Tampilkan postingan dengan label psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label psikologi. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Mei 2014

Kebutuhan Anak sesuai Kecerdasannya

 Dalam belajar, setiap anak membutuhkan metode dan perangkat yang berbeda-beda sesuai dengan kecerdasannya masing-masing. Hal-hal berikut bisa membantu mengenali jenis kecerdasan anak beserta alat dan kebutuhan masing-masing. Dan seringkali anak memiliki beberapa kecerdasan / multi talent sekaligus, jadi kita tinggal persiapkan saja hal-hal yang dibutuhkan,lalu kita monitor dan control belajar anak, selanjutnya evaluasi dan berikan reward dan punishment atas hal yang diraih anak.

Inilah kebutuhan belajar anak-anak sesuai dengan jenis kecerdasannya:

Anak Cerdas Bahasa (linguistik)
Berfikir melalui kata-kata, kegemaran: membaca, menulis, bercerita, bermain kata.
Kebutuhan: buku, alat rekam, alat tulis, kertas, buku harian, mengobrol, dongeng, dialog, diskusi, debat, cerita, film.

Anak Cerdas Matematis-Logika
Cara berfikir: melalui penalaran. Kegemaran: bereksperimen, tanya-jawab, memecahkan teka-teki logis, berhitung.
Kebutuhan: buku, bahan-bahan untuk bereksperimen, game simulasi, percobaan, teka-teki, materi sains, kegiatan manipulatif,  kunjungan ke planetarium, museum pengetahuan.

Anak Cerdas Spasial
Cara berfikir: melalui kesan dan gambar. Kegemaran: mendesain, menggambar, mebayangkan, mencoret-coret.
Kebutuhan: seni, LEGO, video, film, slide show, game imajinasi, labirin, teka-teki, buku berilustrasi, kunjungan ke museum seni.

Anak Cerdas Kinestetis-jasmani
Cara berfikir: melalui sensasi somatis. Kegemaran: menari, berlari, melompat, membuat bangunan, meraba, menggerakkan isyarat  tangan.
Kebutuhan: Bermain drama, bergerak, benda rakitan, olahraga, menari, permainan fisik, pengalaman yg berhubungan dengan indera peraba (tactile experiences), bengkel/mekanik, praktek (hands-on learning).

Anak Cerdas Musikal
Cara berfikir: melalui irama dan metode. Kegemaran: bernyanyi, bersiul, bersenandung, mengetuk-ketukkan tangan/kaki,  mendengarkan.
Kebutuhan: bernyanyi bersama, paduan suara, ikut konser, menonton konser, bermain alat musik, mendengarkan podcast, video.

Anak Cerdas Interpersonal
Cara berfikir: dengan cara melemparkan gagasan kepada orang lain. Kegemaran: memimpin, mengorganisasi, menghubungkan,  menebarkan pengaruh, menjadi mediator, berpesta, mengobrol.
Kebutuhan: teman-teman, permainan kelompok, pertemuan sosial, perlombaan, peristiwa sosial, magang, organisasi.

Anak Cerdas Intrapersonal
Cara berfikir: berhubungan dengan kebutuhan, perasaan, cita-citanya. Kegemaran: menyusun tujuan, bermeditasi, melamun,  merencanakan, merenung.
Kebutuhan: tempat rahasia, waktu menyendiri, proyek individual, kegiatan yang direncanakan sendiri, pilihan-pilihan.

Anak Cerdas Naturalis
Cara berfikir: melalui alam dan pemandangan alam. Kegemaran: bermain binatang piaraan, berkebun, meneliti alam, memelihara  binatang, peduli pada lingkungan.
Kebutuhan: akses ke alam, interaksi dengan tumbuhan/binatang, berkebun, memelihara binatang, hiking, peralatan bercocok tanam,  hiking, pecinta alam, mendaki gunung.

Jumat, 23 Mei 2014

Calistung untuk anak TK

Tes Calistung, Untuk (Si)apa?

Oleh: Asep Sapa’at
Praktisi Pendidikan, Pengkaji Karakter Guru di Character Building Indonesia
Dimuat di Radar Bogor, 20 Maret 2014
Asep Sapa’at
Di Indonesia, ada 3 misteri bagi kita semua: jodoh, kematian, serta tes baca tulis hitung (calistung) sebagai syarat masuk sekolah dasar (SD). Misteri terakhir menarik diungkap. Meski tak dibolehkan, praktik ini tetap saja terjadi pada saat tes saringan masuk SD. Yang menggelikan, orangtua pamer kehebatan anaknya yang sudah terampil calistung meski masih duduk di bangku TK. Bagaimana memahami fenomena tes calistung? Mengapa tes calistung tak boleh jadi prasyarat masuk SD?
Merujuk pada Peraturan Pemerintah No. 27/1990 tentang pendidikan prasekolah, TK merupakan salah satu bentuk pendidikan prasekolah. Pendidikan prasekolah adalah pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak didik di luar lingkungan keluarga sebelum memasuki pendidikan dasar yang diselenggarakan di jalur pendidikan prasekolah atau di jalur pendidikan luar sekolah. Jadi, pengalaman belajar anak-anak di TK berfungsi sebagai ‘jembatan’ antara rumah dan sekolah.
Tahukah Anda apa tujuan pendidikan prasekolah? Seksamai dengan baik. Tak ada maksud tersurat maupun tersirat bahwa tujuan pendidikan TK untuk membuat siswa terampil calistung. Pendidikan TK justru bertujuan menyiapkan anak sebelum memasuki SD. Itulah tujuan instrumental pendidikan TK. Sedangkan tujuan intrinsik pendidikan TK, membantu perkembangan anak didik sejak dini agar tumbuh dan berkembang secara wajar dalam aspek-aspek fisik, keterampilan, pengetahuan, sikap, dan perilaku sosialnya.
Yang jadi titik persoalan, praktik pendidikan TK di lapangan kerap melenceng karena pandangan yang terlalu fokus ke arah pencapaian tujuan instrumental. Eksesnya, proses pendidikan di TK tak ubahnya dengan di SD atau malah menjadi miniatur SD. Inilah ingkar proses yang sesungguhnya telah terjadi. Situasi makin ruwet karena orangtua kerap merasa puas dan senang kalau anaknya yang masih TK sudah terampil calistung. Meruyaknya praktik pemberian materi calistung bahkan bahasa Inggris, sesungguhnya akibat tekanan dari orangtua dan terjadinya malpraktik pendidikan di TK. Anak-anak TK kita tak berdaya. Mereka dipaksa jadi ‘orang dewasa berbadan kecil’. Tubuhnya boleh kecil, tapi beban belajarnya bisa membuat mereka stres. Ironis.
Kita boleh merasa khawatir, prinsip pendidikan di TK sudah dilanggar, tanpa disadari atau justru dengan kesadaran penuh. Tak ada lagi prinsip ‘Bermain sambil belajar dan belajar seraya bermain’. Bermain diganti dengan tugas membaca. Belajar berhitung tak sanggup merangsang keinginan belajar anak karena hanya sekadar menghapal angka-angka dan prosedur perhitungan. Kreativitas terkebiri karena anak-anak dipaksa harus bisa menulis. Ukuran keberhasilan belajar mengancik pada kurikulum dan hasil penilaian guru. Anak tak merasakah kasmaran belajar, masalah kritis yang malahan tak dijadikan bahan perhatian serius.
Fase pengenalan calistung bergeser menjadi penguasaan keterampilan calistung. Tragedi pendidikan di TK tengah terjadi. Padahal sejatinya, pengenalan calistung dilakukan melalui pendekatan yang sesuai dengan tahap perkembangan anak. Itu sebabnya, pendidikan di TK tidak diperkenankan mengajarkan materi calistung secara langsung sebagai pembelajaran sendiri-sendiri (fragmented) kepada anak-anak. Konteks pembelajaran calistung di TK hendaknya dilakukan dalam kerangka pengembangan seluruh aspek tumbuh kembang anak, dilakukan melalui pendekatan bermain dan disesuaikan dengan tugas perkembangan anak. Pahamkah penyelenggara pendidikan TK soal yang satu ini?
Kathy Hirsh-Pasek dalam bukunya Einstein Never Used Flash Cards memaparkan sebuah hasil kajian penelitian, mengajarkan permainan kreativitas pada usia dini ternyata jauh lebih penting. Mengapa? Karena otak anak di usia dini tumbuh sangat pesat. Jika kita kembangkan kemampuan kreatif mereka, saraf-saraf kreatifnya akan berkembang sempurna. Hal ini bisa ditandai oleh rasa ingin tahu anak yang tinggi terhadap hal-hal baru. Proses pengenalan calistung melalui strategi pembelajaran yang kreatif, itu yang mesti jadi perhatian penyelenggara pendidikan TK. Bukan memaksa anak belajar calistung, apalagi dengan metode yang relatif monoton dan membosankan. Alamak apa kata anak-anak kita.
Tolong pahami satu hal penting, bisa membaca dan gemar membaca teramat beda maknanya. Anak yang bisa membaca belum tentu gemar membaca. Mengapa hal ini bisa terjadi? Hasil penelitian mengungkap tiga hal penting. Pertama, mengajari anak membaca di usia dini justru tak membuat anak menjadi gemar membaca. Kedua, anak-anak yang diajari membaca di usia dini, mereka justru membaca dan menulis buku jauh lebih sedikit daripada mereka yang baru diajari membaca di usia 7 atau 8 tahun ke atas. Ketiga, kemampuan membaca anak yang sudah diajari sejak dini dengan anak yang baru belajar di usia 7 – 8 tahun akan sama baiknya ketika mereka sama-sama berumur 10 – 12 tahun. Namun, minat membaca anak yang diajari sejak usia dini lebih rendah ketimbang anak yang baru belajar baca di usia 7 – 8 tahun (Ayah Edy, 2012).
Idealnya, pendidikan di TK membantu tumbuh kembang anak sesuai tahap psikologi perkembangan lewat permainan kreativitas. Membantu anak usia dini untuk mengenal huruf dan angka dengan cara kreatif jauh lebih bijak daripada mengajarkan baca tulis hitung. Kini, jelaslah sudah bahwa mengajari anak membaca di usia dini justru kontraproduktif terhadap pertumbuhan saraf-saraf kreatifnya. Jangan sampai, ketika si anak sudah bisa calistung, mereka tak paham untuk apa kemampuan calistung itu, karena mereka tak memiliki rasa ingin tahu yang besar dan mendalam. Kasmaran belajar telah pergi jauh dari sikap hidup anak-anak kita. Mari waspadai situasi berbahaya ini. Karena hakikatnya, rasa ingin tahu adalah pintu awal terjadinya proses pembelajaran dan pendidikan.
Tes calistung, fenomena unik nan menarik. Syarat utama agar pendidikan berhasil, yaitu anak harus siap belajar (Katz: 1991). Siapa berani jamin, anak yang lulus tes calistung sudah siap belajar di SD? Tugas pendidikan di TK mengantarkan anak siap belajar di SD, bukan agar anak terampil calistung. Kalau anak sudah terampil calistung jelang masuk SD, untuk apa tujuan pendidikan di SD? Zill et.al (1995) menyatakan, sekolah harus siap mendidik anak. Lantas, tanya nurani kita sebagai orangtua dan pendidik, untuk apa dan untuk siapa tes calistung dihelat?

Selasa, 13 Mei 2014

Teori Perbedaan Otak Kiri dan Kanan itu Salah??

