kecil. Sembari tersenyum orang-orang bercerita tentang kenangan masing-masing tentang pelangi. Mereka bersama mengagumi keindahan dengan cara mereka masing-masing.

Baris-baris warna yang berbeda-beda menghasilkan sebuah keindahan dan kesejukan di pandang. Begitupun kita, di desa memiliki sejarah, latar belakang, pekerjaan, dan pemahaman yang berbeda. Kita tidak pernah diciptakan sama, karena kita harus saling melengkapi untuk membangun desa kita.

Pada masa kecil saya membaca sebuah cerpen yang hingga kini masih terkesan bahwa ada harta di kaki pelangi. Harta itu tidak terlihat hanya bisa dirasakan, dan harta itu bernama perbedaan. Kita bisa menjadikan semua indah jika memadukan perbedaan.

Semoga pelangi sore membawa kita menyadari keberadaan kita di desa Logandu, dan memaksimalkan kemampuan kita untuk mengembangkan desa kita tercinta.

keep respect n unity