Bedah tuntas mitos otak kanan / otak kiri


“Men.. Lu ga cocok masuk IPA karena lu dominan otak kanan”
“Anak IPS tuh cocok jadi businessman, dominannya otak kanan kata seminar2 bisnis”
“Gw kayaknya kebanyakan make otak kiri nih, apa aja gw itung termasuk probilitas nembak cewe”

Pernah ga denger kalimat-kalimat serupa di obrolan sehari-hari?. Pengalaman gw sendiri, pernah denger bahasan otak kiri dan kanan mulai dari pengajar di ruang kuliah, pembicara di seminar bisnis sampe sesama penumpangi angkot yg lagi ngetem. Kayaknya percakapan dan “fakta” tentang otak kiri dan kanan udah dapet status kebenaran. Layaknya fakta sains lainnya seperti hukum gravitasi dan teori evolusi.

myth left-right brain 
Image Courtesy of http://www.cartoonaday.com
Pada tau darimana perihal pembedaan otak ini berasal? Dan kenapa kayaknya diyakini banget kebenarannya? Ok gw akan bahas di tulisan ini mulai dari
  1. Asal usul mitos, yg berasal dari Pa De Paul Broca, ilmuwan dari Prancis.  Yang kebetulan profesinya Neurosaintis yg hobinya bedah2 otak.
  2. Berkembangnya mitos Otak Kanan dan kiri dari istilahnya yg bener yakni Brain Lateralization.
  3. Dampak mitos pada pembagian jurusan, cara belajar dan bahkan sampe ke kuliah & kerjaan.

Asal usul mitos

Ada musium di Paris yg namanya susah, Musee de l’Homme. Salah satu koleksinya adalah deretan toples-toples diisi cairan formalin dan benda mengambang dalamnya adalah otak manusia. Mulai dari otak orang2 yang dianggap jenius sampe pembunuh dan psikopat diawetin disana. Salah satu toples tersebut berisi otak seorang ahli bedah otak (Ironis ya? hehe..), dan pada labelnya tertulis Paul Broca.
Siapa sih Paul Broca? Dan kenapa ditaro di awal bagian tulisan ini? Dia termasuk yang pertama yang ‘ngeh’ kalo ada bagian di otak yg bertanggung jawab untuk kemampuan bicara kita. Ada daerah di sekitar depan sebelah kiri otak yang kalo rusak, bisa bikin orang tersebut kesulitan bicara, daerah ini dinamain Area Broca. Jadinya orang bakal menderita kesulitan bicara dan berkomunikasi ketika pembuluh daerah di Area Broca pecah dan menderita stroke ringan.
Broca juga saintis pertama yang bilang kalo orang yang menderita epilepsi, bisa berkurang kejang-kejangnya kalo ‘jembatan’ antara otak kiri dan kanan, yg namanya corpus colossum, diputus. Dan emang hasil penelitiannya membantu banyak orang yg menderita epilepsi bisa hidup secara normal tanpa takut kejang2 dan tersedak kala gejala itu muncul. Jadi maklum aja kalo pendapat Broca tentang dualitas fungsi di otak sangat dihormati dan diterima luas di masyarakat sains pada saat itu.

Berkembangnya mitos

Pendapat Broca tentang adanya area spesial di otak untuk kemampuan bahasa. Dan ditambah bukti-bukti dari rekan dokternya tentang pasien yg mengalami kesulitan bicara ketika terjadi stroke di otak sebelah kiri. Kedua hal tersebut bikin orang2 banyak mengasosiasikan otak kiri dengan kemampuan berbahasa dan kompleksitas sintaksis berbahasa. Ga salah juga sih, ada percobaan sebagai berikut, coba baca kalimat dibawah:
The boogles are blundling the bludget
The boogles is blundling the bludget

Jangan khawatir kalo lu ga ngerti artinya, itu kata-katanya asal aja ko, hehe.. Tapi orang yg punya kerusakan di bagian kiri otak akan kesulitan bedainnya. Untuk yg ngerti grammar jelas yg benar adalah yg pertama. Boogles dengan akhiran ‘s’ menunjukan plural dan diikuti oleh ‘are’. Walau kata-katanya ga ada arti, ada bagian di otak yg nentuin grammar.
Selain susah bedain grammar, kadang ada kondisi yg namanya Aphasia. Sering ga lu, susah mau bilang suatu kata tapi tau artinya. Lu mau bilang ambilin pensil tapi tangan lu bikin gerakan nulis dan pala lu geleng-geleng sambil bilang “itu.. tuh.. ah apa sih.. ya pokoknya itu lah”. Nah, kalo kerusakannya di Area Broca, orang bahkan jadi bener-bener gak bisa nyebutin nama barang-barang, tapi bisa deskripsiin bentuk, warna dan guna barang2 tersebut.
Kalo kiri kuat korelasinya dengan grammar dan sintaksis, gimana dengan otak belahan kanan? Dan darimana mitos populer yang bilang kalo otak kanan tuh cocok untuk artist dan bisnisman yg ga perlu kalkulasi rumit? Kalo kondisi susah nyebut nama barang adalah Aphasia, nah ada kembarannya di otak kanan namanya Agnosia. Kelainan yg diakibatkan kerusakan di bagian kanan akan nimbulin kesulitan mengenali pola yg biasa dengan mudah kita kenalin, yaitu muka manusia. Heh? Ko bisa? Bukannya secara evolusi kita akan kenal pola apa pun yang mirip muka manusia? Nah coba kita masuk ke dunia orang Agnosia dengan mengenali gambar apakah di kanan ini?
Agnosia pictureBisa liat jelas kan? Muka siapa hayo? Coba balik gambarnya. Yangg pake Hape atau laptop gampang, nah yg pake PC mohon bantuan orang lain untuk jungkir balikin monitornya :D. Sebelum lu balikin gambarnya, pasti otak lu berusaha keras ngenalin pola atau gambar apaan sih? Itulah Frustasinya orang yg kena Agnosia untuk mengenali pola-pola gambar dan gambar yang overlap.
Dari kedua kondisi tadi:
Aphasia, kesulitan berbahasa akibat kerusakan di otak bagian kiri dan..
Agnosia, kesulitan mengenali pola akibat kerusakan di otak bagian kanan, maka...

Muncul lah pendapat berlebihan di luar wilayah kedokteran, malah lebih ke arah psikologi praktis dan populer, kalo Otak bagian kiri untuk hal-hal yg runut seperti linguistik atau kalkulasi. Dan konsekuensinya orang-orang yg kerjanya insinyur atau saintis dan ahli bahasa “kuat” di otak bagian kiri. Dan pasangannya, Otak bagian kanan untuk hal-hal seperti visual atau sensor spasial (ruang), maka org yang suka gambar atau kerja di bidang visual “kuat” di bagian kanan.
“Trus ya gapapa lah ada pendapat gitu, toh ada benarnya dari sejarah neurosains jaman Broca. Lagian juga orang-orang nyaman dengan pembagian otak kiri dan kanan, dan akhirnya kita ga bisa maksa org yg suka Seni untuk belajar Matematika kan?”
 
Tunggu dulu, seperti juga makan sate kambing, kalo keblablasan juga ga sehat. Sama halnya pendapat di sains... #ApaSih

Dampak Mitos

Iya memang ada area atau bagian di korteks otak kita yg bertanggung jawab untuk hal-hal tertentu, seperti bahasa dan visual. Tapi kenyataannya, dalam proses berpikir dan menerima input sinyal dari indera, otak kita bekerja secara bersamaan atau simultan. Pelukis memang make bagian kanan otak untuk nerima sinyal warna dan bentuk, tapi dia juga make otak bagian kiri untuk koordinasi gerakan halus nyapu kuas di kanvas. Saintis yg lagi ngitung kurva kecepatan maksimum Enzyme emang make otak kiri untuk kalkulasi konsentrasi enzim, tapi otak kanan juga berperan untuk ekstrapolasi data di grafik. Bahkan orang yg lagi nyanyi sebenarnya gunain dua bagian otak secara simultan dengan bantuan bagian Amygdala untuk emosinya.
Kadang, fakta sains itu suka dibikin lebay sama kalangan yang ga dalemin sains. Contoh kasus gampang deh, ada buku bisnis yang judulnya berbau-bau DNA (lu cari di toko buku juga pasti nemu - you know what I mean). Nah buku itu analogiin orang2 di perusahaan sebagai DNA yg bisa “termutasi” dan berubah jadi baik seperti di evolusi gen. Mungkin dari sinilah istilah mutasi pegawai negeri jadi populer. Huahaha...
Nah, dampak Mitos yg kentara banget dan bikin kesalahpahaman makin melebar adalah :
  1. Dikotomi antara orang bidang Seni atau Sosial dan Sains. Dibilang kalo, dua bagian itu bertolak belakang. Banyak yg bilang “Sosial itu gak kayak sains yang dari A ke B” atau “Sains itu ilmu pasti gak kayak Sosial” dan bahkan “Seni tuh jangan pake logika”. SALAH BESAR MASBRO ! Semua kesalah pahaman itu muncul karena udah ada prasangka kalo kita ditakdirkan kuat di otak kanan atau di kiri.
  2. Salah Penjurusan di Sekolah atau Kuliah. Kalo kita jago banget kalkulus ya masuknya jurusan eksakta (nama eksakta yg artinya “Pasti” aja udah salah). Trus kalo kita ga bisa kalkulus kita masuk ke sosial atau bahasa gitu? Udah cukuplah kesalahpahaman orang2 jaman gw sekolah atau ortu kita yg ngebagi sembarangan pelajaran di sekolah dengan istilah Sosial dan Sains plus Bahasa. Jujur aja anak Bahasa sering banget jadi kasta beda dari Sains, bener ga? Kenyataannya bagian otak yg tanggung jawab untuk ngitung Trigonometri dan mahamin grammar ada di satu area? Lah gimana kalo jurusannya di sekolah dipisah?
  3. Otak kanan diperluin buat sukses bisnis. Ini beneran jadi jargon yg populer di seminar bisnis, baik di dalam atau luar negeri. Singkatnya mereka bilang kalo lu mau jadi entrepreneur harus pake otak kanan. Alasannya? Otak kiri kan buat kalkulasi jadi malah bikin lambat aja. Kalo lu mau bisnis lu harus terjun langsung ga pake mikir lama, ga pake itungan rumit untung rugi, lu jalanin aja dulu, yang penting langsung jadi member dan apakah lu punya mimpi?.. Eh oops keterusan biasa denger diprospek sama yg nawarin MLM, hehe..
Dari tiga dampak mitos otak kiri dan kanan yg paling deket kena sama lu semua adalah nomor 1 dan 2. Jadi apa donk nasihat bijak mengenai dampak mitos ini?? Tulisan ini ga berusaha ngasih lu saran untuk milih jurusan apa nanti di SMA atau di kuliah, untuk tema yang satu ini udah diwakilin sama tulisan Faisal yang keren banget tentang gimana cara milih jurusan yang tepat. Tulisan ini ngasih latar belakang berkembangnya dan fakta yg beneran di sains. Makanya dari dulu Wisnu udah tekanin berkali-kali tentang pentingnya berpikir kritis ! Dengan berpikir kritis lu bisa bikin keputusan berdasar fakta yg bener. Selain itu lu juga bisa ngasih “pencerahan” untuk orang-orang yang salah menghakimi orang2 dengan membaginya berdasarkan Kanan dan Kirinya otak.
Brain lateralization atau pembagian otak bagian kanan dan kiri berikut spesialisasi bagian tertentu untuk fungsi tertentu emang betulan diteliti di sains. Tapi apakah minat dan bakat lu udah Hardwired atau pasti dan ga bisa diubah-ubah? Apakah bakat seni selalu bertolak belakang sama sains? Apakah kemampuan analisis sosial ga merluin rigiditas dari sains? Apa pun yg kita kerjain akan gunain dan manfaatin dua bagian otak, kanan dan kiri secara simultan.
Jadi Otak dan bakat ga sesimpel judul albumnya Bon Jovi, “This left feels right...”
Salam Berpikir Kritis !

 disalin dari www.zenius.net

Kamis, 01 Mei 2014

Otak Kreatif Anak (Manusia) tidak datang tiba-tiba


Dari akun @anakjugamanusia. Yani Widianto mengumpulkan kicauan dengan #otakkreatif

Ada beberapa hal yg seringkali ditanyakan oleh, rekan2 dari Dunia Usaha, Pendidik, Guru & Ortu. Seperti “Kenapa ya kok Karyawanku ini sulit diajak Kreatif ya?”
“kenapa ya, sulit sekali mencari karyawan yg kreatif?”
“kenapa ya, memberikan Bonus, Tunjangan / tambahan Penghasilan seringkali tdk membuat orang mjd Kreatif?”
“Kenapa ya, kok banyak anak-anak Muda kalo diajak berpikir, memilih menghindar?”,
“knp ya byk lulusan PT yg nggak kreatif?”
“Kenapa ya, kok banyak Orang cenderung Emosional dalam menyelesaikan suatu Permasalahan?”
Biasanya kami jawab “Nggak tau tuh”, “loh gimana sih?” pada protes, ya Karena kami benar2 Tidak Tau, hehe

Kemudian, pertanyaan-pertanyaan tersebut mulai terjawab. Bahwa Semua ini dimulai dari Pendidikan saat masih anak-anak! kami pernah membaca bukunya “Ayah Edi”, yg mengatakan bahwa Otak Manusia memiliki 3 Kemampuan Dasar yaitu;
  • Kemampuan Berpikir/Nalar,
  • Kemampuan Kreatif, lalu
  • Kemampuan Menghafal

Nah ini menarik, Sayangnya saat Sekolah seringkali yg di asah pada anak-anak adalah Kemampuan Menghafalnya dari SD sampai kuliah, hampir semua Ujian / Test isinya adalah Hafalan yg semuanya ada di buku & Internet pdhl dlm Dunia Kerja & Selepas Sekolah, Kemampuan yg sering digunakan adalah Kemampuan Berpikir & Kemampuan Kreatif Bayangkan pertanyaan-pertanyaan; “Sebutkan nama2 Menteri?”, kenapa nggak sekalian “sebutkan nama2 istri menteri”, hehe lalu pertanyaan hafalan, “Apa yg terjadi antara 1825 – 1830?”, ya jelas-jelas jawabnya ada di buku “Perang Diponegoro"

Mengapa tidak Pertanyaan; “menurutmu Semangat Pangeran Diponegoro, bila diterapkan dalam se-hari2, akan seperti apa?” wah, itu Pertanyaan yg akan memacu Kemampuan Berpikir, juga anak belajar mengambil hikmah dari sebuah peristiwa pernah diberitahu oleh Rekan yg di luar negeri khususnya negara maju, bahwa PR anak-anak setara SD disana hanya sedikit Sekali kadang hanya 1 Pertanyaan seperti ini “Apakah Idemu untuk Merubah Dunia?” & jawabnya Lesan Pula di depan Kelas, wooww

Ini memacu Kemampuan Berpikir, Kreatif & Melatih Kemampuan mempresentasikan Pikiran & Imajinasi anak. Ya, sistem pendidikan kita memaksa anak-anak seringkali hanya diasah & dilatih Kemampuan Menghafalnya lalu tiba2 saat Kerja & Selepas Sekolah/Kuliah, anak-anak hrs Memiliki Kemampuan Berpikir & Kemampuan Kreatif?

Ini Menjadi PR besar Kita semua. Sulit sekali mengubah sistem yg sudah seperti ini, Namun kita selalu punya kesempatan kita bisa memulainya dalam keluarga kita, beri ruang bagi anak untuk berpikir & kreatif hargai setiap pendapat anak, hargai idenya, beri juga apresiasi pada karya-karya anak, apapun itu jangan justru kemampuan-kemampuan berpikir & kreatif anak yg sangat mereka butuhkan nantinya, kita mandulkan dgn sikap2 kita. Sikap sering meremehkan ide anak, pendapat & karya anak, akan membuat kemampuan-kemampuan tersebut malah tumpul kemampuan berpikir & kreatif anak mestinya harus kita tumbuhkan keatas, bukan kita tekan-tekan kebawah. Semakin tajam kemampuan berpikir&kreatif anak, semakin anak bisa menyelesaikan persoalan-persoalan yang kelak ia hadapi

disarikan dari yani.widianto.com

Sabtu, 19 April 2014

Baca tulis dan hitung dilarang untuk anak usia PAUD

 Dr. Hj Erma Pawitasari, M.Ed 
dari http://www.suara-islam.com

Perkembangan pengajaran calistung disertai dengan tes-tes bagi anak-anak Playgroup dan TK sudah pada level mengkhawatirkan. Bila dulu, anak-anak cukup membeli buku persiapan UMPTN (masuk perguruan tinggi), diikuti dengan buku persiapan Ebtanas (setara Ujian Nasional), sekarang sudah banyak terbit buku-buku untuk persiapan tes masuk SD, seperti “Aku Siap Masuk SD” dan sejenisnya. Lebih jauh lagi, anak bayi pun sekarang sudah harus giat belajar menghadapi persaingan masuk TK sehingga banyak terbit buku-buku persiapan masuk TK, seperti “Sukses Masuk TK”, “99,99% Diterima Masuk TK Favorit”, dan “Lolos Tes Masuk TK.”

Bola liar calistung ini membuat Mendikbud, Dr. Muhammad Nuh, membuat pernyataan publik pada acara Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan (RNPK) di Depok, 11 Januari yang lalu. Beliau menegaskan bahwa mengajarkan calistung adalah kewajiban SD, bukan PAUD. Anak yang akan masuk sekolah tidak boleh dituntut sudah menguasai calistung [Situs resmi PAUD Kemdikbud RI].

Pernyataan Mendikbud ini sesuai dengan aturan hukum yang diatur dalam Permendiknas RI No. 58 TAHUN 2009 tentang Standar Pendidikan Anak Usia Dini. Ada 4 tingkat pencapaian terkait dengan kemampuan calistung bagi anak usia 4-6 tahun, yaitu:

1. Pura-pura membaca cerita bergambar dalam buku dengan kata-kata sendiri.

2. Berkomunikasi secara lisan, memiliki perbendaharaan kata, serta mengenal simbol-simbol untuk persiapan membaca, menulis dan berhitung.

3. Membaca nama sendiri.

4. Menuliskan nama sendiri.

Berdasarkan Permendiknas ini, kemampuan tertinggi yang diharapkan dari lulusan TK adalah membaca dan menulis namanya sendiri. Inipun cukup nama pendek, sekedar mengenali namanya dan memberi nama lembar kerjanya.

Untuk mendukung aturan ini, Dirjen Dasmen mengeluarkan Surat Edaran Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar Dan Menengah Nomor 1839/C.C2/TU/2009 Perihal : Penyelenggaraan Pendidikan Taman Kanak-Kanak dan Penerimaan Siswa Baru Sekolah Dasar. Ada 3 hal yang ditekankan dalam surat edaran ini, yaitu:

1. Pendidikan di TK tidak diperkenankan mengajarkan materi calistung secara langsung.

2. Pendidikan di TK tidak diperkenankan memberikan pekerjaan rumah (PR) kepada anak didik dalam bentuk apapun.

3. Setiap sekolah dasar (SD) wajib menerima peserta didik tanpa melalui tes masuk.

Menurut aturan pemerintah, Sekolah PAUD yang mengajarkan materi calistung secara langsung dan SD yang mengadakan tes penerimaan murid justru telah melakukan pelanggaran. Hal ini harus disosialisasikan ke seluruh PAUD dan orang tua murid sehingga bersama-sama mematuhi aturan dan tidak memaksa anaknya menguasai calistung pada usia dini.

Mengapa pemerintah melarang pengajaran calistung secara langsung? Apa ruginya anak belajar calistung? Bukankah hal ini membantunya menguasai pelajaran SD? Bukankah makin terpakai otak, makin meningkat kecerdasannya?

Secara ringkas, pertanyaan-pertanyaan di atas telah dijawab oleh Direktur PAUD Kemdikbud, Sudjarwo Singowijoyo. Beliau mengatakan:

 Memaksa anak usia di bawah lima tahun (balita) menguasai calistung dapat menyebabkan si anak terkena 'Mental Hectic’, yaitu anak menjadi pemberontak.

 Penyakit itu akan merasuki anak di saat kelas 2 atau 3 Sekolah Dasar (SD).

Memaksakan anak menguasai calistung pada usia dini justru akan merusak kecerdasan mentalnya. Ia mungkin tampak jenius secara kognitif, namun fungsi otak lainnya akan terganggu. Otak manusia tidak hanya berfungsi untuk mengolah informasi kognitif, namun juga nalar dan karakter (akhlaq). Apabila kemampuan nalar dan akhlaq rendah, maka kemanusiaan akan jatuh pada titik nadir.

Apakah anak usia dini sama sekali dilarang belajar calistung? Belajar calistung secara tidak langsung diperbolehkan. Contohnya adalah:

- melihat ibunya menghitung gelas untuk menjamu tamu
- melihat kakaknya menikmati membaca buku
- menghitung jumlah anggota dalam sebuah permainan kelompok
- dsb.

Sebagai penutup, mari kita renungkan hadits Nabi SAW, “Perintahkanlah anakmu untuk sholat pada usia 7 tahun.” Sholat adalah urusan yang paling penting. Sholat adalah tiang agama. Untuk urusan terpenting saja, Nabi menyuruh kita menunda hingga anak mencapai usia 7 tahun. Padahal, apa salahnya menyuruh anak sholat sejak usia dini?

Keimanan kita kepada Allah dan Rasul membuat kita yakin bahwa apa-apa yang diperintahkan/dilarang adalah yang terbaik. Bila menyuruh anak sholat sejak usia dini memiliki efek positif, tentu Nabi akan mewasiatkan untuk mengajak anak-anak sholat sejak usia dini. Namun, Nabi justru membiarkan cucu-cucunya bermain di punggung beliau saat beliau mengimami sholat berjamaah di masjid. Demikian pula dalam hal belajar bidang-bidang lainnya. Pelajaran secara formal/langsung, baru boleh dilakukan ketika anak berusia 7 tahun. Sebelum usia itu, biarkan kanak-kanak menikmati canda tawanya, tanpa beban yang akan merusak akhlaknya.

Jumat, 18 April 2014

Sebuah Cerita dari Logandu



Kupikirkan maka kudapatkan

Sebuah keinginan yang kuat adalah awal dari pencapaian kita hari ini. Kita berpikir dan bertindak secara tidak sadar akan terprogram dan berorientasi pada keinginan tersebut. Keinginan itu akan berusaha mendekatkan usaha kita menuju keinginan yang tertanam di alam bawah sadar.

Saya rasa semua pasti sudah pernah mengalami hal tersebut, hanya saja tidak semua sadar dan tahu akan keinginan dan tindakannya itu. Ada sebuah kisah dari sebuah keinginan masa kecil (meskipun sederhana dan bagi sebagian orang hal ini sepele) yang menjadi kenyataan.

Aku punya seorang paman, dia sangat menyukai pertunjukan wayang kulit. Masa kecilnya dia sering melihat pertunjukan wayang di desa maupun sekitar desanya. Wayang tak bisa dilepaskan dari kesehariaannya, rumput dan dedaunanpun menjadi karakter wayang yang cukup menarik dan menyenangkan. Meskipun dengan kehidupan yang sederhana dia berkeinginan menjadi dalang wayang kulit.

Karena hobi itu pulalah dia sangat senang membaca segala sesuatu yang berkaitan dengan wayang kulit. Pada masa kecilnya (sekitar tahun 80-an), majalah dan surat kabar yang memuat tentang wayang kulit sangat sedikit, maka segala tulisan yang ada dan memuat wayang akan dicarinya meskipun hanya potongan koran bekas. Hingga suatu saat dia menemukan sebuah majalah krucil (majalah dengan ukuran booklet/separuh buku tulis biasa) yang memuat tentang seorang anak dari Karangsambung yang mahir membuat wayang. Anak kecil itu mendapat pujian dari dalang ki Manteb Sudarsono atas karyanya. Karena kedekatan geografis pamanku sangat ingin mengenal anak itu lebih dekat. Meskipun pada masanya banyak anak yang bersekolah di Karangsambung dia tidak mendapat kesempatan yang sama. Dia hanya memendam keinginan untuk mengenal anak tersebut.

Menjelang dewasa dia ngenger atau mengabdi kepada salah satu dalang yang cukup terkenal di daerah Cilacap dan sekitarnya yang bernama panggung Ki Sikin Hadi Warsono. Disana pamanku tidak hanya berlatih wayang namun juga sebagai pembantu yang menyiapkan keperluan ki dalang. Baik keperluan panggung maupun keperluan sehari-hari keluarga ki dalang. Bagi pamanku, memiliki kesempatan berlatih wayang dan seluk beluk serta penyiapan di belakang panggung adalah sebuah anugerah yang luar biasa, meskipun harus ditebus dengan sebuah pengabdian.

Karena sebuah tuntutan pamanku tidak melanjutkan pengabdian di tempat ki Sikin Hadi Warsono, kemudian beliau merantau di tanah pasundan. Pamanku menuliskan episode kehidupannya di ibukota parahyangan, kota paris van java, Bandung. Di sana beliau memulai usaha dengan ikut berjualan bakso pada tetangga satu desa. Setiap hari beliau berjalan berkeliling mendorong gerobak bakso dari rumah ke rumah. Setiap pagi jauh dari saat menjelang subuh harus bangun lalu ke pasar menyiapkan bahan untuk berjualan hari itu. Hari-harinya yang penuh kesibukan tak melunturkan kecintaannya pada wayang kulit. Ketika ada pagelaran wayang kulit, dia menyempatkan diri berlibur untuk menyaksikannya.

Ketika pamanku menikah dia memutuskan untuk pentas pentas di hadapan orang-orang desanya. Pentas itu yang pertama kali di khalayak ramai. Pamanku dengan kemampuan yang dimilikinya berusaha menampilkan yang terbaik. Satu keinginan kuat yang menjadi kenyataan. Semua orang menyemangati dia dan memberikan ucapan selamat atas kenekatannya menggelar pertunjukan wayang hari itu. Meskipun sampai saat ini belum pernah pentas kembali, namun dia membuktikan keterbatasan bisa ditebus dengan kerja keras.

Rupanya takdir yang berkaitan dengan kecintaannya pada wayang kulit belum berhenti sampai di situ. Suatu saat ketika ada pertunjukan wayang kulit ki Manteb Sudarsono di Bandung beliau menyempatkan hadir di gedung RRI Bandung untuk melihat. Di sana ki Manteb menemui seseorang yang membawa sebuah wayang karakter Buta (raksasa). Ketika ki Manteb menyebut nama pembuat wayang itu, pamanku terkejut dan segera menghampiri pembuat wayang itu. Mereka berdua berkenalan ternyata pembuat wayang itu adalah anak Karangsambung yang pernah dibacanya di Majalah krucil waktu dia masih kecil. Akhirnya dia akrab dengan anak yang dikenalnya hanya dari majalah.

Dua hal itu, membuktikan bahwa sebuah keinginan kuat sangat mempengaruhi apa yang akan kita dapatkan. Kita bisa meraih berbagai macam hal yang mungkin hanya kita bayangkan dan atau kita bayangkan tidak mungkin.

Seperti juga cerita ini Cita-citaku tukang traktor

Senin, 07 April 2014

Rangkuman buku Psikologi Kepribadian oleh alwisol

BABI
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Persoalan yang dihadapi pesantren berikut adaptasi yang dibutuhkan tidak hanya berkaitan dengan kurikulum. Kemajuan perangkat media massa dan telekomunikasi, transportasi, perubahan basis ekonomi kalangan orang tua santri, percepatan modernisasi. Pesantren menjadi sorotan tajam berbagai pihak dalam satu dasawarsa terahir ini. Pengaitannya dengan persoalan sosial politik lebih menonjol daripada aspirasi terhadap dinamika sebagai lembaga pendidikan, padahal sejak awal peran sebagai lembaga pendidikan itulah yang utama dan perkembangan sosial politik berposisi sebagai sumber belajar warga pesantren.  Yang optimis memandang bahwa pesantren tetap dapat berkembang secara memadai dengan melakukan berbagai pembenahan internal dan pergerakan untu memperluas ruang hidupnya di antara sekian banyak jenis lembaga pendidikan yang tumbuh pesat di tanah air dan belum dapat menggantikan peran pondok pesantren. Yang pesimis melihat bahwa melemahnya peran pesantren sebagai lembaga pendidikan terjadi karena peran politiknya lebih menonjol sehingga pesantren sebagai lembaga pendidikan terjadi karena peran politiknya lebih menonjol. Yang kritis berusaha memahami bahwa dalam masa transisi ini pesantren terlihat memberikan pelajaran yang berharga tentang perkembangan lembaga pendidikan yang mengajar di masyarakat. Kegagalan dalam satu hal dan keberhasilannya dalam hal lain diakui. Kesemuanya dipahami sebagai sesuatu yang menarik untuk ditelaah karena terbukti bahwa pesnatren sendiri memperlakukannya sebagai sumber belajar untuk tetap berfungsi sebagai lembaga pendidikan sambil membangun pengetahuan bersama masyarakatnya.

B.    Rumusan Masalah
Dalam pembahasan makalan ini kami membatasi perumusan masalah yaitu:
1.    Apa tujuan pendidikan di pesantren?
2.    Bagaimana metode pendidikan di pesnatren?

C.    Tujuan Penulisan
1.    Untuk memberikan sedikit gambaran tentang metode dan tujuan pesantren di Indonesia.
2.    Untuk memenuhi tugas terstruktur mata kuliah Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Tujuan Pendidikan di Pesantren
Pesantren sebagai suatu lembaga pendidikan mempunyai tujuan yang dirumuskan dengan jelas sebagai acuan program-program pendidikan yang diselenggarakannya. Profesor Mastuhu menjelaskan bahwa tujuan utama pesantren adalah untuk mencapai hikmah atau kebijaksanaan berdasarkan pada ajaran Islam yang dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman tentang arti kehidupan serta realisasi dari pean-peran dan tanggung jawab sosial.
Pesantren merumuskan beberapa tujuan pendidikannya yang dapat diklasifikasikan dalam tiga kelompok yaitu:
1.    Pembentukan akhlak atau kepribadian
Kesalehan para santri merupakan tujuan yang paling utama dari pesantren. Seorang kiai menyebut luluan pesantren yang ideal adalah  shalih atau santri yang berilmu dan berakhlak karimah. Dalam hal ini santri diharapkan menjadi manusia seutuhnya yaitu yang mendalami ilmu agama serta mengamalkannya dalam kehidupan pribadi dan bermasyarakat.
Peringkat kedua adalah shalih ghairu ‘alim atau santri yang moralitasnya tinggi tetapi penguasaan ilmunya kurang mendalam. Disini tampak bahwa tingginya moralitas tetap dikedepankan sampai-sampai mengalahkan kedalaman ilmu. Santri jenis ini bermanfaat di dalam masyarakat daripada santri yang ‘alim akan tetapi tidak shalih. Peringkat yang ketiga adalah santri ghairu shalih wa ghairu ‘alim, santri ini tidak saleh dan juga tidak pandai. Jika moralitasnya buruk,  maka keburukan itu hanya untuk dirinya sendiri, tidak sampai merusak moralitas masyarakat sampai ke tahapan mengacaukan ajaran. Peringkat ke empat adalah adalah santri yang ‘alim ghairu shalih yakni santri yang berilmu tetapi bermoral buruk. Ilmu dan kepandaiannya akan berbahaya bagi dirinya sendiri dan masyarakat.
Idealisasi out put santri menjadi seorang ‘alim shalih seperti ini kemudian diterjemahkan dalam penempaan cara hidup, nilai dan prinsip hidup sehari-hari di pesantren. Nilai-nilai tersebut membentuk perilaku santri yang kemudian membangun nilai-nilai mereka dalam sebuah sub-tradisi yang kemudian membangunkan nilai-nilai mereka berada dalam sebuah sub-tradisi di pesantren seperti keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian dan keteladanan yang telah sangat lama dipraktikkan di pesantren dan menjadi ciri khasnya. 
Prinisp ikhlas ini juga ditopang dengan prinsip kesederhanaan. Pola hidup sederhana terlihat mulai dari cara santri berpakaian, menyediakan makanan dan minuman. Sederhana tidak berarti kekurangan, namun sikap hidup sederhana yaitu tidak berlebihan, meskipun halal. Prinsip hidup sederhana ini juga tampak pada nilai yang dikembangkan yaitu selalu hidup sabar, tawakkal, zuhud dan wirai.
Di samping beberapa contoh akhlak di atas, santri di pesantren juga ditempa dengan membangun kemandirian dirinya, terutama secara ekonomi. Kiai selalu mendorong santri untuk tidak menjadikan pekerjaan pegawai negeri sebagai prioritas bagi karirnya, melainkan hidup berwirausaha. Bahkan beberapa kiai menegaskan menjadi pegawai negeri itu identik dengan mengabdiakan ilmu kepada kekuasaan. Dalam konteks yang lebih modern, para santri dalam hal ini sering dilibatkan secara langsung dalam unit-unit kegiatan pesantren, seperti dalam pengelolah unit usaha koperasi dan sebagainya. Model eksperimentasi semacam ini dapat mendorong para santri untuk mengembangkan diri sehingga diharapkan mereka tidak gagap ketika telah kembali atau bergumul dengan masyarakat luas. 
Perlakuan Kiai yang sama terhadap para santrinya tanpa membedakan latar belakang sosial ekonominya mereka memberikan pemahaman bahwa status mereka di pesantren adalah sama sehingga kesombongan adalah suatu sifat yang harus dihindari.  Di samping itu, sikap Kiai tersebut dapat memberi contoh kepada santri tentang perlakuan terhadap sesama manusia. Cinta kasih sangat tampak dalam pembelajaran. Hal itu sejalan dengan tujuan pendidikan Islam yaitu menumbuhkan manusia yang kuat secara keagamaan, keilmuan, kejiwaan dan keragaannya untuk dapat mengembang tanggung jawab dalam kehidupan di masyarakat. Keseimbangan tanggung jawab individual dan sosial berdasarkan cinta kasih itu menempatkan tujuan pendidikan Islam tidak terlepas dari upaya membangun kehidupan umat. 

2.    Penguatan Kompetensi santri
Kompetensi dikuatkan melalui empat jenjang tujuan yaitu tujuan-tujuan awal (wasail), tujuan-tujuan antara (ahdaf), tujuan-tujuan pokok (maqashid) dan tujuan akhir (ghayah).
a.    Wasail
Penguasaan atas mata pelajaran di pesantren di tempatkan sebagai wasail, baik penguasaan itu berada dalam ranah kognitif, afektif maupun psikomotorik. Rumusan wasail dapat dikenali dari rincian mata pelajaran yang masing-masing menguatkan kompetensi santri di berbagai bidang ilmu agama dan penunjangnya. Tekanan pada masing-masing mata pelajaran dan sub mata pelajaran yang disesuaikan dengan misi dan kekhasan pesantren.
b.    Ahdaf
Pada jenjang ula, wustha, ‘ulya diberi mata pelajaran yang berbeda sesuai untuk keperluan santri sebagai pribadi muslim. Paket pengalamaan dan kesempatan pada masing-maisng jenjang juga terlihat jelas di banyak pesantren. Di jenjang dasar pengalaman dan tangung jawab itu terkait erat dengan tanggung jawab sebagai pribadi. Di jenjang menengah terkait dengan tanggung jawab untuk mengurus sejawat santri dalam satu kamar atau beberapa kamar asrama, juga tugas untuk ikut serta membantu pengurus asrama baik dalam urusan kurikulum, kesantrian maupun sarana dan prasarana. Dan pada jenjang ketiga tanggung jawab itu sudah meluas sampai menjangkau penyelenggaraan musyawarah mata pelajaran dan kecakapan ini membekali para santri untuk ikut serta dalam tugas membantuk pelaksanaan pengajaran dan menghadiri acara-acara di masyarakat sekitar pesantren.
c.    Maqashid
Tujuan pokok yang ingin dihasilkan dari proses pendidikan di lembaga pesantren adalah lahirnya mutafaqqih fi ad-din yaitu orang yang ahli di bidang ilmu agama Islam. Karena cabang-cabang ilmu di dalam agama Islam itu banyak maka selalu terdapat kekhususan sesuai dengan kemampuan santri. Setelah santri dapat bertanggung jawab dalam mengelola urusan kepesantrenan dan terlihat kemauan bidang garapannya, maka dimulailan karir dirinya. Karir itu akan menjadi media bagi diri santri untuk mengasah lebih lanjut kompetensi dirinya sebagai lulusan pesantren. Di situlah ia mengambil tempat dalam hidup, menekuni, menumbuhkan , danmengembangkannya.


d.    Ghayah
Tujuan akhir adalah mencapai ridha Alloh. Itulah misteri kehidupan yang terus memanggil dan yang membuat semua kesulitan terasa sebagai rute-rute dan terimal-terminal manusiawi yang wajar untuk dilalui.

3.    Penyebaran ilmu
Penyebaran ilmu menjadi pilar utama bagi menyebarnya ajaran agama Islam. Kalangan pesantren mengemas penyebaran ilmu ini dalam kegiatan dakwah. Kewajiban ini bahkan menjaid sebuah keyakinan bagi kalangan pesantren, sebagai pembeda antara orang mukmin dengan munafik. Imam al Ghazali  lebih keras menyatakan bahwa meninggalkan amar makruf nahi munkar berarti keluar dari komunitas orang mukmin . Institusi pesantren sendiri sebenarnya merupakan perwujudan dari pelembagaan prinsip amar makruf nahi munkar. Pondok pesantren tidak sekedar mencetak individu pendakwah yang melakukan amar makruf nahi munkar, melainkan pesantren sebagia lembaga itu sendirilah yang berperan sebagai pendakwah.
Dalam penyebaran ilmu itu terlihat keragaman pendekatan untuk menyampaikan ajaran-ajaran agama, yang biasanya kemudian disebut sebagai dakwah. Kata dakwah dalam Al Qur’an disebut ratusan kali dalam berbagai bentuk dan konteks, secara bahasa makna dakwah adalah memanggil, menyeru, menegaskan, membela, memohon, meminta atau berdoa.

B.    Metode Pendidikan
Metode pendidikan membicarakan cara-cara yang ditempuh guru untuk memudahkan murid memperoleh ilmu pengetahuan, menumbuhkan pengetahuan ke dalam diri penuntut ilmu dan menerapkannya dalam kehiduan. Untuk memahami cara-cara itu, maka tidak dapat mengabaikan pengertian ilmu penegtahuan dan cara memperolehnya. Ilmu pengetahuan menurut Ibnu Khaldun adalah kemampuan manusia untuk membuat analisis dan sintesis sebagai hasil dari proses berpikir.  Dalam proses berpikir menurut Ibnu Khaldun ada tiga tingkatan yaitu:
1.    Perubahan pemahaman intelektual manusia terhadap segala sesuatu yang ada di luar alam semesta dalam tatanan alam yang berubah dengan maksud supaya manusa mampu menyeleksi dengan kemampuannya sendiri. Bentuk pemikiran semacam ini kebanyakan berupa persepsi yang dapat membantu manusia membedakan segala sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya, dengan begitu dapat menolak yang tidak bermanfaat.
2.    Pikiran yang melengkapi manusia dengan ide-ide dan perilaku yang dibutuhkan dalam pergaulan dengan orang lain. Bentuk pemikiran seperti ini kebanyakan berupa apersepsi yang dicapai manusia melalui pengalaman, hingga benar-benar dirasakan manfaatnya.
3.    Pikiran yang melengkapi manusia dengan pengetahuan atau pengetahuan hipotesis mengenai sesuatu yang berada di belakang persepsi indera tanpa tindakan praktis yang menyertainya. Bentuk pemikiran seperti ini merupakan gabungan persepsi dan apersespi yang tersusun secara khusus yang dapat membentuk sebuah pengetahuan.
Metode pengajaran di pesantren adalah bandhongan atau wetonan dan sorogan. Bandhongan dilakukan dengan cara kiai membacakan teks kitab yang berbahasa Arab menerjemahkannya ke dalam bahasa lokal dan sekaligus menjelaskan maksud yang terkandung dalam kitab tersebut. Metode ini diakukan dalam rangla memenuhi kmpetensi kognitif santri dan memperluas referensi keilmuan bagi mereka.  Selain bandhongan banyak pesantren yang juga menerapkan model kelas sebagaimana madrasah atau sekolah. Dalam model ini santri dikelompokkan menurut tingkat kemampuan penguasaan ilmunya.
Fleksibilitas kurikulum di pesantren dengan keterlibatan santri, misalnya dalam penentuan kitab yang dibaca dalam metode bandhongan, diharapkan mampu meningkatkan kompetensi afektif santri. Minat santri untuk belajar di pesantren dan agar selalu termotivasi dapat selalu ditumbuhkan jika santri ikut merasa memiliki rancangan kurikulum bagi dirinya sendiri. Pada dasarnya hampir selauruh aktivitas di pesantren mencerminkan prinsip belajar melalui praktik. Prinsip ini efektif untuk melihat dan mengukur kompetensi psikomotorik santri. Aktivitas learning by doing belajar sambil melakukan ini seperti ikut terlibat dalam pembangunan fisik pesantren dan pembangunan non-fisik pesantren. Begitu juga, belajar praktik ini juga seringkali berkaitan dengan pemecahan masalah yang harus diselesaikan oleh santri, misalnya masalah-masalah yang berkaitan dengan hidup bermasyarakat di dalam pesantren. Program-program kecakapan hidup sebagaimana telah disinggung di atas erat kaitannya dengan metode yang mencerdaskan dan memberdayakan ini.
Metode manapun yang dipilih, Abu Al ‘Anain mengingatkan enam prinsip untuk menentukan baik tidaknya metode pendidikan Islam dilihat dari filsafat pendidikan Islam yaitu apabila memenuhi beberapa ciri berikut:
1.    Bersumber dan diambil dari jiwa ajaran dan akhlak Islam yang mulia sehingga menjadi bagian terpadu dengan materi dan tujuan pendidikan Islam.
2.    Fleksibel dapat menerima perubahan dan penyesuaian dengan keadaan dan suasana proses pendidikan.
3.    Selalu menghubungkan teori dan praktik, proses belajar dengan amal dan harapan dengan pemahaman secara terpadu.
4.    Menghindari cara-cara mengajar yang bersifat meringkas, karena ringkasan itu merusak kemampuan-kemampuan rinci keilmuan yang berguna.
5.    Menekankan kebebasan peserta didik untuk berdiskusi, berdebat dan berdialog dalam cara sopan dan saling menghormati.
6.    Menghormati hak dan kedudukan pendidik untuk memlihi metode yang menurutnya sesuai dengan watak pelajaran dan warga belajar mengikutinya.
Guna mendukung penerapan prinsip-prinsip itu, maka terdapat lima rute yang dapat ditempuh penyelenggara pendidikan dan guru yaitu:
1.    Bimbingan dan pengarahan yang berjenjang dan menyesuaikan tema-tema krusial, tingkat-tingkat pemahaman, keterlibatan dan tanggung jawab warga pendidikan.
2.    Kepemimpinan yang baik di lingkup para penyelenggara, guru dan murid sehingga semua selaras dengan kebutuhan pendidikan.
3.    Kisah-kisah yang bermuatkan pesan-pesna moral untuk diteladani atau dilema nilai untuk memancing klarifikasi nilai diantara sesama murid dan antara murid dengan guru.
4.    Simulasi yang memberikan peluang dalam bentuk multisensori aau mengaktifkan semua indera murid sehingga dapat mengakomodasi jenis-jenis kecerdasan mereka.
5.    Motivasi dan penegakan disiplin, terutama untuk membangun kultur belajar yang menjunjung tinggi kebenaran, keterbukaan, keadilan dan keluhuran.

BAB III
KESIMPULAN

Pesantren merumuskan beberapa tujuan pendidikannya yang dapat diklasifikasikan dalam tiga kelompok yaitu Pembentukan akhlak atau kepribadian Kesalehan para santri merupakan tujuan yang paling utama dari pesantren. Seorang kiai menyebut luluan pesantren yang ideal adalah  shalih atau santri yang berilmu dan berakhlak karimah. Dalam hal ini santri diharapkan menjadi manusia seutuhnya yaitu yang mendalami ilmu agama serta mengamalkannya dalam kehidupan pribadi dan bermasyarakat.  Penguatan Kompetensi santri, kompetensi dikuatkan melalui empat jenjang tujuan yaitu tujuan-tujuan awal (wasail), tujuan-tujuan antara (ahdaf), tujuan-tujuan pokok (maqashid) dan tujuan akhir (ghayah). Penyebaran ilmu, penyebaran ilmu menjadi pilar utama bagi menyebarnya ajaran agama Islam. Kalangan pesantren mengemas penyebaran ilmu ini dalam kegiatan dakwah. Kewajiban ini bahkan menjaid sebuah keyakinan bagi kalangan pesantren, sebagai pembeda antara orang mukmin dengan munafik.
Metode pendidikan membicarakan cara-cara yang ditempuh guru untuk memudahkan murid memperoleh ilmu pengetahuan, menumbuhkan pengetahuan ke dalam diri penuntut ilmu dan menerapkannya dalam kehiduan. Untuk memahami cara-cara itu, maka tidak dapat mengabaikan pengertian ilmu pengetahuan dan cara memperolehnya

DAFTAR PUSTAKA

Abd ‘Ala. Pembaharuan Pesantren. (Togyakarta : Pustaka Pesantren, 2006).

Abu al Qasim al Qusyairy an Naisaburi. Risalat al Qusyairiyah. (Beirut : Dar al Khair, tt).

Ali Khalil Abu Al Ainain. Falsafat at Tarbiyah al islamiyah fi al Qur’an al karim, Cetakan I, (ttp : dar a; Fikr al Arabi, 1980).

Amin Haidari, et al. Masa Depan Pesantren dalam tantangan Modernitas dan Kompleksitas Global. (Jakarta : IRD, 2004.

Manfred Oepen. Pesantren and Naional Development : Role and Potential. (The Impact of Pesantren in Education and Community Development in Indonesia, 1988.

Mastuhu. Principle of Education in Pesantren. (Jakarta : FNS, 1988.

M Dian Nafi, et al. Praktis Pembelajaran Pesantren. (Yogyakarta : Lkis Pelangi Aksara, 2007.

Pradjarta Dirjosanjoto. Memelihara Umat : Kiai Pesantren Langgar di Jawa. (Yogyakarta : Lkis, 1999.

Zain ad-din bin Abd Aziz al Malibari. Irsyad al Ibad ila Sabili ar Rasyad.

Tujuan Pesantren di Indonesia.  http://wordpress/TujuanpesantrendiIndonesia.com, diakses tanggal 1 Juni 2011.


Selasa, 01 April 2014

Memaksimalkan Potensi diri

 Mindset: How you can fulfill your potential 
 
Banyak orangtua akan memberikan sanjungan ketika anaknya berprestasi, misalnya ketika anak meraih nilai ujian yang bagus.“Wow Kakak dapat nilai bagus, pintarnya anak mama.” Sanjungan seperti ini diharapkan akan memotivasi anak tersebut agar mendapatkan nilai-nilai ujian yang baik lagi di masa depan. Tapi ternyata, sanjungan seperti ini akan merusak pola pikir anak tersebut.

Pada penelitian yang dilakukan oleh Carol Dweck kepada anak-anak Sekolah Dasar (SD). Penelitian ini dimulai dengan memberikan tes teka-teki yang cukup mudah kepada semua anak. Setelah tes dilakukan, peneliti memberitahu semua anak tentang nilai mereka. Sebagian anak disanjung karena kepintarannya (“Kamu pintar di bidang ini, nilai kamu bagus.”), dan sebagian yang lain disanjung karena usahanya (“Kamu mengerjakannya dengan sungguh-sungguh, nilai kamu bagus.”).

Ternyata anak-anak yang disanjung kepintarannya akan membuat mereka senang pada saat diberikan sanjungan, tetapi mereka mendapatkan beberapa efek negatif. Sebaliknya, anak-anak yang disanjung atas usahanya mendapatkan beberapa efek positif.


Efek pertama, ketika anak-anak disanjung kepintarannya, mereka menjadi sangat ingin terlihat pintar yang akibatnya membuat mereka enggan mengerjakan soal yang agak susah. Kebanyakan dari mereka lebih memilih soal yang mudah daripada soal yang agak susah, walaupun pada soal yang agak susah tersebut mereka bisa belajar sesuatu. Sebaliknya, anak-anak yang disanjung karena usahanya, 90 persen dari mereka ingin mengerjakan soal yang agak susah.

Efek ke-2, pada tes ke-2 semua anak diberi soal yang sangat susah, yang membuat hampir semua anak tidak bisa mengerjakan. Anak-anak yang disanjung kepintarannya merasa menjadi anak bodoh. Karena sanjungan “Kamu pintar di bidang ini, nilai kamu bagus.” Memiliki arti tersirat, bahwa kamu akan akan dibilang pintar jika bisa mengerjakan soal ini, jika kamu tidak bisa berarti kamu bodoh. Kepercayaan diri anak-anak yang disanjung kepintarannya sangat rapuh, karena kepercayaan diri mereka tergantung hasil yang mereka dapat.

Sebaliknya, anak-anak yang disanjung karena usahanya memiliki pemikiran bahwa kegagalan mereka mengerjakan soal bukan berarti mereka bodoh, tetapi merupakan pertanda bahwa diperlukan ketekunan yang lebih, karena mereka memiliki pemikiran bahwa soal yang lebih susah memerlukan ketekunan yang lebih lagi. pola pikir mereka ini terbentuk karena sanjungan yang diberikan: “Kamu mengerjakannya dengan sungguh-sungguh, nilai kamu bagus.” Sanjungan ini memiliki arti tersirat bahwa ketekunan adalah kunci untuk mendapatkan nilai yang bagus.

Efek ke-3, anak-anak yang disanjung karena kepintarannya berkata bahwa mereka tidak lagi suka mengerjakan soal yang susah tersebut, dan tidak ingin menyelesaikan soal yang susah tersebut di rumah. Kegagalan mereka mengerjakan soal yang sangat susah membuat mereka tidak ingin lagi berlatih mengerjakan soal tersebut. Berbeda dengan anak-anak yang disanjung karena usahanya. Mereka menikmati mengerjakan soal yang susah tersebut dan ingin menyelesaikan soal tersebut di rumah.

Efek ke-4, pada tes ke-3 anak-anak diberikan soal yang memiliki tingkat kesusahan sama dengan soal pertama. Nilai anak-anak yang disanjung karena kepintarannya menurun sebesar 20 persen dibandingkan hasil tes pertama mereka. Sedangkan nilai anak-anak yang disanjung atas usahanya meningkat sebesar 30 persen dibandingkan hasil tes pertama mereka.

Efek ke-5, ketika semua anak diminta untuk menuliskan hasil tes mereka untuk diperlihatkan kepada anak lain yang tidak mereka kenal. 40 persen anak-anak yang disanjung kepintarannya berbohong tentang nilai mereka, Mereka menaikkan nilai mereka. Tetapi hanya sebagian kecil anak-anak yang disanjung karena usahanya berbohong tentang hasil mereka. Ini memiliki arti bahwa anak-anak yang disanjung karena kepintarannya menjadi sangat peduli dengan hasil, sehingga malu jika mereka gagal atau mendapatkan nilai yang kurang bagus. Mereka menjadi tidak dapat memberitahukan nilai asli mereka bahkan kepada anak lain yang mereka tidak kenal.


Mengapa 5 efek ini terjadi? Ketika kita memberikan sanjungan kita membentuk pola pikir seorang anak. Sanjungan untuk kepintarannya membentuk pola pikir Fixed-mindset. Sanjungan yang membentuk pola pikir Fixed-mindset memiliki pesan tersirat: “Kamu memiliki kemampuan yang merupakan bawaan dari lahir, dan saya akan menilai kemampuan tersebut.” Anak-anak yang pola pikirnya Fixed-mindset memiliki keyakinan bahwa kemampuan/inteligensi seseorang itu adalah bawaan dari lahir, jadi tidak bisa diubah. Pola pikir Fixed-mindset akan membuat seorang anak menghakimi dirinya sendiri: “Ini artinya saya bodoh”, ”Ini artinya saya pintar”, “Ini artinya saya lebih baik dari dia” dll

Sedangkan sanjungan atas usahanya membentuk pola pikir Growth-mindset. Sanjungan yang membentuk pola pikir Growth-mindset memiliki pesan tersirat: “Kamu seseorang yang sedang berkembang, dan saya tertarik dengan perkembanganmu.” Anak-anak yang pola pikirnya Growth-mindset memiliki keyakinan bahwa kemampuan/inteligensi seseorang itu bisa dikembangkan dengan ketekunan.


Inilah yang membuat anak-anak yang disanjung kepintarannya merasa takut untuk mengerjakan soal yang agak susah dan tidak bisa menerima kegagalan (soal yang agak susah beresiko kegagalan, dan kegagalan artinya saya bodoh). Sedangkan anak-anak yang disanjung karena usahanya, membentuk mereka menjadi anak yang suka belajar, ingin mengerjakan soal yang agak susah karena ada yang bisa dipelajari untuk berkembang, dan bisa menerima kegagalan karena kegagalan memiliki arti bahwa diperlukan usaha lebih untuk menyelesaikannya.


Contoh sanjungan yang membentuk pola pikir Fixed-mindset:
  • Sanjungan: "Kamu belajar cepat sekali! Kamu sangat pintar!"
  • Pesan tersirat: “jika kamu lambat belajar sesuatu, kamu anak yang bodoh. Dan saya akan menilai inteligensi kamu.”

  • Sanjungan: "Kamu sangat jenius, tanpa belajar kamu mendapatkan nilai A!
  • Pesan tersirat: “Seorang jenius adalah seseorang yang tanpa belajar bisa mendapatkan nilai A. Jika saya ingin disebut jenius, maka ketika ujian saya harus dapat A tanpa belajar”


Contoh sanjungan yang membentuk pola pikir Growth-mindset:
  • Sanjungan: "Maaf, sepertinya soal ini terlalu mudah untukmu. Mari kita cari soal yang agak susah agar kamu belajar sesuatu.
  • Pesan tersirat: “Yang terpenting adalah ada sesuatu yang bisa kamu pelajari ketika menyelesaikan suatu soal. Dan soal yang terlalu mudah untukmu tidak membuat kamu belajar sesuatu darinya”

  • Sanjungan: "Wow karya yang bagus, kamu pasti bekerja keras membuatnya
  • Pesan tersirat: “Bahwa diperlukan usaha lebih untuk menghasilkan karya yang bagus"


Jadi sanjungan yang baik untuk anak-anak adalah sanjungan pada prosesnya belajarnya (usahanya, strateginya, idenya, perkembangannya), bukan kepintarannya (kemampuannya, keahliannya, talentanya, hasilnya, orangnya).

Sanjungan yang baik adalah sanjungan yang terdapat minimal salah satu dari dua hal ini:
  • Yang terdapat pesan tersirat bahwa kemampuan (baik itu inteligensi atau talenta) bisa dikembangkan.
  • Yang terdapat pesan tersirat bahwa diperlukan usaha lebih atau ketekunan untuk meningkatkan kemampuan (baik itu inteligensi atau talenta)


link download artikel yang menyatakan inteligensi dapat dikembangkan http://www.brainology.us/websitemedia/youcangrowyourintelligence.pdf
 
Artikel ini disalin dari  www.bukuzu.com

Senin, 31 Maret 2014

Kekuatan untuk Mengubah apapun

 Influencer : The Power to change anything

Seringkali kita ingin agar suatu perubahan itu terjadi, dan ketika perubahan yang diharapkan tidak juga kunjung datang, kita sering berpikir bahwa motivasi orang-orang untuk melakukan perubahan itu kurang. Padahal mungkin orang-orang tersebut ingin berubah, tetapi mereka tidak memiliki kemampuan yang diperlukan agar proses perubahan bisa dilaksanakan.

Perubahan itu membutuhkan 2 hal yang bersumber dari 6 hal, yaitu:
1) Terdapat motivasi/keinginan untuk berubah. Motivasi bersumber dari 3 hal. Motivasi dari dalam diri sendiri, motivasi dari orang lain, motivasi dari reward dan punishment.

2) Memiliki kemampuan yang dibutuhkan agar proses perubahan dapat dilaksanakan. Kemampuan seseorang untuk melakukan perubahan bisa ditingkatkan dari 3 sumber. Meningkatan kemampuan diri sendiri, bantuan dari orang lain, serta sarana dan prasarana yang mendukung.

Misalnya: Ada mahasiswa yang mendapatkan nilai D untuk mata kuliah tertentu. Mahasiswa tersebut mengulang mata pelajaran tersebut di semester berikutnya.
a) Situasi pertama: Mahasiswa tersebut tidak juga mengerti mata pelajaran tersebut (tidak mampu), walaupun telah mengulang. Walaupun mahasiswa tersebut termotivasi untuk belajar dengan begadang sampai jam 4 pagi untuk persiapan ujian, kemungkinan besar dia akan mendapatkan hasil yang tidak memuaskan.

b) Situasi kedua: Mahasiswa tersebut mengerti mata pelajaran yang diulang (mampu). Tetapi mahasiswa tersebut malas (tidak termotivasi) belajar untuk persiapan ujian, kemungkinan besar dia akan mendapatkan hasil yang tidak memuaskan.

Perubahan memerlukan 2 kata: mau dan mampu.



3 sumber motivasi untuk perubahan:

1) Motivasi dari dalam diri sendiri. Bagaimana caranya agar dapat membantu orang lain memiliki motivasi dari dalam dirinya sendiri. Sehingga orang tersebut senang melakukan kegiatan yang baik, dan benci melakukan kegiatan yang buruk.

     a) Kepada orang yang berpikiran bahwa suatu kegiatan yang baik itu tidak menyenangkan, minta mereka mencoba melakukan kegiatan tersebut. Kadang informasi yang mereka dapatkan tentang kegiatan tersebut tidak valid, sehingga mereka sudah memvonis bahwa kegiatan tersebut tidak menyenangkan.

     b) Buat kegiatan tersebut menjadi sebuah game/permainan. Dengan menjadikan kegiatan tersebut sebuah permainan, seseorang bisa larut dalam kesenangan ketika kegiatan tersebut. Untuk membuat orang larut dalam kegiatan, bisa dibaca artikel Flow: The psychology of optimal experience.

     c) Untuk kegiatan baik yang memang tidak menyenangkan untuk dilakukan, dan susah dibuat menjadi permainan. Maka cara agar orang lain tersebut termotivasi adalah dengan membuatnya sadar bahwa kegiatan ini sesuai dengan nilai-nilai baik yang dipegang oleh orang tersebut. Atau membuat mereka sadar bahwa kegiatan yang baik tersebut akan membuat mereka mencapai impian mereka atau mendekatkan mereka dengan impian mereka.

   Motivasi terbesar untuk perubahan adalah motivasi dari dalam diri sendiri. Dan motivasi terbesar yang bisa dimunculkan dari dalam diri sendiri adalah motivasi yang dihubungkan dengan nilai-nilai yang dipegang oleh orang tersebut.  


2) Motivasi perubahan juga bisa berasal dari orang lain. Hal ini terjadi jika orang lain memotivasi untuk melakukan kegiatan yang baik, dan mewanti-wanti kita ketika melakukan kegiatan yang tidak baik.

   Tokoh masyarakat adalah pemberi motivasi terkuat untuk perubahan pada orang lain. Ciri-ciri tokoh masyarakat yang pendapatnya akan banyak didengar dan memotivasi orang lain untuk melakukan perubahan adalah:
     a) Tokoh masyarakat ini memiliki keahlian di bidang yang sedang dibahas.
     b) Tokoh masyarakat ini mendahului kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi atau golongan.
     c) Tokoh masyarakat ini meluangkan waktu yang banyak untuk bersosialisasi dengan masyarakat.


3) Motivasi perubahan yang berasal dari konsep reward dan punishment. Buatlah konsep reward dan punishment yang memotivasi perubahan. Sumber motivasi ini sebaiknya diberikan setelah orang tersebut memiliki motivasi dari dalam dirinya sendiri. Karena jika tidak, maka orang tersebut akan bergerak hanya jika terdapat insentif.


3 Hal yang bisa meningkatkan kemampuan seseorang untuk melakukan perubahan:

1) Meningkatkan kemampuan diri sendiri. Kembangkan kemampuan Anda agar Anda memiliki kemampuan yang dibutuhkan untuk terlaksananya perubahan. Kuncinya adalah berlatih, berlatih, dan berlatih.


2) Penambahan kemampuan yang didapatkan dari bantuan teman/komunitas. Jika suatu kelompok memiliki 4 ciri, maka kelompok tersebut akan memiliki kepintaran yang tinggi. 4 ciri pada suatu kelompok yang membuat kelompok ini memiliki kepintaran bisa dibaca pada artikel The Wisdom of Crowds: Why the many are smarter than the few.

Kapankah kita sangat membutuhkan bantuan orang lain/komunitas untuk melakukan perubahan:
     a) Ketika orang lain/komunitas termasuk bagian yang membuat terbentuknya budaya hidup yang tidak baik.
     b) Ketika Individu tidak bisa sukses melakukan perubahan jika hanya dia sendiri yang melakukannya.


3) Sarana dan prasarana yang mendukung.
     a) Apakah sarana dan prasarana yang ada disekitar kita mendukung perubahan yang ingin kita lakukan. Misalnya: Jika kita ingin mengurangi berat badan kita, kita dapat mengubah ukuran piring menjadi lebih kecil. Biasanya orang akan merasa kenyang ketika nasi di piring telah habis.

   b) Apakah sarana dan prasarana memudahkan seseorang melakukan tindakan yang baik, dan menyusahkannya untuk melakukan tindakan yang tidak baik. Misalnya, toples yang berisi permen akan lebih jarang di makan anak-anak jika di tempatkan di atas rak, dibandikan jika ditaruh di atas meja. Seseorang akan lebih sering berolahraga jika alat olahraganya ditaruh di kamarnya, dibanding jika ditaruh di dalam gudang.

(sumber : http://www.bukuzu.com/

Rabu, 10 November 2010

Psikologi pembelajaran

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Belajar merupakan proses yang terus menerus, sehingga setiap saat manusia diwajibkan untuk senantiasa belajar. Bahkan disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa setiap muslim diwajibkan mencari ilmu dari ayunan hingga liang kubur.
B. MAKSUD DAN TUJUAN
Dalam penulisan makalah ini, kami memiliki maksud dan tujuan antara lain sebagai berikut:
1. Mengetahui permasalahan yang ada
2. Memaparkan usaha-usaha mengatasi permasalahan
3. Menumbuhkan kesadaran bagi kita untuk ikut berpartisipasi mengatasi masalah.
C. SASARAN
Sasaran utama makalah ini adalah setiap manusia yang memiliki perasaan yang tidak baik pada umumnya dan semua manusia pada umumnya.
D. PERMASALAHAN
Makalah ini diangkat karena pada setiap manusia terdapat perasaan-perasaan yang terkadang mengganggu dan meresahkan kehidupan.
E. METODE PEMBAHASAN
Dalam membahas masalah-masalah yang ada dan upaya pemecahannya kami perincikan makalah ini menjadi 3 (tiga) bab dan dibagi menjadi sub-bab yakni:
Pada BAB I PENDAHULUAN berisi Latar Belakang yang menjelaskan mengapa makalah ini dibuat. Maksud dan Tujuan yang menguraikan maksud pembuatan  makalah dan tujuannya. Sasaran menjelaskan siapa yang menjadi obyek pembuatan makalah. Permasalahan menguraikan masalah yang akan dibahas pada bab selanjutnya. Kemudian bagian terakhir pada bab ini adalah Metode Pembahasan yang menjelaskan bagaimana alur makalah ini.
Pada BAB II ANALISA PERMASALAHAN berisi Pengantar Analisa dan Analisa Permasalahan itu sendiri. Pada Pengantar Analisa berisikan pengantar penulis tentang masalah yang akan diuraikan. Kemudian dalam Analisa Permasalahan menguraikan masalah-masalah yang ada dan merupakan jawaban dari permasalahan yang muncul dalam Permasalahan pada bab sebelumnya.
BAB III yang merupakan bab terakhir merupakan PENUTUP yang berisi Kesimpulan. Kesimpulan berisi inti makalah yang dipaparkan oleh penulis.

BAB II
PEMBAHASAN MASALAH
A.     Pendahuluan
Psikologi pendidikan adalah studi yang sistematis terhadap proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan. Sedangkan pendidikan adalah proses pertumbuhan yang berlangsung melalui tindakan-tindakan belajar (Whiterington, 1982:10). Dari batasan di atas terlihat adanya kaitan yang sangat kuat antara psikologi pendidikan dengan tindakan belajar. Karena itu, tidak mengherankan apabila beberapa ahli psikologi pendidikan menyebutkan bahwa lapangan utama studi psikologi pendidikan adalah soal belajar. Dengan kata lain, psikologi pendidikan memusatkan perhatian pada persoalan-persoalan yang berkenaan dengan proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan belajar.
Karena konsentrasinya pada persoalan belajar, yakni persoalan-persoalan yang senantiasa melekat pada subjek didik, maka konsumen utama psikologi pendidikan ini pada umumnya adalah pada pendidik. Mereka memang dituntut untuk menguasai bidang ilmu ini agar mereka, dalam menjalankan fungsinya, dapat menciptakan kondisi-kondisi yang memiliki daya dorong yang besar terhadap berlangsungnya tindakan-tindakan belajar secara efektif.

B.     Mendorong Tindakan Belajar
             Pada umumnya orang beranggapan bahwa pendidik adalah sosok yang memiliki sejumlah besar pengetahuan tertentu, dan berkewajiban menyebarluaskannya kepada orang lain. Demikian juga, subjek didik sering dipersepsikan sebagai sosok yang bertugas mengkonsumsi informasi-informasi dan pengetahuan yang disampaikan pendidik. Semakin banyak informasi pengetahuan yang mereka serap atau simpan semakin baik nilai yang mereka peroleh, dan akan semakin besar pula pengakuan yag mereka dapatkan sebagai individu terdidik.
Anggapan-anggapan seperti ini, meskipun sudah berusia cukup tua, tidak dapat dipertahankan lagi. Fungsi pendidik menjejalkan informasi pengetahuan sebanyak-banyakya kepada subjek didik dan fungsi subjek didik menyerap dan mengingat-ingat keseluruhan  informasi itu, semakin tidak relevan lagi mengingat bahwa pengetahuan itu sendiri adalah sesuatu yang dinamis dan tidak terbatas. Dengan kata lain, pengetahuan-pengetahuan (yang dalam perasaan dan pikiran manusia dapat dihimpun) hanya bersifat sementara dan berubah-ubah, tidak mutlak (Goble, 1987 : 46). Gugus pengetahuan yang dikuasai dan disebarluaskan saat ini, secara relatif, mungkin hanya berfungsi untuk saat ini, dan tidak untuk masa lima hingga sepuluh tahun ke depan. Karena itu, tidak banyak artinya menjejalkan informasi pengetahuan kepada subjek didik, apalagi bila hal itu terlepas dari konteks pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari.
Namun demikian bukan berarti fungsi traidisional pendidik untuk menyebarkan informasi pengetahuan harus dipupuskan sama sekali. Fungsi ini, dalam batas-batas tertentu, perlu dipertahankan, tetapi harus dikombinasikan dengan fungsi-fungsi sosial yang lebih luas, yakni membantu subjek didik untuk memadukan informasi-informasi yang terpecah-pecah dan tersebar ke dalam satu falsafah yang utuh. Dengan kata lain dapat diungkapkan bahwa menjadi seorang pendidik dewasa ini berarti juga menjadi “penengah” di dalam perjumpaan antara subjek didik dengan himpunan informasi faktual yang setiap hari mengepung kehidupan mereka.
Sebagai penengah, pendidik harus mengetahui dimana letak sumber-sumber informasi pengetahuan tertentu dan mengatur mekanisme perolehannya apabila sewaktu-waktu diperlukan oleh subjek didik.Dengan perolehan informasi pengetahuan tersebut, pendidik membantu subjek didik untuk mengembangkan kemampuannya mereaksi dunia sekitarnya. Pada momentum inilah tindakan belajar dalam pengertian yang sesungguhya terjadi, yakni ketika subjek didik belajar mengkaji kemampuannya secara realistis dan menerapkannya untuk mencapai kebutuhan-kebutuhannya.
Dari deskripsi di atas terlihat bahwa indikator dari satu tindakan belajar yang berhasil adalah : bila subjek didik telah mengembangkan kemampuannya sendiri. Lebih jauh lagi, bila subjek didik berhasil menemukan dirinya sendiri ; menjadi dirinya sendiri. Faure (1972) menyebutnya sebagai “learning to be”.
Adalah tugas pendidik untuk menciptakan kondisi yang kondusif bagi berlangsungnya tindakan belajar secara efektif. Kondisi yang kondusif itu tentu lebih dari sekedar memberikan penjelasan tentang hal-hal yang termuat di dalam buku teks, melainkan mendorong, memberikan inspirasi, memberikan motif-motif dan membantu subjek didik dalam upaya mereka mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan (Whiteherington, 1982:77). Inilah fungsi motivator, inspirator dan fasilitator dari seorang pendidik.

C.     Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses dan Hasil Belajar
Agar fungsi pendidik sebagai motivator, inspirator dan fasilitator dapat dilakonkan dengan baik, maka pendidik perlu memahami faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar subjek didik. Faktor-faktor itu lazim dikelompokkan atas dua bahagian, masing-masing faktor fisiologis dan faktor psikologis (Depdikbud, 1985 :11).
1.   Faktor Fisiologis
Faktor-faktor fisiologis ini mencakup faktor material pembelajaran, faktor lingkungan, faktor instrumental dan faktor kondisi individual subjek didik.Material pembelajaran turut menentukan bagaimana proses dan hasil belajar yang akan dicapai subjek didik. Karena itu, penting bagi pendidik untuk mempertimbangkan kesesuaian material pembelajaran dengan tingkat kemampuan subjek didik ; juga melakukan gradasi material pembelajaran dari tingkat yang paling sederhana ke tingkat lebih kompeks.
Faktor lingkungan, yang meliputi lingkungan alam dan lingkungan sosial, juga perlu mendapat perhatian. Belajar dalam kondisi alam yang segar selalu lebih efektif dari pada sebaliknya. Demikian pula, belajar padapagi hari selalu memberikan hasil yang lebih baik dari pada sore hari. Sementara itu, lingkungan sosial yang hiruk pikuk, terlalu ramai, juga kurang kondisif bagi proses dan pencapaian hasil belajar yang optimal.
Yang tak kalah pentingnya untuk dipahami adalah faktor-faktor instrumental, baik yang tergolong perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software). Perangkat keras seperti perlangkapan belajar, alat praktikum, buku teks dan sebagainya sangat berperan sebagai sarana pencapaian tujuan belajar. Karenanya, pendidik harus memahami dan mampu mendayagunakan faktor-faktor instrumental ini seoptimal mungkin demi efektifitas pencapaian tujuan-tujuan belajar.
Faktor fisiologis lainnya yang berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar adalah kondisi individual subjek didik sendiri. Termasuk ke dalam faktor ini adalah kesegaran jasmani dan kesehatan indra. Subjek didik yang berada dalam kondisi jasmani yang kurang segar tidak akan memiliki kesiapan yang memadai untuk memulai tindakan belajar.
2.   Faktor Psikologis
     Faktor-faktor psikologis yang berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar      
     jumlahnya banyak sekali, dan masing-masingnya tidak dapat dibahas secara
     terpisah.
Perilaku individu, termasuk perilaku belajar, merupakan totalitas penghayatan dan aktivitas yang lahir sebagai hasil akhir saling pengaruh antara berbagai gejala, seperti perhatian, pengamatan, ingatan, pikiran dan motif.
2.1.   Perhatian
Tentulah dapat diterima bahwa subjek didik yang memberikan perhatian intensif dalam belajar akan memetik hasil yang lebih baik. Perhatian intensif ditandai oleh besarnya kesadaran yang menyertai aktivitas belajar. Perhatian intensif subjek didik ini dapat dieksloatasi sedemikian rupa melalui strategi pembelajaran tertentu, seperti menyediakan material pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan subjek didik, menyajikan material pembelajaran dengan teknik-teknik yang bervariasi dan kreatif, seperti bermain peran (role playing), debat dan sebagainya.
Strategi pemebelajaran seperti ini juga dapat memancing perhatian yang spontan dari subjek didik. Perhatian yang spontan dimaksudkan adalah perhatian yang tidak disengaja, alamiah, yang muncul dari dorongan-dorongan instingtif untuk mengetahui sesuatu, seperti kecendrungan untuk mengetahui apa yang terjadi di sebalik keributan di samping rumah, dan lain-lain. Beberapa hasil penelitian psikologi menunjukkan bahwa perhatian spontan cendrung menghasilkan ingatan yang lebih lama dan intensif dari pada perhatian yang disengaja.
2.2.  Pengamatan
Pengamatan adalah cara pengenalan dunia oleh subjek didik melalui penglihatan, pendengaran, perabaan, pembauan dan pengecapan. Pengamatan merupakan gerbang bai masuknya pengaruh dari luar ke dalam individu subjek didik, dan karena itu pengamatan penting artinya bagi pembelajaran.
Untuk kepentingan pengaturan proses pembelajaran, para pendidik perlu memahami keseluruhan modalitas pengamatan tersebut, dan menetapkan secara analitis manakah di antara unsur-unsur modalitas pengamatan itu yang paling dominan peranannya dalam proses belajar. Kalangan psikologi tampaknya menyepakati bahwa unsur lainnya dalam proses belajar. Dengan kata lain, perolehan informasi pengetahuan oleh subjek didik lebih banyak dilakukan melalui penglihatan dan pendengaran.
Jika demikian, para pendidik perlu mempertimbangkan penampilan alat-alat peraga di dalam penyajian material pembelajaran yang dapat merangsang optimalisasi daya penglihatan dan pendengaran subjek didik. Alat peraga yang dapat digunakan, umpamanya ; bagan, chart, rekaman, slide dan sebagainya.
2.3.  Ingatan
Secara teoritis, ada 3 aspek yang berkaitan dengan berfungsinya ingatan, yakni (1) menerima  kesan, (2) menyimpan kesan, dan (3) memproduksi kesan. Mungkin karena fungsi-fungsi inilah, istilah “ingatan” selalu didefinisikan sebagai kecakapan untuk menerima, menyimpan dan mereproduksi kesan.
Kecakapan merima kesan sangat sentral peranannya dalam belajar. Melalui kecakapan inilah, subjek didik mampu mengingat hal-hal yang dipelajarinya.
Dalam konteks pembelajaran, kecakapan ini dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, di antaranya teknik pembelajaran yang digunakan pendidik. Teknik pembelajaran yang disertai dengan penampilan bagan, ikhtisar dan sebagainya kesannya akan lebih dalam pada subjek didik. Di samping itu, pengembangan teknik pembelajaran yang mendayagunakan “titian ingatan” juga lebih mengesankan bagi subjek didik, terutama untuk material pembelajaran berupa rumus-rumus atau urutan-urutan lambang tertentu. Contoh kasus yang menarik adalah mengingat nama-nama kunci nada g (gudeg), d (dan), a (ayam), b (bebek) dan sebagainya.
Hal lain dari ingatan adalah kemampuan menyimpan kesan atau mengingat. Kemampuan ini tidak sama kualitasnya pada setiap subjek didik. Namun demikian, ada hal yang umum terjadi pada siapapun juga : bahwa segera setelah seseorang selesai melakukan tindakan belajar, proses melupakan akan terjadi. Hal-hal yang dilupakan pada awalnya berakumulasi dengan cepat, lalu kemudian berlangsung semakin lamban, dan akhirnya sebagian hal akan tersisa dan tersimpan dalam ingatan untuk waktu yang relatif lama.
Untuk mencapai proporsi yang memadai untuk diingat, menurut kalangan psikolog pendidikan, subjek didik harus mengulang-ulang hal yang dipelajari dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. Implikasi pandangan ini dalam proses pembelajaran sedemikian rupa sehingga memungkinkan bagi subjek didik untuk mengulang atau mengingat kembali material pembelajaran yang telah dipelajarinya. Hal ini, misalnya, dapat dilakukan melalui pemberian tes setelah satu submaterial pembelajaran selesai.
Kemampuan resroduksi, yakni pengaktifan atau prosesproduksi ulang hal-hal yang telah dipelajari, tidak kalah menariknya untuk diperhatikan. Bagaimanapun, hal-hal yang telah dipelajari, suatu saat, harus diproduksi untuk memenuhi kebutuhan tertentu subjek didik, misalnya kebutuhan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam ujian ; atau untuk merespons tantangan-tangan dunia sekitar.
Pendidik dapat mempertajam kemampuan subjek didik dalam hal ini melalui pemberian tugas-tugas mengikhtisarkan material pembelajaran yang telah diberikan.
2.4.  Berfikir
Definisi yang paling umum dari berfikir adalah berkembangnya ide dan konsep (Bochenski, dalam Suriasumantri (ed), 1983:52) di dalam diri seseorang. Perkembangan ide dan konsep ini berlangsung melalui proses penjalinan hubungan antara bagian-bagian informasi yang tersimpan di dalam didi seseorang yang berupa pengertian-perngertian. Dari gambaran ini dapat dilihat bahwa berfikir pada dasarnya adalah proses psikologis dengan tahapan-tahapan berikut : (1) pembentukan pengertian, (2) penjalinan pengertian-pengertian, dan (3) penarikan kesimpulan.
Kemampuan berfikir pada manusia alamiah sifatnya. Manusia yang lahir dalam keadaan normal akan dengan sendirinya memiliki kemampuan ini dengan tingkat yang reletif berbeda. Jika demikian, yang perlu diupayakan dalam proses pembelajaran adalah mengembangkan kemampuan ini, dan bukannya melemahkannya. Para pendidik yang memiliki kecendrungan untuk memberikan penjelasan yang “selengkapnya” tentang satu material pembelajaran akan cendrung melemahkan kemampuan subjek didik untuk berfikir. Sebaliknya, para pendidik yang lebih memusatkan pembelajarannya pada pemberian pengertian-pengertian atau konsep-konsep kunci yang fungsional akan mendorong subjek didiknya mengembangkan kemampuan berfikir mereka. Pembelajaran seperti ni akan menghadirkan tentangan psikologi bagi subjek didik untuk merumuskan kesimpulan-kesimpulannya secara mandiri.
2.5.  Motif
Motif adalah keadaan dalam diri subjek didik yang mendorongnya untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu. Motif boleh jadi timbul dari rangsangan luar, seperti pemberian hadiah bila seseorang dapat menyelesaikan satu tugas dengan baik. Motif semacam ini sering disebut motif ekstrensik. Tetapi tidak jarang pula motif tumbuh di dalam diri subjek didik sendiri yang disebut motif intrinsik. Misalnya, seorang subjek didik gemar membaca karena dia memang ingin mengetahui lebih dalam tentang sesuatu.
Dalam konteks belajar, motif intrinsik tentu selalu lebih baik, dan biasanya berjangka panjang. Tetapi dalam keadaan motif intrinsik tidak cukup potensial pada subjek didik, pendidik perlu menyiasati hadirnya motif-motif ekstrinsik. Motif ini, umpamanya, bisa dihadirkan melalui penciptaan suasana kompetitif di antara individu maupun kelompok subjek didik. Suasana ini akan mendorong subjek didik untuk berjuang atau berlomba melebihi yang lain.Namun demikian, pendidik harus memonitor suasana ini secara ketat agar tidak mengarah kepada hal-hal yang negatif.
Motif ekstrinsik bisa juga dihadirkan melalui siasat “self competition”, yakni menghadirkan grafik prestasi individual subjek didik.Melalui grafik ini, setiap subjek didik dapat melihat kemajuan-kemajuannya sendiri. Dan sekaligus membandingkannya dengan kemajuan yang dicapai teman-temannya.Dengan melihat grafik ini, subjek didik akan terdorong untuk meningkatkan prestasinya supaya tidak berada di bawah prestasi orang lain.

BAB III
PENUTUP
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi minat belajar siswa di antaranya:
1. Fisiologis
2. Psikologis
a. Perhatian
b. Pengamatan
c. Ingatan
d. Berfikir
e. Motif